Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tentang Dirimu


__ADS_3

Shena belum bisa tersadar pasca memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Sang gadis seperti tengah di ambang kematiannya sendiri. Detak jantungnya pun melaju lemah sehingga ia membutuhkan perawatan intensif.


Hima tidak ikut menemani Shena malam ini. Ia diminta Ryuuto untuk menunggu di rumah karena khawatir Nara akan meneleponnya. Ryuuto meminta Hima menyembunyikan keadaan Shena agar tidak menggangu tur D'Justice yang sedang berlangsung. Bagaimanapun ia tahu sistem kerja di negerinya, sehingga sebisa mungkin tidak membuat Nara mengkhawatirkan keadaan Shena. Karena hal itu dapat berdampak besar pada kontrak D'Justice dengan pihak label rekaman.


Di rumah Nara...


Hima, teman sekantor Shena tampak tertidur pulas setelah bergantian menjaga Shena di rumah sakit. Ia terlelap dalam balutan baju tidur panjangnya. Ia tidur seorang diri di kamar yang ada di lantai satu. Namun, tak beberapa lama kemudian sang kekasih meneleponnya.


Dering ponsel Hima mengisi ruang kamar yang ditidurinya. Satu, dua panggilan pun tak terjawab. Sampai akhirnya ia terbangun karena mendengar dering ponsel yang berulang, tak jauh darinya. Ia meraba-raba kasur, mencari di mana gerangan ponselnya berada dengan kedua mata yang masih terpejam.


"Halo?" Akhirnya Hima mengangkat telepon itu.


"Sayang, kau sudah tidur ya? Maaf mengganggu. Nara memintaku untuk meneleponmu karena ponsel Shena tidak aktif. Apakah dia baik-baik saja?" tanya suara dari seberang.


Seketika Hima tersadar karena mendengar pertanyaan dari kekasihnya. Ia pun lekas-lekas mengambil ponsel Shena yang ada padanya.


"Em, maaf. Shena sudah tidur. Ponselnya memang sengaja dimatikan. Apa perlu aku membangunkannya?" Hima bersikap seolah-olah Shena ada di sampingnya.


"Oh, tidak perlu. Nanti aku akan bilang kepada Nara. Kau tidurlah kembali. Mungkin besok pagi kami akan menelepon lagi," kata Sai dari seberang.


Astaga! Ini gawat!

__ADS_1


Seketika Hima menyadari sesuatu. "Em, baiklah. Kalau begitu sampai nanti." Hima segera mematikan teleponnya.


Hima menyadari sepintar apapun ia menyembunyikan, pastinya akan ketahuan juga. Dan besok Sai akan meneleponnya kembali. Ia bingung harus melakukan apa jika tiba-tiba Nara ingin mendengar suara Shena.


Ya ampun. Kenapa hatiku berdebar seperti ini?


Hima khawatir jika Nara mengetahui keadaan Shena yang sesungguhnya, dan hal itu akan membuat Nara cepat pulang serta membatalkan kontrak konsernya. Yang mana bisa terkena pinalti karena membatalkan kontrak kerja sama. Dan Hima tidak mau hal itu terjadi.


Gadis kepunyaan Sai ini beranjak bangun dari tidur lalu menuju dapur kediaman Nara. Ia ingin memasak mie instan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Sedari pagi Hima disibukkan dengan pekerjaan dan juga bergantian menjaga Shena di rumah sakit. Ia sampai lupa jika belum makan malam hari ini.


"Ya ampun perutku sampai lupa kuisi. Maaf ya perut." Dia berkata sendiri pada perutnya.


...


Gapailah, gapailah, sejauh mungkin.


Kini kupercayakan air mata ini kepadamu.


Karena dari sisi lain pintu ini,


ada hari esok yang akan menghampiri.

__ADS_1


Telah dimulai cerita yang panjang tentang dirimu...


Kehilangan dan menyadarinya.


Berteriak, keseharianku penuh perjuangan.


Di ujung jalan ini, cahaya pasti akan bersinar kembali...


Air mata dan air mata.


Aku ingin meneteskannya di saat bahagia.


Bagaimana jika meneteskannya sebagai genangan yang indah?


Langit selatan berkerlap-kerlip.


Berasal dari semua bintang yang bertemu.


Belajar tentang cinta dan memperoleh peta.


Saling terhubung...

__ADS_1


__ADS_2