Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Pengumuman Band


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Waktu yang ditunggu telah tiba. Satu harian penuh Nara, Ken, Cherry dan Sai beradu di babak semi final, seleksi tahap kedua festival band kampus seantero Jepang.


Acara seleksi dimulai pada pukul delapan pagi dan berakhir pada pukul sepuluh malam. Sungguh amat menyita waktu. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan ganasnya para dewan juri. Bagai sedang menghadapi sidang skripsi yang menguji sampai sejauh mana pengetahuan mereka tentang musik.


Sepulang dari tahap seleksi yang amat melelahkan, mereka bermalam di rumah Nara. Dan untuk yang pertama kalinya, Cherry menginap di kediaman pria. Tapi ia tidur di kamar lantai satu, berpisah dengan ketiga personil lainnya yang tidur di lantai dua.


Esok harinya, barulah mereka membuka situs resmi Departemen Kesenian Jepang, untuk melihat nama band yang lolos ke babak final. Mereka sangat antusias melihat hasil pengumuman ini.


"Ayo, Cherry! Cepat buka situsnya!" Nara sudah tidak sabar menunggu.


"Bersabarlah, Nara. Aku lihat seleksi penulis dulu," sahut Cherry yang duduk ditemani Ken.


"Hah, payah!"


Nara lalu memisahkan diri dan beranjak menemui Sai yang sedang membuat sarapan di dapur. Ia kesal karena keinginannya ditunda-tunda oleh Cherry.

__ADS_1


"Tidak ada namamu, Sayang." Ken ikut melihat daftar karya penulis yang masuk sepuluh besar.


"Iya, aduuhh." Cherry memperhatikan dengan saksama, satu per satu karya tulis dari nilai teratas."


"Kemarin karyaku masuk seratus besar. Tapi sekarang ...." Cherry depresi karena tidak melihat judul karyanya di urutan sepuluh besar.


Ia terus men-scroll ke bawah daftar urutan tersebut. Dan ternyata, ia menemukan judul karya tulisnya berada di urutan ke-28.


"Huhuhu..."


"Sudahlah, Sayang. Kamu sudah amat luar biasa dapat berada di urutan ke dua puluh delapan dari tiga ratus lima puluh judul karya tulis yang diikutsertakan. Selamat, ya." Ken merangkul Cherry yang bersedih.


"Oi, oi. Jangan membuat kami iri dengan ulah kalian yang so sweet itu!" Nara datang membantu Sai membawakan sarapan.


"Aku jadi rindu Hima." Sai melirik ke langit-langit rumah.


Melihat hanya dirinya yang berstatus jomblo, Nara menggerutu sendiri. "Kasihan sekali nasibku ini, huh nasib!" Ia malah curhat.

__ADS_1


Sai segera menghidangkan sarapan pagi ke atas karpet kecil yang sebelumnya telah ia hamparkan. Kekasih dari Hima, teman sekantor Shena ini ternyata bisa juga memasak. Aroma sedap dari masakannya pun menggugah selera.


"Baiklah, saatnya kita membuka situs festival musik." Ken mengambil alih laptop Cherry.


Mereka kemudian mengerubungi Ken, melihat situs pengumuman band yang masuk sepuluh besar.


"Oh, Tuhan ... tolong kami." Nara tampak cemas.


"Semoga saja kita masuk." Sai menimpali sambil terus melihat nilai band dari urutan teratas.


Detik demi detik pun berlalu, menit demi menit terlewati. Sudah di urutan ke lima, mereka belum juga menemukan nama D'Justice.


"Aduh, bagaimana ini? Kita tidak masuk lima besar!" Nara semakin tidak karuan.


Cherry terlihat meneteskan keringat karena rasa cemas yang berlebihan. Jari Ken pun gemetar saat terus men-scroll ke bawah, melihat urutan nama band yang lolos ke babak final. Sai sendiri terlihat menatap layar laptop tanpa berkedip sedikit pun.


"Tidak, tidak!" Nara semakin gugup saat melihat daftar band lolos sudah mendekati akhir.

__ADS_1


__ADS_2