
"Yudo!!!"
Nara geram bukan main. Ia segera melepaskan ikatan di kedua tangan Shena lalu membiarkan Shena terbaring sementara waktu. Ia kemudian berdiri sambil menahan rasa sakit yang diderita. Amarahnya sudah meluap-luap saat ini.
"Hahahaha. Sungguh ironi sekali sepasang insan yang ada di depanku. Shena tidak henti-hentinya mempertaruhkan nyawanya untukmu, pria pendosa!" Yudo lagi-lagi meledek.
"Bajingan kau, Yudo!"
Nara segera berlari ke arah Yudo lalu menolakkan kakinya ke lantai. Ia menendang Yudo dari arah bawah sehingga tubuh Yudo pun melompat ke atas.
"Arghh!"
Yudo memuntahkan darah. Terlihat darah segar mengalir dari mulutnya. Tak habis sampai di situ, Nara pun meninju kepala Yudo bertubi-tubi dengan kepalan tangannya. Dan akhirnya, Yudo sekarat...
"Kau sudah melampaui batas, Yudo!"
Nara menarik tubuh Yudo lalu menyandarkannya pada dinding ruangan. Yudo tersenyum, rupanya ada sesuatu yang ia rencanakan.
"Mungkin aku melampaui batasan, tapi aku tidak akan lari dari benih yang sudah terkandung," ucapnya dalam keadaan babak belur terkena pukulan Nara.
"Apa maksudmu, Bajingan!" Nara menarik kerah baju Yudo lalu mengunci kakinya agar tidak dapat bergerak.
"Kau belum menyadarinya juga?" Yudo meremehkan.
__ADS_1
"Cepat katakan!" Nara semakin kuat menarik kerah baju Yudo sehingga Yudo kesulitan bernapas.
"Ba-baiklah, Nara. Aku akan mengatakannya. Tapi, terimalah dulu hadiah dariku ini."
Tangan Yudo bergerak cepat, ia kemudian menghujamkan sebilah pisau ke perut Nara.
"Agggghhh!!"
Nara pun merasakan sakit di area perutnya. Darah segar itu mengalir karena luka tusukan dari pisau Yudo. Ia memegangi perutnya dan melepaskan cengkraman tangannya dari tubuh Yudo.
"Kau ... benar-benar keterlaluan ...."
Nara mulai kehilangan kesadaran. Pandangan matanya mulai kabur.
Yudo meludahi Nara yang mulai jatuh terduduk. Nara pun masih mencoba menahan pendarahan yang keluar dari perutnya karena luka tusukan pisau Yudo.
"Anggap saja karena kau telah meninggalkan Shena saat dia sedang mengandung anakmu." Yudo juga terlihat sudah lemas.
"Apa?!" Nara pun terkejut dengan perkataan Yudo.
"Ya, Shena terpaksa mengaborsi janin dari benih yang kau tanam. Setelah kau membuangnya jauh-jauh dan lebih memilih Rie dibandingkan dirinya," tutur Yudo lagi.
Nara mencoba mengambil pistol yang berada di dekatnya. Ia berniat mengakhiri pertarungan ini.
__ADS_1
"Kau jangan banyak bicara, Yudo!!!"
Ia kemudian mengarahkan pistol itu ke arah Yudo, menembak ke arah jantungnya. Saat peluru ditembakkan, Yudo pun melempar pisaunya ke arah Nara. Dan akhirnya dua butir peluru bersarang di tubuh Yudo. Pundak Nara pun ikut tertusuk pisau yang dilemparkan oleh Yudo. Tak lama, keduanya terkapar di atas lantai ruangan.
Yudo lemas, napasnya mulai tidak beraturan. Seperti malaikat maut sedang mencabut nyawanya.
"She ... na," sebut Yudo sebelum kematiannya.
Yudo kemudian mati karena dua butir peluru bersarang di dadanya. Sementara Nara berusaha mencabut pisau yang menghujam pundak kirinya. Dua pendarahan hebat ia alami di tubuhnya saat ini.
"Shena ...."
Ia kemudian berjalan mendekati Shena yang terbaring tak sadarkan diri. Ia tertatih menuju sang mantan. Tapi sebelum tubuhnya sampai, ia terjatuh.
"Aaaaghh!"
Nara menahan rasa sakit yang teramat sangat, tapi ia masih merangkak berusaha untuk mendekati Shena.
"She-na ...."
Jemari tangan kanannya perlahan berhasil menggapai tangan Shena. Ia kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
Maafkan aku, Shena ....
__ADS_1
Ia berbicara sendiri sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran. Kedua insan itu tergeletak di atas lantai dengan tubuh berlumuran darah.