
Menjelang siang...
Matahari mulai menghangatkan. Nara dan ibunya pun bersiap menjenguk Shimura di rumah sakit yang sudah siuman dari koma. Namun, sebelum sempat keluar rumah, Nara dikagetkan dengan kedatangan muda-mudi yang berdandan rapi. Sontak ia pun terkejut melihatnya.
"Nara!" Salah seorang gadis segera menghambur ke pelukannya.
"Hei, kau sudah ada di rumah, Kawan." Satu orang pemuda maju, menepuk bahunya.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Nara." Dua orang lainnya segera merangkul Nara.
Shina pun keluar dari kamar setelah selesai berdandan. Ibu muda bergaun krim itu menjinjing tas kecilnya sebelum berangkat ke rumah sakit. Tapi ternyata, keberangkatannya harus tertunda karena sang putra kedatangan teman-temannya.
"Bibi." Salah satu pemuda membungkukkan badan kepada Shina, diikuti yang lainnya.
"Salam Bibi. Aku Gabril, teman Nara." Seorang gadis menyapa Shina.
"Nara?" Sang ibu pun bingung melihat gadis bernama Gabril yang begitu dekat dengan putranya.
"Em, Ibu. Gabril ini anak pemilik label rekaman kami." Nara mengenalkan.
"Oh, ya, ya." Shina akhirnya mengerti.
"Bibi, sepertinya akan berangkat bersama Nara?" Sai kemudian bertanya.
"Em, iya. Kami akan ke rumah sakit untuk menjenguk ayah Nara. Tapi jika kalian ada keperluan, tak apa." Shina memaklumi.
__ADS_1
"Em, bagaimana Ken?" Sai menoleh ke arah Ken.
Ken terdiam sejenak. "Sebenarnya ada hal penting yang ingin kami bicarakan kepada Nara. Tapi jika Bibi ingin pergi, mungkin lain waktu saja." Ken tidak enak hati.
"Eh, tidak apa-apa. Bibi bisa menunggu. Kalian duduklah, bibi buatkan minuman dulu." Shina beranjak ke dapur.
Shina memahami jika hal penting yang dimaksud Ken bukanlah sesuatu hal biasa. Iapun membiarkan Nara berbicara terlebih dahulu dengan keempat temannya. Sedang dirinya membuatkan minuman hangat untuk teman-teman anaknya.
"Nara, kedatangan kami ke sini karena ada sesuatu hal penting yang harus segera kami sampaikan." Ken membuka pembicaraan.
"Apakah hal ini berkaitan dengan band kita?" tanya Nara serius.
"Benar."
"Sebenarnya kami tidak ingin menyampaikannya. Tapi, pihak manajemen terus memaksa. Jadi mau tak mau kami harus menyampaikannya padamu." Cherry berhati-hati.
"Kabarkan saja padaku. Aku siap menerimanya." Nara seperti sudah mempersiapkan diri sebelumnya.
"Begini, Nara. Hal ini berkaitan dengan D'Justice ke depannya." Sai mulai bicara.
"Lalu?" tanya Nara antusias.
"Manajer Hata mendapat tekanan untuk segera mengambil keputusan tentangmu," kata Sai lagi.
Seketika Nara terdiam. Ia mempunyai firasat buruk tentang hal ini. Iapun menelan ludahnya, mencoba menormalkan detak jantung yang tidak beraturan.
__ADS_1
"Aku merasa ini ada kaitannya dengan keberadaanku di D'Justice. Apa itu benar?" tanya Nara harap-harap cemas.
"Kau benar, Nara. Manajer Hata mengabarkan kepada kami jika dia dengan amat terpaksa harus membatalkan kontraknya denganmu." Ken melanjutkan.
"Apa?!" Seketika Nara terkejut.
"Maafkan aku, Nara. Aku juga sudah mencoba bicara dengan kakak. Tapi, keputusan sudah bulat dan aku tidak dapat membatalkannya. Pertimbangan amat buruk jika tetap mempertahankanmu." Gabril pun tertunduk sedih.
Nara terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka jika akan mendengar kabar ini. Begitu juga dengan Shina yang menguping pembicaraan dari balik dinding ruang tamu.
Astaga ... ternyata ....
Sang ibu tidak percaya jika kontrak Nara akan dibatalkan pihak manajemen band-nya. Padahal ia tahu benar cita-cita sang putra yang ingin menjadi seorang musisi terkenal di Jepang. Namun, rupanya hal itu harus berakhir sampai di sini.
"Aku ... aku tidak tahu harus bagaimana menanggapi kabar ini. Rasanya pikiranku kosong seketika." Nara tertunduk, tak percaya.
"Kawan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap mempertahankanmu. Tapi, keadaan amat tidak memungkinkan. Maafkan kami." Sai duduk ke dekat Nara lalu merangkulnya.
"Kau harus bersabar menghadapi hal ini, Nara. Aku yakin pasti ada hikmah di balik semua ini. Kau adalah seorang pejuang. Jangan menyerah hanya karena hal ini." Ken menguatkan.
Nara mengambil napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak sekali. Cita-citanya harus kandas begitu saja. Ia kini tidak dapat lagi melanjutkan perjalanan karirnya bersama D'Justice. Matanya berkedut, hampir-hampir saja menangis. Namun, sebisa mungkin ia menahannya.
Kenapa nasib buruk selalu menimpaku? Kenapa?
Ia bertanya-tanya dalam hati, merasa kehidupan begitu tak adil kepadanya. Dan kini ia benar-benar jatuh dalam keterpurukan.
__ADS_1