
Tokyo, pukul 10 pagi di kediaman Nara...
Menjelang siang Hima dan Shena duduk bercengkrama di ruang TV. Keduanya sambil memetik sayuran untuk di masak siang ini. Mereka pun saling bertukar cerita hingga akhirnya Hima mengabarkan sesuatu kepada Shena.
"Aku meminta bantuan Ryuuto agar mengizinkanku untuk masuk pagi, Shena." Hima mengawali.
"Maksudmu?" Shena tampak bingung.
"Iya. Aku meminta kepadanya agar jam kerjaku dipindahkan ke pagi," tutur Hima lagi.
Keduanya tengah duduk mengenakan baju terusan sebatas lutut. Hima mengenakan warna biru, sedang Shena mengenakan warna krim. Mereka tampak anggun dengan aura keibuan yang pekat.
"Hima, kau tidak perlu mencemaskan keadaanku. Aku bisa menjaga diri, kok." Shena tidak ingin merepotkan Hima.
"Shena, belum ada sebulan kau tersadar dari koma. Aku khawatir jika tidak ada yang menjagamu di sini, terlebih Nara mempunyai kesibukan tak terduga. Dia bisa saja manggung tidak pada saatnya." Hima mencemaskan keadaan Shena.
"Hm, baiklah. Aku senang jika kau menemani. Tapi apakah pihak kantor tidak keberatan?" tanya Shena lagi.
__ADS_1
"Ryuuto akan mengambil alih kantor. Jadi sepertinya tidak ada masalah, Shena." Hima menerangkan sambil memetik bayam.
"Ryuuto akan memimpin kantor maksudmu?" Shena ingin tahu.
"He-em." Hima mengangguk. "Ryuuto bilang sendiri padaku," kata Hima lagi.
Entah mengapa Shena teringat akan kebersamaannya. Ia tampak sedih mengingat banyaknya bunga mawar yang Ryuuto letakkan di atas meja kerjanya. Air matanya terlihat mulai menggenang.
"Shena?"
"Hima, kau adalah saksi hidup antara kami. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Shena seraya menoleh ke Hima.
"Ryuuto baik-baik saja, Shena. Kau tidak perlu mencemaskannya. Dia juga sekarang lebih sering lembur di kantor. Mungkin pekerjaannya amat banyak." Hima menceritakan.
"Syukurlah. Aku berharap dia akan selalu bahagia walaupun tidak bersamaku." Shena mengusap wajahnya.
Shena ....
__ADS_1
Hima ikut sedih dengan apa yang Shena katakan. Ia tahu benar bagaimana perasaan Ryuuto kepada Shena, namun ternyata Shena lebih memilih Nara. Hima berharap keduanya bisa menemukan jalan terbaik untuk ke depannya.
Aku tidak tahu apakah Shena sudah mengetahui jika Ryuuto sedang dekat dengan sepupunya atau tidak. Tapi semoga saja mereka saling merelakan dan tidak ada rasa dendam.
Hima berharap.
"Sudah, jangan bersedih. Sekarang mari kita masak sayur ini." Hima mengalihkan perhatian.
"He-em."
Shena pun mengangguk. Keduanya membawa sayuran yang telah dipetik menuju dapur. Hari ini dan seterusnya Hima akan menemani Shena di rumah, selama Nara tidak ada. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Shena pasca koma kemarin. Karena Hima sudah menganggap Shena sebagai sahabatnya sendiri.
Semenjak siuman dari koma, hati Shena menjadi lebih perasa dan ia mudah menangis. Untung saja ada teman terdekat yang menghiburnya. Jika tidak, mungkin Shena akan terlarut dalam kesedihannya.
Hima sendiri meminta pindah jam kerja kepada Ryuuto, yang mana sekarang ia berangkat pagi dan pulang di akhir siang. Sehingga bisa menemani Shena di rumah, karena jam manggung Nara yang tidak bisa diprediksi. Apalagi D'Justice sedang naik daun sekarang, pastinya jadwal band asuhan Sony Music itu begitu padatnya.
Lain Shena, lain juga dengan Nara. Sang pemuda bermata biru ini tampak keluar dari ruang dosennya bersama Kazuo, teman satu fakultasnya.
__ADS_1