
Kamera menyorot Nara sebagai backing vokal, terlihat penonton ikut berteriak sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Kamera kemudian menyorot Ken yang sedang memukul drum.
Saat interloude, Nara maju ke depan panggung, menaiki sebuah kursi pendek persegi. Ia lalu memainkan melodinya. Semua penonton berteriak melihat penampilan Nara. Para penonton pun berjingkrak mengikuti irama lagu yang dibawakan oleh D'Justice. Cherry lalu ikut berdiri di atas kursi persegi yang disediakan untuk atraksi.
Di ending melodi, Cherry mengajak penonton untuk mengangkat kedua tangannya ke atas lalu bertepuk dengan serempak. Ia kemudian mengarahkan mic-nya ke arah penonton agar bernyanyi bersama. Dan lagu itu terus dinyanyikan sampai ke bait terakhir. Bersemangat dan begitu memukau.
Beberapa saat kemudian, lagu selesai dinyanyikan oleh D'Justice. Kamera pun menyorot mereka dari depan panggung. Ribuan penonton bertepuk tangan melihat penampilan pertama dari band D'Justice ini.
Lima dari sepuluh dewan juri memberikan standing ovation, diikuti satu per satu dewan juri lainnya. Hanya satu dewan juri yang duduk dan tidak memberikan apresiasinya. Sepertinya juri yang satu ini benar-benar sulit untuk memberikan nilai tinggi kepada D’Justice. Namun, walaupun begitu D’Justice tetap bersemangat, menyingkirkan semua aral rintangan yang menghadang.
Teriakan pun menggema menyemangati mereka. Lagu ke dua ciptaan mereka sendiri akan dibawakan secara akustik. Mereka pun segera bersiap-siap.
__ADS_1
Sementara itu, sang mantan memutuskan untuk melihat pertunjukan Nara dari dekat. Ia berusaha lebih maju ke depan panggung, berdesakkan untuk menemui Hima yang memang sudah datang dari awal untuk memberikan dukungannya kepada Sai. Shena ingin melihat Nara dari jarak yang lebih dekat lagi.
Nara, akhirnya impianmu ....
Shena terus berusaha maju ke depan panggung, seorang diri sambil berdesakkan dengan penonton lainnya.
Di lain tempat...
"Jadi, Nara telah memutuskan hubungan denganmu?" tanya sosok gadis berambut blue-black, Via.
"Jadi, bagaimana rencanamu ke depan? Aku masih dapat bagianku, kan?" tanya Via sambil meminum wine-nya.
__ADS_1
"Hah! Kau selalu saja memikirkan bagianmu. Tenang sajalah, aku tidak akan pernah lupa dengan bantuanmu." Rie berbicara tanpa arah, ia benar-benar mabuk.
"Baguslah kalau begitu. Berarti selama ini bantuanku tidak akan pernah kembali dengan tangan hampa. Hahaha."
Via tertawa, ia mengingat bagaimana dirinya membantu Rie untuk mengadu domba Shena dan Nara. Asal keuntungan kudapat, aku tidak peduli dengan siapapun dan apapun.
Via memegang wine-nya sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak sabar mendapatkan bagiannya dari Rie.
Rie frustrasi, maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Niatnya mendapatkan keduanya, namun ia malah harus kehilangan salah satunya. Rie terus-menerus meminum alkohol sampai ia merasa tidak sanggup lagi.
Nara, kau telah membuatku hancur. Aku bersumpah akan menghancurkan siapapun yang bersamamu. Aku ingin kau juga merasakan sakit yang kurasakan. Aku tidak akan tinggal diam melihat kau bahagia bersama yang lain.
__ADS_1
Rasa sakit telah merasuki jiwanya. Rie tidak juga menyadari mengapa Nara sampai memutuskan dirinya. Ia malah berniat untuk menghancurkan siapa saja yang dekat dengan Nara. Rie telah kehilangan akal sehatnya.
Begitulah cinta, kadang bisa membelokkan kadang juga bisa membuat seseorang menjadi lurus di atas jalan kehidupannya. Tergantung bagaimana sudut pandang masing-masing menilainya. Namun sayang, Rie telah salah mengartikannya.