
Lebih dari setahun yang lalu...
"Nara,"
Shena tertidur di dada Nara yang bidang. Tubuh keduanya hanya tertutupi selimut tebal berwarna putih. Mereka sedang berada di sebuah hotel yang ada di dekat pantai.
"Nara, bagaimana jika suatu hari nanti aku hamil?" Shena merebahkan kepalanya di dada Nara.
Nara membelai lembut rambut Shena yang terurai panjang. Dengan penuh perasaan, pemuda bermata biru ini meyakinkan kekasihnya.
"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, Shena. Aku berjanji,” ucap Nara meyakinkan.
"Benar, kah? Walau masalah apapun yang mendera kita nantinya?" tanya Shena lagi seraya menatap bola mata biru Nara.
"Iya, Sayang," balas Nara, memeluk erat Shena lalu mengecup keningnya.
"Apa kau juga berjanji tidak akan pernah meninggalkanku?" tanya Shena lagi.
__ADS_1
"Iya, aku janji."
Nara tersenyum. Ia kemudian mencubit hidung kekasihnya dengan gemas. Ia berusaha meyakinkan Shena jika tidak akan pernah pergi ataupun meninggalkan Shena seorang diri.
Merasa yakin dengan ucapan Nara, Shena kemudian membalas pelukan itu. Rasa nyaman ia rasakan saat Nara berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi, semua itu hanya tinggal kenangan, hanya sebuah janji yang tidak pernah terjadi, tidak pernah ditepati.
"Shena!"
Perlahan-lahan Nara mendekati Shena, ia berjalan di antara keramaian menuju sang mantan. Sementara Shena masih terdiam dan berlinang air mata kala teringat dengan kenangan yang telah dilalui bersama Nara.
"Nara ...." Shena berucap pelan, ia tidak percaya jika dapat berjumpa kembali dengan sang mantan.
Entah mengapa, langkah kaki terasa semakin berat, semakin mendekati. Dada pun ikut sesak kala berjalan memotong arah di antara khalayak ramai. Nara masih berusaha menggapai Shena yang sedang menatap lurus ke arahnya. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba untuk lebih mendekat kepada mantan kekasihnya itu.
"Shena ...."
Senyum indah tersirat dari wajah tampan pemuda bermata biru yang dengan bahagia terus menatap ke arah sang mantan. Namun sayang, takdir berkata lain untuk keduanya. Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepada Shena maupun Nara. Tanpa sengaja, Nara menabrak seorang nenek tua yang tampak keberatan membawa barang bawaan.
__ADS_1
"Aduhhh, pinggangku!”
Nenek tua itu mengeluhkan rasa sakit karena tertabrak oleh Nara. Ia jatuh terduduk di atas lantai stasiun. Nara terkejut, dilema, di antara harus menolong si nenek tua atau meneruskan langkah kakinya untuk mendekati Shena.
"Hei, Pemuda! Sudah tidak ada rasa sopan-santunmu kah terhadap orang tua renta sepertiku?" tanya nenek tua yang jatuh tertabrak Nara.
Terlihat barang bawaan si nenek yang berserakan di lantai stasiun akibat tertabrak Nara. Nenek yang mengenakan daster panjang berwarna abu-abu itu tampak kesal sekali.
"Nenek, maafkan aku."
Nara mencoba membangunkan si nenek. Namun, matanya masih tertuju ke arah Shena.
"Kau ini! Apa anak zaman sekarang sudah tidak mempunyai etika lagi terhadap orang tua?! Kau lama sekali membangunkanku!" gerutu si nenek yang masih berusaha untuk bangun.
Mendengarnya, Nara merasa tidak enak hati. Ia segera membangunkan si nenek dan membiarkan pandangannya terlepas dari Shena.
"Bereskan juga barang bawaanku!" pinta si nenek kepada Nara.
__ADS_1
Mau tidak mau, Nara menurutinya. Ia berjongkok lalu merapikan barang bawaan si nenek yang jatuh berserakan di atas lantai stasiun.