
"Sepertinya Nara sedang tidak enak badan, Cher. Kita keluar duluan saja," ucap Ken yang tidak ingin kekasihnya mengusik hal privasi Nara.
"Nara, Sai. Kami duluan, ya? Kita bertemu Rabu malam pukul tujuh di sini." Ken berpamitan kepada keduanya sambil merangkul tubuh Cherry.
Cherry juga merasakan hal aneh sedang terjadi pada Nara. Ia kemudian mencoba bertanya kepada Ken, tetapi Ken memberi isyarat agar tidak menanyakan saat yang bersangkutannya ada. Ken bersama Cherry lalu keluar dari studio, dan tak lama Sai pun ikut menyusul.
"Aku duluan ya, Nara," pamit Sai sambil menepuk pundak kanan Nara.
"Sai!" tegur Nara kepada Sai.
Sai yang sudah hampir membuka pintu keluar itupun segera berbalik menghadap Nara.
"Aku ingin berbincang sebentar kepadamu. Bisakah kau menyempatkan diri?" tanya Nara sambil menjinjing tas yang ia bawa.
Sai tampak berpikir, "Hem, baiklah. Tapi aku tidak dapat berlama-lama, ya. Aku sudah mempunyai janji," jawab Sai yang memenuhi ajakan Nara.
"Baiklah. Terima kasih," sahut Nara kemudian.
__ADS_1
Keduanya kemudian keluar dari studio musik lalu berjalan menuju sebuah bengkel perut yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka latihan. Mereka berniat makan bersama.
Sepuluh menit kemudian...
Di bengkel perut alias warung makan kecil, mereka duduk bersampingan sambil menyantap sup ayam yang dipesan. Ditemani segelas es jeruk, keduanya tampak bahagia saat berbagi makanan panas itu.
"Aku sudah meminta saran dari Ken, tapi Ken tidak sependapat denganku. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan jika kau berada di posisiku ini?" tanya Nara sambil meneguk es jeruknya.
Nara menceritakan dilema yang ia alami tanpa menyebutkan nama kedua gadis yang berada di dalam lingkaran kusut hatinya. Ia berharap Sai bisa memberikan jalan keluar.
"Jadi kau setuju dengan pendapat Ken dan tidak memedulikan perasaanku?" tanya Nara lagi.
"Bukannya begitu, tapi memang ada baiknya jika kau selesaikan satu perkara terlebih dahulu, baru beranjak ke perkara yang lain. Hal itu juga berdampak kepada dirimu sendiri, agar pikiranmu dapat terfokus. Kecuali ...," Sai meneguk esnya.
"Kecuali apa, Sai?" tanya Nara yang sangat antusias mendengarkan Sai.
"Kecuali kau dapat menyelesaikan dua perkara sekaligus. Itu tak apa, asal jangan mengganggu aktivitasmu saja," lanjut Sai lagi.
__ADS_1
Nara terdiam, ia berusaha memaknai apa yang dikatakan Sai kepadanya.
"Aku sudah menganggapmu sebagai seorang sahabatku, Nara. Maka dari itu aku memberikan saran yang terbaik. Dan perlu kau ketahui, seorang sahabat tidak akan pernah menjerumuskan temannya sendiri." Sai menepuk pundak kiri Nara, kebetulan ia duduk di sebelah kiri pemuda bermata biru itu.
“Begitu, ya?” Nara berpikir.
"He-em." Sai tersenyum kepada temannya itu.
Akhirnya setelah berusaha menelaah semua saran dari teman-temannya, hati Nara bertekad untuk menemui Rie terlebih dahulu. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Rie, kekasihnya yang sekarang.
Mungkin benar yang dikatakan mereka. Aku harus menemui Rie untuk menyelesaikan masalah ini.
Selepas makan, ia kemudian berpisah dengan Sai. Berjalan pulang ditemani angin siang yang menyejukkan. Di pertengahan jalan pulangnya, tiba-tiba terlintas sosok mantan yang selalu setia bersamanya. Bayang-bayang gadis itu seolah menghantuinya. Dan kini hanya ada penyesalan yang merenggut kedamaian jiwanya.
Shena, tunggu aku ....
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Maka pertimbangkanlah dengan baik sebelum penyesalan itu mengambil alih jiwamu.
__ADS_1