Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

Nara tampak tak berdaya karena rasa takutnya sendiri. Ia pun terduduk lemas di dalam kamar.


"Ahahahaha. Maaf, Nara. Aku sengaja menyenter wajahku dari bawah agar terlihat seperti hantu." Sai mengakui perbuatannya.


Ternyata Sailah yang mengerjai dan membuat Nara spot jantung.


"Hah, hah." Nara mencoba mengatur ulang napasnya. "Ini tidak lucu, Sai." Nara pun mengusap keringat di dahinya.


"Hei, sudahlah. Ada baiknya jika kau merasakan kue yang lezat ini."


Ken mendekati Nara. Namun, ia bukannya meredakan malah menghantamkan kue blackforest mini ke wajah temannya.


"Ahahahaha." Sai pun tertawa lagi melihat wajah Nara belepotan.


"Sial!" Nara pun marah kali ini. "Kau mengajak ku berkelahi, Ken?!"


Nara marah, ia mengusap kue yang menutupi wajahnya lalu berjalan mendekati Ken untuk melakukan pembalasan. Sayangnya, Ken selalu dapat menghindar.


"Awas kalian, ya!" Nara berniat mengejar Sai dan juga Ken.


"Eits, nanti dulu." Cherry segera menghadang Nara.

__ADS_1


"Cherry?" Nara bingung.


"Lihatlah ke arah sana!" Cherry menunjuk pintu kamar yang perlahan terbuka.


Nara tidak jadi mengejar Ken dan juga Sai, ia mengikuti ucapan Cherry agar melihat ke arah pintu. Pintu pun semakin lama semakin terbuka, dan kemudian...


"She-she-shena ...?!!"


Betapa terkejutnya Nara saat melihat Shena didampingi Hima, berjalan masuk ke dalam kamar. Nara sungguh tidak percaya jika Shena telah tersadar dari komanya. Dan kini gadis itu berdiri di hadapannya sekarang.


"Selamat ulang tahun, Nara," ucap Shena sambil tersenyum ke arahnya.


"Shena!" Ia segera berlari, memeluk sang mantan sebagai ungkapan rasa terima kasih dan rindunya.


"Shena, jangan tinggalkan aku, Shena," pinta Nara sambil menahan tangisnya.


Hima segera mengambil kue yang dipegang oleh Shena. Ken juga memasang lampu kamar yang tadi dicopotnya. Dan kemudian perayaan hari lahir Nara pun dimulai dengan sebuah pesta sederhana.


"Hei, sudah lagi lepas rindunya. Mari kita rayakan hari jadimu yang ke dua puluh tahun ini, Pecundang!" celetuk Ken sambil menarik paksa Nara dari Shena.


"Hei! Kau menggangguku saja!" Nara sewot karena harus melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Ingat, Nara. Hari ini hari ulang tahunmu. Jadi, sekesal apapun, kau tidak boleh marah-marah." Cherry mengingatkan sambil menunjuk-nunjuk hidung Nara dengan telunjuk tangan kanannya.


Nara pun menoleh ke arah Shena, seolah meminta persetujuan. Shena pun mengangguk seraya tersenyum.


"Hm, baiklah. Tapi aku tidak akan berdiam diri."


Nara dengan cepat mengambil kue tar yang Hima pegang. Ia mencaplok kue itu lalu melemparkannya ke arah Sai dan juga Ken.


"Terima pembalasanku!"


Dan akhirnya kue itu tidak jadi dimakan oleh mereka. Nara malah melemparkan kue itu ke arah Ken dan juga Sai. Ia pun tertawa saat melihat Ken dan Sai yang ikut belepotan seperti dirinya.


"Mereka itu. Untung saja kamar sudah dikosongkan. Kalau tidak, semut akan ke mana-mana."


Cherry menepuk dahinya melihat tingkah ketiga pria yang sedang bernostalgia ala TK, berkejar-kejaran di hadapannya. Untung saja kasur dan lemari yang ada di dalam kamar sudah dikeluarkan oleh Ken dan juga Sai. Sehingga tidak akan terkena kue manis yang dilemparkan.


"Terima kasih, Shena. Terima kasih telah siuman tepat pada waktunya." Cherry pun merangkul Shena yang masih belum pulih sempurna.


"Hm, iya." Shena menjawabnya pelan, ia pun dipeluk Hima dan Cherry bersamaan.


Entah mengapa, Shena tersadar tepat di hari ulang tahun Nara. Mungkin karena Nara tidak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Shena. Sehingga keajaiban pun terjadi berkat kekuatan hati. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin jika DIA sudah berkehendak?

__ADS_1


__ADS_2