Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Temu Kangen


__ADS_3

Sementara itu...


Nara tampak tidak konsentrasi menjalani kelas bersama Hata, manajer barunya. Raut wajahnya terlihat kusut dan tidak bergairah seperti biasanya. Ia hanya mengangguk dan seperti ingin segera mengakhiri kelas.


Ken menyadari kegelisahan yang sedang melanda temannya. Tapi ia masih menunggu jam kelas berakhir. Dan tak lama, waktu yang ditunggu pun tiba...


"Baiklah, sampai di sini untuk hari ini." Hata menyudahi materi yang ia berikan. "Persiapkan diri kalian untuk pembuatan video esok lusa," pesan Hata sebelum personil D'Justice keluar dari kelasnya.


Baik Sai, Cherry dan Ken mengangguk, mengiyakan pesan sang manager barunya. Tapi tidak untuk Nara, ia malah terburu-buru meninggalkan ruangan.


Aku harus cepat!


Ia berjalan sangat cepat seperti sedang mengejar sesuatu. Sikapnya itu membuat Cherry dan Sai merasa aneh, terlebih dengan Ken.


"Ada apa dengan Nara?" tanya Sai sambil menoleh ke arah Cherry dan Ken.


"Entahlah, mungkin dia mempunyai urusan yang sangat penting," sahut Cherry kepada Sai.

__ADS_1


Ken diam sambil terus melihat pergerakan temannya yang berjalan begitu cepat, keluar dari gedung Sony Music menuju parkiran motornya.


Nara, ada apa lagi? Ken tampak cemas.


Nara segera meluncur menuju suatu tempat. Ia tidak memedulikan lagi hari yang sudah mulai gelap. Ia memberanikan diri menembus butiran salju yang turun, menuju ke sebuah hutan terisolasi dengan hanya bermodalkan jaket tebalnya.


Satu jam kemudian...


Perjalanan sang pemuda bermata biru ini akhirnya menghasilkan. Ia kini sudah tiba di pinggir sebuah hutan yang terisolasi. Nara lalu menelepon seseorang.


"Halo?" Tak lama terdengar suara jawaban dari seberang.


Pintu di sini adalah sebuah kode masuk ke dalam hutan yang tak terjamah oleh pemerintah. Hutan kecil yang hanya ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Tapi siapa sangka, ternyata ada hacker handal di bawahnya.


"Kode diterima," jawab suara dari seberang.


Tak lama kemudian, Nara segera menuju titik temu. Yang mana berada di dalam garis khayal antara tiga pohon bonsai besar, terletak di tengah hutan. Ia kemudian menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali. Dan tak lama, sebuah jalan ruang bawah tanah pun terbuka. Segera saja Nara masuk ke dalamnya dan menuruni anak tangga yang ada.

__ADS_1


Sesampainya di ruang bawah tanah...


Kedatangan Nara disambut baik oleh temannya. Mereka berpelukan layaknya saudara yang sudah lama tidak berjumpa.


"Hei, hei! Sudah lama sekali," sapa seorang pemuda kepada Nara.


"Maaf, aku begitu sibuk dengan urusanku. Tapi, bukan berarti aku melupakan kalian. Di mana yang lain?" tanya Nara kepada pria yang mengenakan sweter hitamnya.


"Mereka sudah memisahkan diri, Nara," sahut seseorang dari belakang, membawa beberapa makanan yang didekap di dada.


"Memisahkan diri?" Nara jadi bingung.


"Ya, kedua teman kita sudah menjalani kehidupan seperti manusia sungguhan. Sedang aku dan Taka masih asik di bawah hutan. Hahahaha."


Pemuda itu adalah Nidji, teman lama Nara sejak SMP. Nidji adalah pemuda tampan dengan rambut lurus sebahu. Kulitnya pun putih dengan bulu mata yang lentik.


"Aku dengar kau sudah menjadi artis ternama." Taka kemudian kembali bicara.

__ADS_1


"Hah ...." Nara mengembuskan napasnya.


Taka adalah teman dari Nidji. Ia memiliki rupa yang tidak jauh berbeda dari oppa Korea. Hanya saja Taka lebih kalem jika dibandingkan Nidji. Pertemuan Taka dan Nara waktu itu pun karena Nidji yang memperkenalkannya. Dan sampai saat ini persahabatan mereka masih terjalin dengan baik.


__ADS_2