Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Perangkap


__ADS_3

"Ak-aku ...." Rie berusaha mengatakan.


"Cepat!" Yudo memutar ruang peluru di pistolnya lalu mengarahkan ke kepala Rie.


"Ak-aku ... sebenarnya aku hanya memanfaatkan Nara," ucap Rie terbata.


"Apa?!" Nara terkejut mendengarnya.


Tak lama, salah satu pengawal Yudo membawa Shena dengan keadaan kedua tangan yang terikat ke belakang. Tapi, malam itu ia sangat cantik dalam balutan gaun bak Cinderella. Bergaun putih, bersepatu kaca dengan mahkota kecil di kepalanya.


"Shena!" Nara berusaha mendekati Shena, tapi Yudo segera menembakkan peluru ke arah bawah kakinya.


"Itu peringatan untukmu. Jangan sampai aku kehilangan kesabaran, Nara Shimura!" seru Yudo yang sudah berubah roman wajahnya.


Nara diam tidak berkutik. Ia takut Yudo berbuat sesuatu kepada Shena.


"Lanjutkan, Rie. Lanjutkan pengakuanmu, Sayang." Yudo membelai wajah Rie dengan ujung pistolnya.


Rie takut, tubuhnya gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin. Ia kemudian melanjutkan pengakuannya di hadapan Yudo, Nara dan juga Shena.

__ADS_1


"Aku ... aku hanya ingin balas dendam dengan memperalat Nara," ucap Rie kemudian.


Apa?!!


Bukan main kesalnya hati Nara saat mendengar pengakuan Rie. Selama ini ia sudah habis-habisan untuk memenuhi semua yang Rie pinta padanya. Tapi, malam ini juga Rie membuat pengakuan yang amat menyakiti hatinya. Apalagi Nara sudah mengetahui jika Rie bermain dengan ayah kandungnya sendiri.


"Aku ... aku minta maaf, Nara. Semua ini aku lakukan untuk membalaskan dendam kepada Shena," lanjut Rie dalam kesakitan karena tangan Yudo menarik rambutnya dengan kasar.


"Lalu?" tanya Yudo lagi sambil tersenyum sadis.


"Akupun melakukan hal itu kepada Yudo dengan alasan yang sama," lanjut Rie yang sudah tidak berdaya.


Keadaan terasa semakin menegang. Atmosfer pun berubah amat mencekam.


"Sayang, kau sudah dengar sendiri, bukan? Jika Rie hanya menjebakku untuk membalaskan dendamnya padamu." Yudo bergantian membelai wajah Shena.


"Hentikan! Jangan kau sentuh Shena!" teriak Nara dari tempatnya. Ia tidak ingin Shena disentuh pria manapun.


Mendengar hal itu, Yudo tersenyum ke arah Nara. "Hei, hei! Kita sama-sama seorang pendosa, Nara. Jangan terlalu egois menghaki Shena," ucap Yudo, ia kemudian memberi kode kepada kedua pengawalnya.

__ADS_1


Shena dan Rie lalu dibawa oleh kedua pengawal Yudo menuju suatu tempat. Melihat hal itu, Nara pun berusaha mengejarnya. Tapi, lagi-lagi Yudo menembakkan pistolnya.


"Sial!" Nara pun kesal sendiri. Ia segera mencari cara agar bisa mengejar Shena.


"Sabarlah, Nara. Sudah kubilang, cicipi dahulu hidangan pembuka ini." Yudo kesal karena Nara tidak menurut padanya.


Tiba-tiba pintu gudang itu tertutup sendiri, dan kemudian datanglah banyak orang yang membawa alat pemukul dari sisi kanan dan kiri Yudo.


Melihat hal itu, amarah Nara semakin memuncak. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil menatap tajam ke arah Yudo. Nara marah besar karena ulah Yudo yang berani menjebaknya.


Aku tidak akan membiarkanmu lolos malam ini!


Amarah Nara semakin menjadi-jadi saat terbayang wajah Shena yang memelas kepadanya, seperti sangat membutuhkan pertolongan darinya. Hal itulah yang membuat Nara membulatkan tekadnya untuk membunuh Yudo malam ini.


"Yudo!" Nara geram bukan main.


"Kau datang sendiri, bukan? Jadi nikmatilah permainan ini." Yudo tersenyum licik.


"Tidak! Nara tidak datang sendiri."

__ADS_1


Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah Nara. Nara pun menoleh ke asal suara.


"Ken?!" Nara terkejut saat melihat kedatangan Ken.


__ADS_2