
Sementara itu...
Terdengar suara burung-burung bangau di senja hari. Mereka berterbangan di atas ombak pantai bersama dengan tenggelamnya sang surya.
Di sebuah ruangan menghadap ke pantai, terlihat seorang gadis sedang duduk di atas kursi kayu dalam keadaan kedua tangan yang terikat ke belakang. Dalam balutan kemeja putih lengan pendek yang berenda di bagian dadanya, ia tampak lemas saat Yudo mengikat mulutnya dengan seutas kain putih.
Ruangan itu tidak terlalu buruk, lebih mirip seperti sebuah kamar layak huni dengan luas sembilan meter persegi. Di sana terdapat kasur berukuran sedang dan lemari pakaian yang terbuat dari kayu. Tidak besar, tapi cukup sebagai tempat meletakkan pakaian tamu yang datang.
Shena duduk di depan kasur menghadap ke arah pintu masuk kamar. Di sana juga ada Yudo yang sedang duduk menyilangkan kaki sambil menghisap sebatang rokok. Ia tampak senang karena dapat bertemu dengan Shena, mantannya.
"Huuuuufftt..."
Ia membuang asap rokok itu ke arah Shena, padahal ia tahu jika Shena tidak menyukainya.
"Uhuk! Uhuk!" Shena pun terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Shena, maaf. Aku terpaksa melakukan hal ini. Aku terpaksa menculikmu saat melakukan perjalanan pulang ke rumah," cetusnya lalu mematikan batang rokok.
Yudo pun berjalan mendekati Shena lalu berlutut di hadapan sang gadis.
"Shena ...."
Pemuda itu mengenakan kaus hitam dirangkap kemeja putih yang dibiarkan terbuka. Ia lantas membelai wajah Shena tanpa melepaskan ikatan kain yang berada di mulutnya..
"Kau tahu, Shena. Hidup ini hanyalah sebuah pementasan drama yang dibalut berbagai unsur kehidupan. Tapi sayang, aku tidak bisa melakukan drama terbaik di hadapanmu. Aku adalah aku, seorang pria yang diliputi keputusasaan karena telah kehilangan cinta yang biasa mengisi hari-hariku."
"Shena ...."
Yudo kemudian berdiri di hadapan Shena. Gadis itu sendiri terus mencoba melepaskan ikatan dari kedua tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau kembali?" tanya Yudo sambil menarik tali ikatan di mulut Shena agar Shena dapat menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Tampak Shena yang menahan kesakitan saat ikatan itu ditarik oleh Yudo. "Yudo, tolong sadarlah," ucapnya pelan. "Semua yang kau lakukan ini akan menjadi boomerang sendiri untukmu!" Shena meneruskan kata-katanya dengan terengah-engah.
"Boomerang?" Yudo kemudian melepaskan kain yang ia pegang lalu berjalan membelakangi Shena. "Aku tidak takut hal itu. Aku hanya menginginkanmu, tidak yang lain. Ya, sekalipun jika harus membunuh semua orang yang menghalangi keinginanku," tutur Yudo kembali.
"Kau sudah gila, Yudo!" Shena mengumpat Yudo.
"Ya, aku memang sudah gila. Aku gila karena sesuatu hal berharga telah terenggut dariku. Tapi, aku tidak ingin tinggal diam begitu saja. Aku akan mengambil apa yang telah hilang sebelumnya." Yudo lalu berbalik ke arah Shena.
"Yudo, kita tidak mungkin bersama. Aku tidak mempunyai rasa lagi kepadamu." Shena berkata jujur.
"Kau bilang apa, Shena? Bisa diulangi?" tanya Yudo seperti menantang.
"Aku tidak mempunyai rasa lagi padamu!" teriak Shena lalu sebuah tamparan pun mendarat di pipinya.
"Mudah sekali kau mengatakannya, seperti dengan mudahnya tanganku ini menamparmu." Yudo kesal kepada Shena, ia pun menamparnya.
__ADS_1