
Cherry datang mengenakan kaus lengan pendek berwarna putih dan celana levis di atas lutut yang berwarna biru. Sepatu balet putih tanpa hak juga membalut kaki jenjangnya.
"Apa yang kau bawa, Cherry?" tanya Nara yang masih memegang gitarnya.
"Hari ini aku membawa laptopku. Aku ada janji jam dua belas nanti. Jadi sebisanya kita tidak bersantai saat latihan," jawabnya, "oh, iya. Bagaimana dengan lagu ciptaan kita sendiri? Sampai sejauh mana kalian mempersiapkannya?" tanya Cherry sambil mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya.
"Kami masih mencari lirik yang pas agar terdengar tidak terlalu berlebihan," ungkap Nara yang melihat Cherry menyerahkan lembaran kertas itu kepada Ken.
"Ini." Ken lalu memberikan dua lembar kertas kepada Nara. Nara pun menerimanya.
"Di lembar pertama, sebuah lagu yang akan kita bawakan sebagai lagu pembuka atau bisa juga sebagai lagu penutup di malam festival musik nanti," tutur Ken lalu memberikan lembaran lain kepada Sai yang tampak kalem.
Nara menyandarkan gitarnya pada dinding studio. Ia kemudian melihat judul dan lirik lagu tersebut.
"Ini, kan?! Apa bisa Cherry menyanyikannya, Ken?" tanya Nara yang cemas kala membayangkan jika Cherry menyanyikan lagu itu.
"Hei, Nara! Apa maksudmu?! Kau pikir aku tidak bisa bermain di nada tinggi apa?!" Cherry merasa kesal mendengarnya, ia bertolak pinggang ke arah Nara.
__ADS_1
"Eh, bukan begitu … tapi lagu ini biasanya yang menyanyikan seorang pria bukan wanita," tukas Nara.
"Nanti kita akan membantunya, Nara." Sai ikut bicara seraya tersenyum ke arah Nara.
"Tugasmu menambah ritme dan melodi agar terdengar lebih keren." Ken menuturkan, ia kemudian duduk di posisinya sebagai drummer.
"Ya, baiklah."
Nara lalu melihat lembaran kedua dan tak lama kemudian ia terdiam membisu. Selintas bayangan Shena muncul dan seolah tersenyum ke arahnya. Rasa pilu itupun menggelegar di hatinya, saat membaca lirik lagu ke dua yang akan mereka bawakan.
Bayang-bayang sang mantan muncul tak terduga, mengingatkan semua kenangan yang telah terlewati bersama. Menimbulkan duka karena tak mampu untuk berjumpa. Memupuskan asa yang terlahir dari jiwa.
Bait demi bait Nara dalami tanpa memedulikan perkataan teman-temannya yang sedang berbicara kepadanya saat itu.
Shena … aku ….
Hatinya berbisik lirih, ingin rasanya ia menangis saat mendalami lirik lagu ini. Tapi sebagai pria, tentunya tidak akan pernah menunjukkan air matanya ke hadapan siapapun.
__ADS_1
Ya, itu benar adanya. Berbeda dengan seorang wanita yang tidak mampu memendam rasa pilu di hati. Mereka selalu menyalurkannya lewat tangisan agar kedamaian itu segera didapatkan.
"Nara, kau tak apa kawan?" Ken menepuk punggung temannya, seketika itu juga Nara tersadar dari delusinya saat ini.
"Ken …."
Nara menatap wajah Ken yang tampak tersenyum ke arahnya. Sepertinya Ken tahu benar apa yang sedang ia rasakan.
"Sudah-sudah. Ayo, Nara! Kita coba lagu yang pertama dulu. Lagu ke dua kau yang akan membawakannya. Aku harap kau bernyanyi dengan hati."
Cherry sudah bersiap dengan memegang mic-nya. Ia terlihat terburu-buru karena mempunyai janji temu pada jam makan siang nanti.
Latihan itupun dimulai. Mereka sangat serius melakukan latihan hingga didapati aransemen yang pas untuk menambah melodi di lagu mereka, di festival musik nanti.
Dan cinta itu dapat mengobarkan api kehidupan yang telah padam. Namun, cinta pun bisa memadamkan kehidupan yang bingar.
Cinta juga bisa menyemangati setiap insan yang memiliki. Walaupun terkadang, cinta dapat membuat orang menjadi lupa diri.
__ADS_1