Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Pertemuan


__ADS_3

Senin, pukul dua siang waktu setempat…


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Namun, tak ada yang menyahut. Tampak dua lelaki dan seorang gadis masih menunggu dibukakannya pintu. Salah seorang di antaranya bernama Ken, pria berambut emo, berkaus hijau dibalut jaket kulit hitam. Ia tampak berulang kali mengetuk pintu.


Lama sudah mereka menunggu, namun tetap saja pintu itu belum dibukakan. Ken kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menghubungi sang pemilik rumah.


Beberapa menit kemudian, Ken gelisah karena telepon darinya tidak terjawab juga. Selalu saja terdengar nada menunggu dan berakhir sendiri.


"Bagaimana, Ken. Apa terangkat?" tanya seorang pemuda berkacamata, memakai kardigan abu-abu yang berlengan penjang.


"Hn, tidak," jawab Ken singkat.


Tampak raut kecemasan di wajah seorang gadis. "Bagaimana ini? Aku takut jika terjadi sesuatu dengannya, Ken, Sai."


Dialah Cherry yang sangat mencemaskan keadaan Nara. Terlebih saat dirinya membaca status terakhir Nara tadi malam, di sebuah jejaring sosmed yang ada di ponselnya.

__ADS_1


Kau atau aku yang akan mati. PENGKHIANAT!!!


Kata-kata itu selalu terbayang di benak Cherry. Ia kemudian bergantian mengetuk pintu, sedang Ken terus mencoba menghubungi sang pemilik rumah yang tak lain adalah Nara. Sai sendiri memundurkan langkah kakinya ke belakang, mencoba melihat keadaan kamar Nara yang berada di lantai dua. Sai kemudian mengambil kerikil lalu melemparkannya ke atas, tepat di mana kamar Nara berada. Mereka masih tampak menunggu dibukakannya pintu.


Sementara itu, di lain tempat...


"Selamat datang."


Gadis berbusana pelayan kedai terlihat menyambut pengunjung yang datang. Wajah santun kala dirinya menyapa kedatangan pengunjung, seketika berubah drastis di saat melihat siapa gerangan yang datang ke kedainya. Seorang pria bertubuh tinggi, berkemeja biru metalik berlengan panjang, masuk ke dalam kedai yang sedang dijaganya.


"Kau—" Gadis yang bernama Hana itu tak percaya jika pengunjung yang datang kali ini adalah...


Sang pria tampak tidak mengenali Hana, sedang Hana seperti mengenal dekat pria itu.


"Kau, kan ... Ryuuto?" tanya Hana tak percaya.

__ADS_1


"Ehhh?" Pria yang memang benar adalah Ryuuto itu tampak bingung sendiri.


"Dasar kau ... humas bodoh!" Hana kemudian berkata di luar tata kramanya sebagai pelayan kedai.


"Emm, siapa ya? Sepertinya kau mengenalku?" Ryuuto merasa bingy.


Hana lalu keluar dari area kasir, ia mendekati Ryuuto sambil membuka kunciran rambut dan bando berenda putih yang ia pakai. "Lihat aku, kau masih tidak mengenaliku?!" tanya Hana sambil meminta Ryuuto untuk melihatnya lebih jelas.


"Errr..."


Ryuuto menggaruk-garuk pelipis kanannya. Ia sungguh tidak sadar siapa gerangan gadis yang sedang berada di hadapannya ini.


"Hufft." Hana mengembuskan napasnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


"Baiklah, apa kau masih tidak ingat dengan bendahara OSIS di SMA-mu dulu? Apa masih tidak ingat saat bendahara itu memintamu untuk membuka sepatu, karena kau biasa menyimpan uangmu di dalam sepatumu? Apa masih tidak ingat saat bendahara itu mengejarmu sampai di gerbang sekolah hanya untuk menagih uang iuran yang belum kau bayarkan? Apa kau—"

__ADS_1


"Cukup-cukup."


Ryuuto menghentikan ucapan Hana sebelum gadis itu melanjutkan perkataannya. Hana pun terdiam sambil memejamkan matanya. Ia menunggu Ryuuto mengingat siapa gerangan dirinya itu. Sedang Ryuuto sendiri mulai menyadari siapa gadis yang ada di hadapannya ini.


__ADS_2