Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Doa Harapan


__ADS_3

Sementara itu...


Ken singgah di rumah Nara yang tampak begitu sepi. Sementara Sai sudah lama pulang sejak latihan mereka selesai. Terlihat keduanya berjalan menuju rumah Nara yang berlantai dua.


"Jadi, kau pernah melihatnya di stasiun, Nara?" tanya Ken yang berjalan santai bersama Nara.


"He-em," angguk Nara.


"Berarti itu sudah merupakan suatu tanda untukmu," lanjut Ken sambil terus berjalan.


"Tanda?" Nara menoleh ke arah Ken yang berjalan di samping kanannya.


"Iya. Menurutku memang sudah saatnya bagi kalian untuk bertemu. Tapi bagaimana dengan Rie?" Ken kembali bertanya.

__ADS_1


Sejenak Nara terdiam, ia bingung untuk mengatakan isi hatinya. Ia akhirnya menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kuat, agar beban pikirannya berkurang.


"Mungkin kami sudah berakhir, Ken." Nara tiba-tiba berubah roman wajahnya.


"Berakhir? Secepat itu?" tanya Ken lagi.


"Ya, sepertinya. Walau belum ada kata putus yang terucap," jawab Nara sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Hei, Kawan. Jangan dilema seperti itu. Bagaimanapun Rie masih berstatus sebagai kekasihmu. Sebagai seorang pria, jangan terlalu menunjukkan sisi ego. Wanita itu ingin dimengerti. Cobalah kau temui Rie dan bicarakan baik-baik bagaimana kelanjutan hubungan kalian. Setelah ada kata putus, barulah kau fokus mencari Shena," tutur Ken memberikan saran.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di depan pintu rumah Nara. Keduanya segera masuk lalu menuju lantai dua kediaman pemuda bermata biru ini. Ken sendiri tidak dapat memberikan banyak nasehat karena roman wajah sang sahabat tiba-tiba berubah. Namun, Ken seakan mengerti apa keinginan sahabatnya tanpa harus diucapkan terlebih dahulu.


"Ya, baiklah. Semua keputusan ada di tanganmu, Nara. Sebagai seorang sahabat aku hanya bisa memberikan saran yang terbaik. Semoga semesta menuntunku." Ken menepuk pundak Nara.

__ADS_1


"Terima kasih, Ken. Saat ini hanya kau yang aku punya. Aku tidak tahu harus cerita kepada siapa lagi." Nara tersenyum.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Mari kita menikmati hari libur ini." Ken menenangkan hati sahabatnya.


Mereka lalu melanjutkan aktivitas, membuat sebuah lagu sambil mencari not yang pas untuk lagu ciptaan band mereka. Bermodal gitar akustik, Nara berusaha menghibur hatinya dengan memetik satu per satu senar gitarnya. Ia mencoba mengikuti ke mana semesta menuntunnya.


Shena, aku akan mencarimu. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Kumohon tunggulah aku.


Nara berbisik di dalam hatinya. Sebuah tekad muncul dan memacu semangatnya untuk terus berkarya. Ia ingin Shena mengetahui keberhasilannya, mewujudkan cita-cita yang selama ini ia impikan.


Ken sendiri masih setia menemani sang sahabat. Persahabatan yang muncul karena perkelahian hebat itu membuat ikatan batin di antara keduanya terjalin dengan erat. Dalam setiap kesempatan, Ken selalu berusaha ada untuk Nara. Seseorang yang telah memberikan arti hidup untuknya.


Keduanya bersahabat sudah sangat dekat, bahkan bisa dikatakan seperti saudara sendiri. Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi, keduanya sudah saling terbuka satu sama lain. Dan mereka juga tidak mudah tersinggung jika diingatkan, seperti kakak-beradik yang tidak berbeda jauh usianya.

__ADS_1


Nara, aku tahu ini berat untukmu. Tapi semoga saja yang terbaik menyertaimu. Semoga setelahnya kehidupan akan berjalan lebih baik lagi. Dan kau bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Ken, sahabat Nara yang satu ini tidak henti-hentinya mendoakan. Bagaimanapun kebahagiaan Nara adalah kebahagiaannya juga. Dan Ken berdoa yang terbaik untuk Nara.


__ADS_2