
Entah mengapa, Ryuuto selalu salah tingkah di hadapan Shena. Mungkin ini akibat dari rasa sukanya yang tertahan sejak lama. Sehingga ia belum dapat mengendalikan diri di hadapan Shena. Sayangnya, Hima selalu menjadi bantalan atas sikap Ryuuto, dan Hima pun tidak dapat melakukan apa-apa selain membujuk Shena untuk dekat dengan Ryuuto.
Begitulah resiko menjadi jembatan dua hati. Kadang Hima juga kesal, tapi Ryuuto adalah anak pemilik redaksi tempatnya bekerja. Apalah daya dirinya untuk melawan. Hima hanya bisa berharap kepada Shena agar segera mengakhiri penderitaannya. Terlihat Hima yang memijat kepalanya sendiri karena terasa pusing, sehabis dibungkam oleh Ryuuto.
"Hima, maafkan aku. Tapi aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Shena memegang tangan Hima dengan cemas.
"Ini." Hima memberikan sebuah tiket kepada Shena.
"Apa ini?" Shena mengambil tiket itu lalu membacanya.
"Tadi Ryuuto menitipkan ini padaku. Katanya dia ingin mengajakmu nonton konser bersama. Besok hari minggu. Kau mau, kan?" tanya Hima kepada Shena.
__ADS_1
"Tap-tapi ... aku sudah ada janji, Hima," jawab Shena sambil memegang tiket dengan kedua tangannya.
"Konsernya malam, kok. Jadi bisa melakukan keduanya. Kecuali, jika ada janji di malam hari, aku tidak dapat memaksanya," lanjut Hima yang mulai membuka program di komputernya.
"Hm, baiklah, akan aku usahakan," sahut Shena, berusaha mengiyakan ajakan temannya.
"Kau tenang saja, Shena. Akupun datang bersama pacarku. Kita double date, ya?" ungkap Hima sambil mulai mengetik naskah di komputernya.
Minggu, pukul 4 pagi…
Terlihat di atas panggung sosok wanita bersurai ikal panjang sedang menuruni anak tangga, mengenakan strepless dress dan sepatu boot hitam setinggi lutut. Ia tampak puas setelah selesai menghibur para tamu dan owner yang mengundangnya di sebuah acara. Acara itu diadakan di salah satu resort kelas elit yang berada di negara Jepang.
__ADS_1
Banyak yang ia dapat setelah menyelesaikan pekerjaannya. Tiket berlibur, free akomodasi dan voucher berbelanja yang nilainya lumayan fantastis. Dan juga uang tunai yang lebih besar dari biasanya. Tapi sayang, semua yang ia dapatkan berbanding terbalik dengan keadaan hatinya.
Orang menilai pasti nikmat mendapatkan semua fasilitas tanpa harus bekerja keras. Tapi, tidak begitu untuk dirinya. Hatinya saat ini rapuh dan membutuhkan setetes air kehidupan untuk meneruskan hidupnya yang di ambang kehancuran.
"Rie, kinerjamu luar biasa," ucap seorang wanita yang mengenakan gaun ungu ketat tanpa lengan, setinggi lutut. High heels silver-nya menambah kecantikan gadis bertubuh ramping ini.
"Kau terlalu memujiku, Kana," sahut Rie seraya berjalan menuju sebuah pondok yang ia tempati.
Sebuah pesta diadakan di tepi pantai pada malam hari sampai fajar menjelang. Sebagai perayaan ulang tahun anak pemilik resort tersebut. Hingar-bingar musik remix menggema di sepanjang pesisir pantai, mewarnai perayaan ulang tahun si anak konglomerat.
"Tidak." Gadis yang bernama Kana itu menggelengkan kepalanya. "Apa yang kukatakan itu benar adanya, Rie. Kau luar biasa, dapat menghibur kami di ruang terbuka seperti ini." Kana terus memuji Rie.
__ADS_1
Rie pun tersenyum menanggapi ucapan Kana. Dan tanpa terasa ia telah sampai di depan pondoknya sendiri. Sebuah rumah mini berlantai dua yang digunakan untuk menginap pengunjung resort, terletak tidak jauh dari tepi pantai.