Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Lepas Rindu


__ADS_3

Keesokan harinya, pukul tujuh pagi waktu setempat…


Hata bersama band asuhannya sedang sarapan pagi di salah satu restoran terdekat hotel. Kebersamaan di antara personil pun terasa semakin akrab terjalin. Gabril juga ikut berbaur bersama yang lainnya. Walaupun awalnya ragu, akhirnya sedikit demi sedikit ia lebih bisa membuka diri kepada selain Nara. Nara yang duduk di sampingnya pun tampak memperhatikan sikap Gabril yang berubah.


Dia lebih ramah kepada orang lain sekarang. Syukurlah.


Selepas sarapan pagi, Hata menunggu kedatangan jurnalis yang akan mewawancarai band asuhannya. Setelah ini ia akan segera menuju lokasi konser dan bergabung bersama band lainnya. Sang manajer tampak formal kali ini, ia mengenakan pakaian bisnisnya. Tidak seperti D’Justice yang berpakaian santai.


Butiran salju pagi ini turun lebih sedikit dan udara juga terasa lebih hangat. Konser yang akan diadakan di dalam ruangan tertutup pun sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan keadaan cuaca. Dan hari ini lebih dari lima band naungan Sony Music akan berkolaborasi. Mereka akan menunjukkan penampilan luar biasa di atas panggung untuk menghibur para penonton yang datang.


Beberapa menit kemudian...


Seorang jurnalis terkenal di Hiroshima datang bersama awak media lainnya. Mereka ingin melakukan sesi wawancara dengan band yang sedang naik daun ini. D’Justice mendapat kesempatan wawancara pertama dibanding dengan Black Pepper. Keempat personil pun duduk sejajar di sofa putih yang ada di dekat lobi restoran.


“Senang bisa bertemu kalian.”


Jurnalis itu mengajak berjabat tangan. Ken selaku kapten band mengawalinya. Disusul Sai, Cherry dan juga Nara. Mereka duduk berhadapan dengan banyaknya audio recorder yang diletakkan di atas meja.


“Ini adalah sebuah gebrakan baru di industri musik Jepang. D’Justice dalam waktu singkat bisa masuk ke sepuluh tangga lagu terpopuler musim ini. Lalu bagaimana tanggapan kalian sendiri?” tanya jurnalis itu.

__ADS_1


Ken kemudian menjawabnya, “Tentu kami amat bersyukur atas pencapaian ini. Hal ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi kami. Kami juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang mendukung. Semoga ke depannya kami bisa lebih baik lagi.”


Ken menjawab pertanyaan jurnalis tersebut dengan baik. Satu per satu pertanyaan pun dilontarkan kepada mereka. Setiap personil mendapat kesempatan menjawab dengan sudut pandangnya masing-masing. Hata selaku manajer pun tidak membatasinya.


Wawancara itu terus berlangsung dan berakhir setengah jam kemudian. Yang mana kini giliran Black Pepper diwawancarai oleh sang jurnalis. Nara dan kawan-kawan pun mengambil tempat duduk yang lain. Dan karena rindu, ia menelepon Shena dengan menggunakan earphone ponselnya . Tak lama, telepon itupun diangkat oleh Shena.


“Halo?” Suara dari seberang.


“Shena, kau sedang apa? Apa kau sibuk?” tanya Nara sambil melirik ke arah kanan dan kiri.


“Hm, aku baru saja ingin mencuci pakaianmu, Nara,” jawab Shena.


“Hanya sedikit, tak apa. Lagipula aku mencucinya dengan mesin, jadi tidak terlalu berat. Kau sendiri bagaimana? Semalam pesanku tidak dibalas.” Shena mulai bertanya.


“Maaf. Semalam tiba di hotel aku langsung tertidur. Perjalanan sangat melelahkan ditambah harus mampir sana-sini. Tubuhku kurang fit jadinya,” tukas Nara.


“Jaga kesehatan ya di sana. Aku masih menunggumu di sini.” Shena pun tersenyum.


“He-em. Nanti malam konser akan diadakan. Doakan aku, ya.” Nara meminta doa kepada Shena.

__ADS_1


“Iya, aku doakan.” Shena pun mengiyakan.


“Shena.”


“Hm?”


“Di mana Hima? Kenapa rumah sepi sekali?” tanya Nara yang tidak mendengar suara siapapun selain Shena.


“Hima sudah berangkat bekerja, baru saja. Dia akan pulang awal sore.”


“Dia bilang sendiri padamu?” tanya Nara lagi.


“Iya. Dia bekerja pagi mulai hari ini dan akan pulang pukul dua siang. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja.” Shena menenangkan.


“Hm, baiklah kalau begitu. Aku sudahi dulu ya teleponnya. Manajer Hata sudah memanggilku.”


Nara pun meminta izin untuk mematikan telepon saat Hata telah memberikan kode kepadanya. Sambungan telepon itu akhirnya terputus dan Nara segera berkumpul bersama personil band lainnya. Sedang Shena tampak menahan rasa sakit di kepalanya.


“Astaga.”

__ADS_1


Matanya berkunang-kunang. Penglihatannya mulai kabur. Shena seperti tidak dapat lagi mengendalikan kesadarannya. Ia akhirnya terjatuh di dapur. Seorang diri di kediaman Nara, tunangannya.


__ADS_2