
Beberapa menit kemudian...
Cherry, Ken, Nara dan Sai baru saja menyelesaikan latihan mereka. Kini keempatnya beristirahat sejenak sebelum menjalani jadwal kegiatan selanjutnya.
"Hah, akhirnya." Cherry meletakkan mic lalu meneguk sebotol air mineral.
"Kita sudahi latihan hari ini." Ken ikut menaruh stik drum-nya sambil beranjak dari duduk.
"Dua jam kita lalui untuk mengatur ulang irama lagu ini. Aku berharap sudah final." Sai juga ikut mengambil sebotol air mineral miliknya.
"Bagaimana, Nara?" Ken bertanya kepada Nara yang tampak diam sedari awal latihan.
"Em, itu ...," Ia terkejut saat Ken menegurnya. "Aku rasa kita perlu menambahkan aksen bass pada lagu ini. Ya, walaupun hanya berperan sedikit. Bagaimana menurut kalian?" Nara mengajukan pendapatnya.
Ken tampak berpikir begitu pun dengan Sai dan Cherry.
"Hem, baiklah. Aku rasa aksen bass memang tidak bisa lepas dari sebuah lagu." Sai menyetujui pendapat Nara.
"Oh ya, Nara. Kau sudah menulis lagu ke duanya?" Ken bertanya lagi setelah meneguk air mineralnya.
__ADS_1
"Hm, sudah. Sebentar."
Nara segera keluar dari ruang latihannya. Ia lalu mengambil lembaran kertas yang ada di dalam tasnya. Namun ternyata, tas punggung hitamnya itu ada di atas sofa, tempat di mana Shena dan Rose duduk bersama.
Saat Nara mengambil lembaran kertas berisi lagu, Rose beranjak dari duduknya lalu mengusap dahi Nara yang berkeringat. Tentu saja hal itu membuat Nara tidak enak hati kepada Shena.
"Nara, sepertinya kau kelelahan." Rose mengusap dahi Nara dari jarak yang dekat.
Adegan itu terlihat jelas di kedua mata Shena. Nara pun melirik ke arah mantannya, tapi Shena segera membuang pandangannya dari Nara.
Shena ....
"Nara!" Tiba-tiba Gabril datang dan langsung memeluk Nara di hadapan Rose dan juga Shena. "Aku rindu padamu." Gabril mencubit kedua pipi Nara dengan gemasnya.
Satu masalah belum selesai, kini bertambah lagi masalah yang baru. Nara pun kelabakan dibuatnya.
"Em, Gabril. Ak-aku ...." Nara terbata lalu berusaha melepaskan diri.
"Kau tahu, aku diizinkan kak Lusy untuk ikut serta bersamamu. Aku senang sekali."
__ADS_1
Lagi-lagi Gabril memeluk Nara. Gadis yang datang mengenakan jumpsuit hitam itu begitu semringah. Sayangnya jumpsuit yang ia kenakan terbuka di bagian dada, sehingga membuat Nara tidak fokus melihatnya.
Astaga ... mengapa harus seperti ini?
Sifat Gabril yang tidak ketulungan, membuat Rose diam dan tidak dapat menyalurkan perhatiannya kepada Nara. Apalagi Shena yang memang masih menyimpan rasa untuk pemuda bermata biru ini.
"Gabril, tolong lepaskan. Ini jam kerja." Nara melepaskan kedua tangan Gabril yang melingkar di lehernya.
Betapa sakit yang Shena rasakan saat melihat Nara dipeluk begitu saja oleh gadis lain. Terlebih Nara seperti menerimanya. Walaupun akhirnya, pemuda itu melepaskan diri dari pelukan Gabril.
Nara ....
Shena berusaha tabah melihat adegan yang tak diinginkannya. Karena bagaimanapun Shena masih menyimpan rasa kepada Nara.
Kepahitan itu harus Shena telan mentah-mentah, saat sang mantan mendapat perlakuan khusus dari gadis-gadis cantik di sekelilingnya. Ia pun berusaha mengalihkan diri dengan fokus terhadap pekerjaannya.
Shena, maafkan aku. Aku tidak bisa mengendalikan situasi ini.
Lain Shena, lain juga Nara. Sang pemuda bermata biru segera mengambil lembaran kertas lagunya lalu kembali masuk ke dalam ruang latihan. Ia terlihat terburu-buru, seperti sedang melarikan diri dari ketiga wanita yang ada di sekelilingnya.
__ADS_1