
Nara ... aku titip Shena padamu. Hima menutup pintu ruangan dari luar.
Hima membiarkan Nara menemani Shena beberapa saat di dalam ruangan, sementara ia menunggunya di luar. Tak lama terlihatlah pemandangan yang begitu memilukan dari balik kaca pintu ruangan. Yang mana ia melihat Nara mengusap dahi Shena secara perlahan. Begitu lembut dan penuh dengan perasaan.
"Shena ... semoga kau lekas pulih. Nara menunggumu," ucapnya pelan sambil menyandarkan tubuh di depan pintu.
Tak lama sang kekasih, Sai datang bersama Ken dan juga Cherry. Mereka menghampiri Hima dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi Hima hanya melirik ke dalam ruangan, tempat di mana Nara dan Shena berada. Ketiganya pun mencoba melihat apa yang sedang dilakukan Nara dari balik kaca pintu ruangan yang berbentuk persegi panjang.
Nara masih mengajak Shena untuk berbicara. Padahal ia sendiri sudah tahu jika sebenarnya Shena dalam keadaan koma. Ya, Shena mengalami koma setelah hantaman keras mengenai kepala dan bagian belakang tubuhnya.
"Shena ...."
Nara terus mengucapkan nama itu, berharap Shena dapat mendengar suara dan kerinduannya. Ia tidak lagi peduli jika efek dari obat biusnya telah hilang sepenuhnya. Ia biarkan rasa sakit itu menjalar ke sekujur tubuhnya. Karena ia merasa rasa sakit yang dideritanya ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan keadaan Shena yang mengalami koma karenanya.
__ADS_1
"Shena ... maaf, maafkan aku," ucapnya sambil memegang erat tangan kanan Shena dengan kedua tangannya.
"Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya semua ini terjadi. Jika saja saat itu aku tidak terbawa emosi, mungkin kejadiannya akan lain, Shena ...."
Nara berucap sambil menahan genangan air matanya. Tapi semakin ditahan, genangan air mata itu semakin meluap-luap.
"Shena, benarkah ... benarkah jika kau mengandung anak kita. Benarkah apa yang dikatakan oleh Yudo, Shena? Benarkah semua itu?"
Air mata itu kemudian menetes, satu per satu dan lambat laun semakin deras mengalir dari persembunyiannya. Nara merasa sangat bersalah, benar-benar bersalah. Ia terlihat menundukkan kepala sambil menciumi tangan kanan Shena. Hatinya terluka parah melihat Shena terbaring, tak sadarkan diri karena telah mencoba melindunginya.
"Shena ... bangunlah ...."
Ia mengenal sosok sang mantan sebagai seorang gadis yang periang, penyabar dan suka menghiburnya dalam keadaan duka. Diingatan Nara, Shena adalah satu-satunya gadis yang sabar menghadapi segala tingkah lakunya. Sifat keibuan pada diri Shena akhirnya dapat merubah sikap Nara menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Shena ... aku mohon ... bangunlah."
Derai air mata menetes di pipi Nara. Hatinya terasa pilu saat ini. Terlebih saat terbayang bagaimana Yudo mencoba menghantamnya dengan balok, sedang Shena datang menghalangi hantaman balok tersebut.
"Shena ... sadarlah, Shena ...."
Nara mengucapkan kata-kata itu sambil terus memegangi tangan Shena. Linangan air matanya menjadi saksi atas penyesalannya yang telah memutuskan hubungan secara sepihak. Saat ini, ia tidak dapat melakukan apapun selain menyesali apa yang telah terjadi.
Di luar ruangan, Ken berulang-ulang menelan ludahnya karena perasaan iba terhadap apa yang sedang Nara rasakan. Andai ia bisa menangis, tentunya Ken juga akan ikut menangis.
Nara ....
Selama bersahabat dengan Nara, baru kali ini ia melihat air mata ketulusan jatuh dari mata sahabatnya. Ken ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Nara. Begitu juga dengan Sai, Cherry dan Hima. Mereka terlihat menundukkan kepala.
__ADS_1