
"Isi dengan lengkap persyaratan dan biodatanya. Hari ini aku akan mendaftarkan band kita. Pendaftaran hanya dibuka dua minggu. Lalu akan diadakan seleksi eleminasi. Termasuk tes kesehatan." Cherry menuturkan.
"Hah?! Tes kesehatan?" Nara tampak bingung.
"Iya. Ini peraturan baru yang dibuat oleh kaisar. Tidak akan lolos mahasiswa yang ketahuan menggunakan drugs dalam tubuhnya," tutur Cherry kembali.
"Bagaimana jika minuman beralkohol, Cher?" tanya Nara kepada temannya itu.
"Kau sudah besar, Nara. Tidak perlu kujelaskan lagi karena kau sendiri sudah tahu mana yang baik dan buruk. Cepat isi formulir itu dan serahkan nanti sore kepadaku! Waktu kita tak banyak!" Cherry lalu bangkit dan segera meninggalkan Nara yang masih terduduk di atas rerumputan.
"Satu lagi. Cepat selesaikan lagu ciptaan kita! Itu akan dipakai saat eliminasi nanti!" pesan Cherry lalu benar-benar pergi meninggalkan Nara.
"Haaaah ...." Nara menghela napasnya. "Padahal diadakan setiap dua tahun sekali, tapi mengapa semakin lama persyaratan untuk masuk sepuluh besar semakin berat?"
__ADS_1
Nara beranjak dari duduknya. Ia lalu berjalan menuju kelas untuk mengikuti jam mata kuliah terakhirnya.
Sore harinya di stasiun kereta api…
Empat mata kuliah telah Nara lalui hari ini. Ia pun lekas-lekas meninggalkan kampus lalu segera pergi menuju stasiun kereta. Ia benar-benar bertekad bulat untuk menemui Shena.
Kali ini aku tidak akan kehilangan kesempatan lagi.
Diam-diam Nara mengikuti ke mana gadis itu pergi. Bermodal sebuah topi yang ia pinjam dari Ken, Nara membuntuti mantannya yang berjalan menuju kantor redaksi tempat di mana ia bekerja. Dan alangkah terkejutnya Nara saat mengetahui jarak kampus dan kantor tempat Shena bekerja itu tidak terlalu jauh.
Astaga! Ternyata dia bekerja di sini?!
Sesampainya di gerbang kantor, Nara membiarkan Shena masuk begitu saja. Sementara ia mencari informasi kapan jam pulang Shena kepada warga sekitar. Dan didapati jika Shena pulang pada pukul sepuluh malam.
__ADS_1
Ia kemudian menunggu, menunggu kepulangan Shena dengan mampir terlebih dahulu ke rumah teman terdekat. Sampai pukul sembilan malam, ia kemudian melancarkan intaian ala detektifnya.
Malam ini aku harus bertemu denganmu, Shena. Aku harus menyelesaikan permasalahan yang sempat tertunda. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku padamu.
Nara lalu menunggu Shena keluar dari kantor. Ia menunggu tak jauh dari gerbang kantor redaksi tempat Shena bekerja. Usahanya untuk bertemu sang mantan membuktikan jika dirinya bukanlah seorang pecundang. Nara menunjukkan jika ia adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab, atas apa yang telah ia perbuat. Walaupun kenyataannya harus membutuhkan waktu yang lama untuk menyadarinya.
Semoga tidak ada kendala. Aku menunggumu di sini, Shena.
Menit demi menit pun berlalu, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Semakin mendekati waktu, semakin berdebar detak jantungnya. Nara terlihat berulang kali mengambil napas di sudut jalan yang tak jauh dari gerbang kantor Shena. Sementara Shena, sedang merapikan meja kerjanya. Ia sama sekali tidak punya persiapan untuk bertemu dengan mantan kekasihnya itu, Nara Shimura.
Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar seperti ini, ya?
Shena merasa aneh dengan keadaan sekitarnya. Namun, ia tidak menghiraukan. Ia segera merapikan meja kerjanya lalu bergegas kembali ke rumah.
__ADS_1