
"Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu. Tapi sungguh, dunia entertain tidak seindah yang kau bayangkan." Nara mulai curhat.
Taka tersenyum mendengar jawaban dari Nara. Ia turut bahagia jika temannya sudah menjadi artis sekarang.
"Sepertinya kau sedang tergesa-gesa, Nara. Lihat! Sudah pukul delapan malam tapi kau masih nekat kemari. Ada apa gerangan?" tanya Nidji kemudian.
Tanpa basa basi, Nara mengutarakan maksud tujuannya. Ia menceritakan duduk permasalahan yang sedang melanda dirinya.
"Oh, jadi begitu masalahnya. Baiklah kami akan mengeceknya."
Nidji dan Taka lalu menyambungkan ponsel Nara ke sebuah komputer. Taka pun memasukkan beberapa sandi, dan kemudian terlihatlah sebuah denah lokasi di layar komputer.
"Ini data lokasi dari nomor yang menghubungimu." Taka memberikan informasi kepada Nara sambil duduk santai di atas kursi putarnya.
"Tidak, tidak mungkin." Nara tidak percaya atas lokasi yang dilihatnya.
"Nomor yang menghubungimu sudah tidak aktif satu jam setelah menelepon. Sepertinya aku harus memberikan chip ini kepadamu." Nidji kemudian memberikan chip kecil untuk dimasukkan ke dalam ponsel Nara.
__ADS_1
"Ini ...?" Nara tampak bingung akan maksud temannya.
"Chip itu akan banyak membantumu. Kau dapat mengetahui keberadaan orang yang menelepon dengan keakuratan sembilan puluh lima persen dari lokasi keberadaannya." Taka kembali menjelaskan.
"Sembilan puluh lima persen? Kenapa tidak seratus persen?" Nara bingung dengan tingkat keakuratan chip yang diberikan.
"Kami masih sibuk dengan banyak urusan sehingga belum dapat meningkatkan performa chip itu. Coba saja, kemungkinan hanya berjarak lima sampai lima belas meter dari titik lokasi. Tidak akan lebih dari itu." Nidji menambahkan.
"Dan pastikan google map lokasimu diaktifkan dengan akurat," pesan Taka lagi.
"Em, begitu ya?" Nara seperti menemukan titik temu.
"Baiklah. Terima kasih, Nidji, Taka." Nara berterima kasih kepada keduanya.
"Santai saja." Nidji menepuk pundak Nara.
"Aku tidak akan melupakan kalian." Nara pun tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Lain kali kalau ke sini bawalah makanan yang banyak. Kami malas sekali jika harus keluar." Nidji berbisik kepada Nara.
"Hahahaha." Sontak Nara tertawa mendengarnya. "Baiklah, nanti akan kubawakan. Tapi kalian harus pastikan aman saat memasuki wilayah ini." Nara memenuhi permintaan temannya.
"Tenang saja. Selama kau datang di luar jam kerja, keadaan bisa dipastikan aman terkendali." Nidji berkata lagi.
"Jika kau membutuhkan bantuan kami, kau bisa menelepon langsung, Nara." Taka beranjak dari duduknya.
"Hm, ya. Terima kasih banyak." Nara kemudian memeluk kedua temannya.
Pertemanan solid telah terjalin di antara ketiganya. Sayang, garis kehidupan membuat mereka harus terpisah. Hobi Nara dengan kedua temannya itu tidaklah sama. Nara lebih menyukai dunia musik, sedang Nidji dan Taka lebih menyukai dunia peretasan.
Setelah mendapatkan bantuan, Nara segera kembali ke rumahnya untuk menunggu telepon dari Yudo. Ia ingin segera bertemu pemuda yang berani bermain-main dengannya.
"Aku akan menunggu." Nara tidak sabar untuk segera bertemu dengan Yudo.
Mikro chip buatan Nidji dan Taka ini benar-benar berguna untuknya. Walaupun keakuratannya hanya 95%, hal itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dan malam ini pun Nara bisa lebih sedikit menenangkan pikirannya, sambil menunggu telepon dari Yudo.
__ADS_1
Shena, tunggu aku. Aku akan segera menyelamatkanmu. Nara berjanji di dalam hati.