
Esok harinya…
Kabar gembira atas lolosnya D'Justice yang maju ke babak semifinal, membuat pemuda bermata biru ini girang bukan main. Ia semakin bersemangat meraih mimpi.
Lusa akan segera dilakukan tahap kedua babak eliminasi. Nara dan kawan-kawan semakin serius dan menambah waktu sesi latihan mereka. Rupanya walau aktivitas yang kian sibuk, tidak membuat Nara melupakan sang mantan.
"Shena ...," Ia pandangi gelang pemberian dari Shena saat duduk di bawah rindangnya pohon kampus. "Aku berjanji setelah festival ini, aku akan berlari mengejarmu," ucapnya pelan.
Nara berusaha memfokuskan dirinya untuk menggapai cita sebelum cinta itu ia raih kembali. "Maafkan aku, Shena," ucapnya lagi sambil terus memandangi gelang pemberian dari Shena.
"Iya, aku maafkan."
Tiba-tiba terdengar suara menyahuti perkataannya. Seketika jantung Nara berdebar kencang saat mendengar suara itu. Ia lalu berbalik dan melihat ke asal suara.
"Hyyaaaa!"
Nara terkejut saat melihat sosok berkemeja putih memakai topeng dewa kematian, dari balik pohon tempatnya bersandar. Hampir saja jantungnya copot.
"Hahaha."
__ADS_1
Sosok itu tertawa geli. Ia kemudian melepas topengnya, senang karena telah berhasil mengerjai Nara.
"Ken, kau ini! Arrghhh!" Nara kesal bukan main karena ternyata Ken lah yang sedang menakut-nakutinya.
Ken duduk di samping Nara lalu melepas tas kuliahnya. "Kau masih memikirkannya, ya?" sela Ken yang mengalihkan kekesalan Nara.
Pemuda bermata biru itupun menyandarkan tubuhnya seperti semula. "Ya, begitulah," jawab Nara seadanya.
"Hn, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku rasa hatimu memang jatuh kepadanya," ungkap Ken sambil menekuk kaki kirinya.
"Ya, mungkin. Berkat saran darimu, aku dapat menentukan mana yang terbaik." Nara tersenyum seraya menoleh ke arah Ken.
"Maksudmu?" tanya Nara.
"Jika kau bergaul dengan orang-orang yang berpikiran positif, maka secara tidak langsung mindset otakmu juga akan ikut positif, begitupun sebaliknya. Sama dengan orang-orang yang suka berbicara kotor, itu tidak lain karena ruang lingkupnya kotor."
Nara mendengarkan.
"Keluarga, teman, dan pergaulan mereka tidak mempunyai etika dan estetika sama sekali. Peran orang tua yang mendidik anak-anaknya pun jauh dari kata berhasil. Malahan mungkin orangtuanya sendiri yang secara tidak langsung mengajari anak-anaknya berkata kotor," lanjut Ken.
__ADS_1
Nara berpikir sejenak, berusaha memahami maksud perkataan sahabatnya itu.
"Aku mengerti, maka dari itu aku tidak salah memilihmu menjadi sahabatku, Ken." Nara tersenyum seraya berusaha memeluk Ken.
"Hei! Kau ini apa-apaan!" Ken menolak mentah-mentah ulah Nara yang usil.
"Tak apa, Ken. Sebentar saja." Nara merayu Ken, memasang mata binarnya agar Ken mengizinkan memeluknya.
"Hih! Kau menjijikan, Nara!" Ken segera bangkit lalu beranjak meninggalkan Nara.
"Hei! Kau mau ke mana?!" tanya Nara yang bingung.
"Ke ruang BEM, mengajukan proposal," jawab Ken seraya berjalan menjauh.
"Aku ikut!" Nara segera memakai sepatunya lalu berlari mengejar Ken.
Ken dan Nara menuju ruangan BEM untuk mengajukan proposal atas keikutsertaan band-nya dalam festival musik yang diadakan Kekaisaran Jepang. Semangat jiwa muda tengah berkobar di hati mereka. Keduanya pun saling mendukung satu sama lain, terlepas dari perbedaan yang ada.
Ken adalah pemegang juara dua ilmu bela diri tingkat kota yang dikalahkan Nara di detik-detik terakhirnya. Mantan lawan itu akhirnya menjadi kawan dan kini mereka sudah sangat akrab, layaknya saudara kandung sendiri.
__ADS_1