
Tujuh jam kemudian di kampus Nara…
Nara telah menyelesaikan semua jam kuliahnya hari ini. Ia kini tengah berjalan bersama Ken, melintasi lapangan basket di kampusnya. Yang mana tampak dipakai bermain oleh beberapa mahasiswa lainnya.
"Nara, kau lihat itu?" Ken menunjuk seseorang sambil membawa tas punggung hitam yang disampirkan di pundak kirinya.
"Yang mana?" tanya Nara lagi.
"Itu yang memakai kaca mata!" tunjuk Ken ke arah seorang pemuda yang sedang bermain basket.
"Siapa dia?" tanya Nara lagi.
"Dia Sai, calon anggota baru kita," jawab Ken sambil tersenyum kecil.
"Apa?!" Nara terbelalak mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, Kawan. Dia sangat jago bermain keyboard. Dia sangat pantas mendapatkan posisi itu di band kita," lanjut Ken.
"Kau yang benar saja, Ken. Dia itu berkaca mata. Bagaimana bisa mengiringi band kita nanti?" tanya Nara yang ragu.
"Hei, Nara. Jangan pernah melihat seseorang hanya dari luarnya saja. Jangan sok tahu! Kau belum mengenalnya lebih jauh, kan?" desak Ken.
"Bukan begitu, Ken. Aku hanya khawatir jika nanti dia tidak bisa mengiringi lagu yang akan kita bawakan. Bisa-bisa habis kita dilahap si buah cery beracun itu," tutur Nara sambil mengingat nama seorang gadis yang tak lain adalah kekasih Ken sendiri.
"Hahaha. Kau tenang saja, Nara. Aku sudah membicarakan hal ini kepada Cherry dan dia menyetujuinya," balas Ken, berusaha menenangkan temannya.
"Baiklah, sudah diputuskan. Besok kita akan bertemu di studio jam sepuluh pagi. Jangan sampai telat datang, ya." Ken berpesan kepadanya.
"Hah, baiklah," sahut Nara yang malas.
Mereka kemudian berjalan bersama menuju gerbang kampus. Kedua sahabat itu lalu berpisah, Ken pulang bersama Cherry, sedang Nara pulang sendiri. Ia berjalan kaki keluar dari kampusnya lalu pergi menuju stasiun kereta.
__ADS_1
"Untung saja hari ini aku tidak bertemu Dosen Ayumi. Kalau iya, habislah aku!" ucapnya sambil terus berjalan menuju stasiun kereta api bersama mahasiswa yang lainnya.
Di stasiun kereta api…
Beberapa menit kemudian, Nara telah sampai di stasiun kereta api yang berada tak jauh dari kampusnya. Seperti biasa, Nara menunggu kedatangan kereta api di gerbong ke lima. Ia menunggu sambil berdiri dengan sesekali melihat ke arah kanan dan kiri untuk menghilangkan rasa suntuknya.
Tak lama yang dinanti pun datang. Sebuah kereta api berhenti di stasiun tepat pada waktunya. Narapun menunggu para penumpang turun terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalamnya. Tanpa sengaja, ia melihat sesosok gadis berambut hitam panjang terkuncir satu, turun dari gerbang ke tujuh.
"Shena ...?"
Terbesit nama sang mantan saat ia melihat sosok gadis yang hanya dipisahkan satu gerbong kereta. Merasa diperhatikan, gadis itu pun menoleh ke arah kanannya, tepat di mana barisan gerbong ke enam, ke lima dan seterusnya berada. Sang gadis terkejut kala melihat seorang pemuda yang ia kenal sudah sangat lama.
"Nara …?" Gadis itu menyebut Nara sambil menatapnya dari jarak yang lumayan jauh.
"Shena, ternyata benar itu dirimu, Shena." Nara masih memandangi gadis itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Ada kenangan manis terlintas di benak Nara dan gadis yang memang benar adalah Shena. Mereka berdiri sambil tetap diam, menatap satu sama lain di antara banyaknya penumpang stasiun yang lalu-lalang. Shena pun teringat kenangannya bersama Nara. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.