
"Jadi kau itu ... bendahara OSIS waktu aku SMA dulu? Kalau begitu kau sangat menyeramkan, Hana. Kau seperti seorang debt kolektor," ucap Ryuuto kemudian.
Mendengar jawaban dari Ryuuto, Hana menatap Ryuuto yang lebih tinggi sepuluh senti darinya. "Jadi kau sudah mengingatku?" tanya Hana sambil bertolak pinggang.
"Hem, iya," jawab Ryuuto dengan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang karena takut. Mereka kemudian terdiam sejenak dan...
"Hahahahaha..." Tiba-tiba saja mereka tertawa bersama.
"Jadi kau sudah ingat denganku? Hahaha." Hana tetawa renyah saat mengingat masa-masa dirinya menjabat sebagai bendahara OSIS.
"Iya, hahahaha. Kau sungguh menyeramkan saat itu, Hana. Lebih menyeramkan dari seorang debt kolektor. Hahahaha." Ryuuto ikut tertawa sambil memegang kepala dengan tangan kanannya, pertanda tidak mengerti mengapa pertemuan ini harus terjadi.
"Hah, baiklah. Ada urusan apa kau kemari, Ryuuto? Sekedar berkunjung atau ada alasan lain. Atau mungkin ingin bertemu denganku? Hahaha," tanya Hana lagi.
Ryuuto sedikit malu saat Hana berkata seperti itu. "Aku ... aku ingin bertemu Shena. Aku dengar dari Hima bahwa Shena kembali ke sini," jawab Ryuuto kemudian.
"Hima?" Hana tampak bingung.
__ADS_1
"Ya Hima adalah teman sekantor kami, kedatanganku ke sini untuk urusan pekerjaan," lanjut Ryuuto lagi.
"Oh, baiklah." Hana pun mengerti akan maksud Ryuuto berkunjung ke kedai Hime's. "Shena sedang berada di teras belakang. Kau dapat memutar arah untuk menemuinya," ucap Hana kemudian.
"Jadi aku keluar dulu, ya?" tanya Ryuuto pura-pura tidak mengerti.
"Ya, itu benar. Jika ingin menemui Shena, kau harus mendatangi ruang kerjanya. Tapi tidak bisa dari dalam, harus dari luar kedai dan memutar arah," jelas Hana.
"Oh, baiklah," sahut Ryuuto kemudian.
"Baiklah. Terima kasih, Hana." Ryuuto tersenyum kepada Hana.
Hana hanya mengangguk dan terus tersenyum kepada Ryuuto. Ia menjadi geli sendiri kala mengingat masa-masa SMA-nya. Terlebih saat ia menagih uang iuran kepada Ryuuto secara kejam di hadapan siswa lainnya.
"Memang masa-masa SMA itu tidak ada duanya, ya?"
Hana terkekeh geli seraya berjalan kembali ke area kasir. Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Ryuuto di sini.
__ADS_1
"Kau masih seperti dulu, Ryuuto. Tampan dan juga menyebalkan." Hana tersenyum mengingatnya.
Ryuuto adalah seorang pemuda yang pernah menarik perhatian Hana semasa SMA. Dan kini keduanya dipertemukan lagi oleh takdir. Hana tidak bisa berhenti mengingat semua kenangannya bersama Ryuuto. Sedang Ryuuto terus berjalan menuju teras belakang kedai. Ia ingin menemui Shena.
Ryuuto mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan pujaan hati. Tapi sepertinya, hari ini akan sangat berbeda. Ryuuto terlihat bersikap dewasa dan bersahaja, tidak seperti biasanya yang salah tingkah jika akan bertemu dengan Shena.
Semilir angin yang berembus, menemani langkah kakinya menuju keberadaan sang gadis. Deru ombak yang berkejaran pun membulatkan tekadnya untuk segera menyatakan isi hati.
Shena, aku datang ....
...
Lain Ryuuto, lain juga Nara. Pemuda bermata biru itu tampak enggan beranjak dari tempat tidurnya. Kebisingan batu kerikil yang dilemparkan, memaksa dirinya untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ia kemudian beranjak bangun dari tempat tidurnya.
Berisik sekali!
Keadaan hatinya sedang kurang baik. Pikirannya pun kacau-balau. Ia seperti kehilangan arah hidup semenjak melihat kenyataan pahit di depan kedua mata kepalanya sendiri.
__ADS_1