Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Lelah


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


"Nona Hima." Salah satu dokter mendekatinya.


"Ya, Dok?" Hima menjawab sambil menahan air mata.


"Nona Shena harus benar-benar mendapatkan perawatan intensif. Detak jantungnya tidak stabil sehingga membuat monitor menyalakan alarm bahaya. Baiknya kita segera melakukan tindakan medis. Tapi, kami juga tidak bisa menjamin seratus persen akan berhasil." Dokter itu menjelaskan.


"Dok, apa tidak ada jalan lain selain operasi?" tanya Hima yang cemas.


"Kami tidak bisa memastikannya karena penyakit nona Shena sudah di batas akhir. Kita hanya bisa menunggu keajaiban. Terlebih keadaan nona Shena amat lemah. Dia sekarang sedang mengandung," kata dokter itu lagi.


"Apa?!!" Seketika Hima terkejut.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan dan peninjauan lebih lanjut tentang hal apa yang harus dilakukan kedepannya. Tapi hasil tes rumah sakit menyatakan jika nona Shena tengah mengandung. Hal itulah yang membuat kami kesulitan untuk menentukan langkah selanjutnya." Sang dokter turut prihatin.


"Beberapa usia kandungannya, Dok?" Hima ingin lebih jelas.


"Usia janinnya diperkirakan baru berumur satu minggu. Tapi sudah ada pergerakan di dalam," kata dokter itu lagi.

__ADS_1


"Astaga ...." Hima memegang kepalanya, tak percaya dengan hal yang didengarnya.


"Kami berharap bisa secepatnya bertemu dengan suami nona Shena untuk membicarakan hal ini. Karena tindakan medis apapun harus atas persetujuan kerabat terdekatnya." Sang dokter menuturkan.


"Baik, Dok. Nanti saya akan mengabarkan kepada suaminya." Hima mengangguk.


"Kalau begitu kami permisi. Tolong siap siaga dan perhatikan monitor detak jantung. Terlambat sedikit saja, nyawa nona Shena bisa tidak tertolong." Dokter itu menjelaskan.


Hima hanya bisa mengangguk setelah mendengar penuturan sang dokter. Dokter itupun segera keluar dari ruangan bersama dokter lainnya. Keadaan amat genting harus Hima tanggung sendiri.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Shena sedang mengandung. Kenapa masalahnya semakin rumit seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menghubungi Nara?


Hima akhirnya pasrah. Ia mendekati Shena lalu memegang erat tangan temannya. Berharap Shena lekas tersadar dari komanya.


"Shena, kumohon sadarlah. Aku bingung harus bagaimana. Kumohon Shena, tolong aku." Hima akhirnya menangis, ia kebingungan sendiri.


Hima amat iba dengan kondisi Shena yang sekarang. Terlebih Shena adalah seorang yatim piatu. Ia prihatin di saat Shena sakit seperti ini tidak ada keluarga Shena yang menjenguknya. Ia juga sudah membicarakan hal ini kepada Hana. Tapi Hana bilang Shena hanya mempunyai dirinya seorang. Sedang keluarga Shena entah tinggal di mana. Ayah dan ibu Hana juga sudah berpisah, sehingga ia hidup hanya bersama Shena sejak lulus dari SMA.


Hima bingung harus berbuat apa. Ia kemudian tertidur dalam tangisnya. Beban itu mulai muncul dan membuat pikirannya kalang kabut sendiri. Dan akhirnya, Hima tertidur di sisi pembaringan Shena. Ia merasa lelah dengan semua yang terjadi. Tidak tega untuk meninggalkan Shena, tapi ia juga tidak bisa menampung semuanya sendiri.

__ADS_1


...


Aku yakin bahwa hati yang telah kutinggalkan ini,


Masih tersimpan di tengah hutan yang dalam.


Kelelahan, tanpa kekuatan untuk mencari,


Orang-orang menghilang dalam kegelapan yang kekal.


Jika itu terlalu sederhana, akupun membayangkan,


Sanggupkah aku melihatnya walau hanya sekejap?


Selama hidup masih berjalan.


Kita akan kehilangan sesuatu yang lebih banyak lagi.


Diselimuti kepalsuan dan kebohongan.

__ADS_1


Kita pun hanya mampu membeku tanpa mampu berteriak...


__ADS_2