
Beberapa jam kemudian...
Konser band utama telah dimulai tepat pukul delapan malam waktu setempat. Terlihat mereka berusaha masuk ke tengah-tengah arena stadion karena ingin melihat lebih dekat konser band kenamaan asal Inggris itu.
Perbedaan di antara kedua pasangan itu terlihat sangat mencolok. Bagaimana tidak, Hima bersama Sai tampak mesra dan saling menjaga di antara keramaian pengunjung yang menonton. Sedang Ryuuto, tampak malu-malu melindungi Shena dari belakang.
"Shena, aku ke depan, ya?" Hima meminta izin untuk lebih maju ke depan.
Suara musik yang mulai menggema dan riuh tepuk tangan, memaksa Shena untuk mengiyakan. Hima dan Sai lalu berjalan lebih dekat ke depan panggung, sementara Shena bersama Ryuuto masih berdiri dan diam di tengah-tengah arena. Suasana begitu tertib dan kondusif, sehingga membuat para penonton merasa nyaman.
"Shena, sebentar lagi akan ada penyiraman air. Apa kau mau menyingkir ke pinggir lapangan?" tanya Ryuuto dari belakang.
Shena menoleh ke arah Ryuuto, "Tidak, nanti akan sulit jika kita mau kembali," jawab Shena dengan lembut.
"Oh, baiklah," sahut Ryuuto segera.
__ADS_1
Ryuuto masih berjaga di belakang Shena. Tubuh tingginya dapat melindungi sang gadis dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan setelah menunggu, akhirnya band kenamaan itu menyanyikan sebuah lagu pembuka. Lapangan stadion pun mendapat siraman air dari empat penjuru arah agar para penonton tidak kepanasan.
Air itu disiram merata ke para pengunjung yang menonton di area lapangan. Tanpa diminta, Ryuuto segera melepas kardigannya lalu menjadikannya sebagai pelindung kepala bagi Shena. Air itu lalu membasahi tempat di mana Shena menonton konser bersama Ryuuto.
Nara ....
Di benak Shena terbesit akan ingatannya bersama Nara saat menonton konser Linkin' Park, setahun yang lalu di stadion yang sama.
Shena, tenanglah. Sebisa mungkin aku tidak akan menyentuhmu, gumam Ryuuto di dalam hati.
Lapangan yang dipadati pengunjung membuat semua orang tetap fokus pada dirinya masing-masing. Tapi, tanpa mereka sadari seseorang tengah melihat kemesraan yang tersirat dari keduanya.
Sosok pemuda bermata biru tanpa sengaja melihat Shena dipayungi kardigan biru oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Rasa sedih pun mulai muncul di benaknya, merobek hati dan harapan akan sebuah pertemuan yang telah lama tertunda.
Siraman air dari empat penjuru arah seakan mewakili keadaan hatinya yang sedang terluka. Melihat mantan bersama pria lain, sungguh menyesakkan dada. Hatinya rapuh, pilu dan juga merindu. Namun, ego tetap saja berdiri tegak tanpa malu. Menahan sebuah keinginan untuk segera bertemu.
__ADS_1
Menatapmu, membelai wajahmu, dan berbincang bersamamu, bagai mimpi di siang hari yang tak mungkin untuk kuraih. Tetapi hati ini selalu saja menyebut namamu. Nama seorang wanita yang telah merajai kehidupanku.
Dua tahun lamanya, engkau berada di dalam pelukan pria bodoh sepertiku. Dan kini aku hanya bisa diam saat melihatmu bersamanya.
Nara membatin dengan lirih.
”Kau mantanku, tapi kau masih kekasihku, Shena,” bisiknya seraya melihat pemandangan yang menyayat hati itu.
Nara melihat kemesraan tersirat dari keduanya. Hatinya kini terluka. Ia kemudian menyadari kesalahan apa yang telah diperbuatnya.
Ia tertunduk dalam sayu. Berharap masih ada kesempatan untuknya memperbaiki masa lalu. Ia benar-benar bertekad bulat untuk membahagiakan Shena.
"Maafkan aku, Shena."
Nara berbisik lirih di antara keramaian penonton. Seorang teman kemudian menyadarkannya dari lamunan yang ia bangun sendiri.
__ADS_1
"Nara, bergembiralah!"
Sang teman mengajak Nara untuk menikmati konser ini. Nara pun kembali mencoba menikmatinya.