
"Shena, sungguh. Aku tidak ada maksud seperti itu. Aku akui aku salah. Aku telah membuat kesalahan besar dalam hubungan kita. Aku ingin—" ucapan Nara kembali terputus, ia kemudian memegang kedua tangan Shena. "Aku ingin kita kembali seperti dulu. Masa-masa nyaman itu. Di mana kasih sayang membatin di antara kita."
Nara menatap Shena lebih dalam. Rasanya ia ingin memeluk mantan kekasihnya yang pernah mencurahkan kasih sayang sepenuh hati.
"Shena ...." Nara menggenggam erat kedua tangan Shena.
"Dengan mudahnya kau berkata ingin kembali, seperti mudahnya kau mengakhiri hubungan yang sudah terjalin serius di antara kita. Ke mana dirimu saat itu, Nara?! Apa kau datang hanya untuk mengulang kesalahan yang sama?!" Shena menghempaskan tangan Nara dari pergelangan tangannya.
"Shena!”
Nara tahu jika Shena sudah terlanjur sakit hati padanya. Tapi Nara yakin, sisi Shena yang lembut dapat menerimanya kembali.
"Shena, saat itu aku benar-benar tidak dapat mengontrol emosiku, kala melihat piringan rekaman itu terbelah. Aku khilaf berlaku kasar padamu, Shena. Aku tidak tahu mengapa bisa bersikap seperti itu. Tapi yang jelas, satu jam sebelum kedatanganmu, Rie datang bersama seorang temannya. Mereka menumpang sebentar karena saat itu hujan turun."
Nara berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Shena. Gadis itu kemudian membalikkan badannya, membelakangi Nara.
"Jadi kau pikir semua yang terjadi ada hubungannya dengan Rie?" tanya Shena yang mengenal dekat siapa Rie.
__ADS_1
Nara segera mendekati Shena lalu memeluknya dari belakang.
"Shena, aku cemburu. Selama ini aku tidak memberi tahumu jika Rie telah berulang kali mengirim foto-foto kebersamaanmu dengan Yudo. Dia menghasutku jika kau telah berselingkuh dengan tidur bersama Yudo, di saat kita masih menjalin hubungan." Nara memeluk Shena dengan erat.
Entah mengapa, Shena menitikkan air matanya. Terjawab sudah mengapa Nara dapat berlaku kasar terhadapnya. Dan telah diketahui jika memang Rie lah penyebabnya. Rie selalu ingin merebut apa yang Shena punya.
"Shena, aku mohon. Aku mohon ... kembalilah padaku. Temani aku hingga masa tuaku. Kita memulainya kembali dari awal ya, Shena. Kumohon ...."
Pelukan itu semakin lama semakin erat. Shena pun tidak dapat menahan tangisnya lagi.
"Ap-apa?!" Nara tidak menyangka jika Shena telah mempunyai pengganti dirinya.
Tidak mungkin ….
Tiba-tiba saja Nara terpaku, sesaat setelah mendengarkan pernyataan dari Shena. Hatinya terluka, begitu sakit dan perih saat seseorang yang ia cintai ternyata sudah mempunyai pengganti dirinya.
"Shena ...."
__ADS_1
Nara menundukkan wajahnya, ia tidak dapat menahan laju Shena yang terus berlalu meninggalkannya. Sementara Shena, terlihat mengusap air matanya. Ia pun merasakan sakit di hatinya.
Shena terpaksa harus mengatakan hal itu demi kemajuan karir Nara. Karena Shena sadar jika ia tetap bersama Nara, maka Rie akan selalu berusaha merebutnya kembali.
Maafkan aku, Nara. Shena terus berlalu pergi.
Hati Nara hancur. Ia sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi selain meratapi kisahnya.
Dari kejadian itulah, Nara menuliskan sebuah lagu tentang isi hatinya karena telah kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Sebuah lagu jeritan hati yang mampu menghipnotis jutaan pendengarnya.
Satu bulan kemudian...
Lagu ciptaan Nara mampu menghipnotis ratusan ribu pendengar di berbagai televisi dan radio Jepang dalam hitungan minggu. Ditambah kesuksesan Wind yang sangat easy listening, membuat band Nara dan kawan-kawan masuk ke urutan dua puluh besar, tangga lagu terpopuler musim ini.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi Ken, Cherry dan juga Sai. Hanya dalam waktu dua bulan, lagu mereka dapat masuk ke dua puluh besar tangga lagu terpopuler musim ini. Namun, lain dengan Nara, ia masih tampak sedih karena duka yang melanda hatinya. Duka itu disebabkan karena Shena menolak permintaannya untuk kembali.
Ternyata penyesalan memang selalu datang belakangan. Membelenggu asa yang ingin mengulang dari awal. Namun, saat penantian tak berujung dan berakhir memilukan, saat itu pula kesempatan untuk bangkit datang.
__ADS_1