
Esok harinya…
Pagi ini Nara bersiap-siap untuk menemui manajernya. Ia pun bergaya maskulin nan sporty. Mengenakan kaus putih dibalut kemeja hitam lengan pendek yang kancingnya dibiarkan terbuka, dan juga celana jeans biru serta sepatu sport putihnya. Ia bersiap-siap menuju kantor Sony Music Entertainment Jepang.
“Kau sudah siap ke sana, Nak?” Sang ibu membawakan sarapan untuknya.
“Sudah, Bu,” jawab Nara sambil memakai sepatu di sofa ruang tamunya.
Sang ibu meletakkan sarapan ke atas meja. “Ikhlaskan semuanya. Jangan lagi ada beban. Ibu yakin setelah ini akan ada gantinya. Cuma memang kita tidak tahu saja.” Sang ibu menyemangati seraya memegang pundak anaknya.
“Iya, Bu.” Nara tersenyum kepada ibunya.
Nara kemudian segera menyantap sarapan paginya sebelum berangkat ke kantor Sony Music. Tapi, saat baru beberapa kali menyuap ke dalam mulut, tiba-tiba saja dering ponsel menyadarkannya. Nara pun segera melihat siapa gerangan yang meneleponnya pagi-pagi.
“Gabril?” Nara terkejut saat melihat Gabril yang meneleponnya.
“Siapa Nara?” tanya sang ibu yang duduk di samping anaknya.
“Gabril, Bu. Gadis berambut pirang panjang itu," kata Nara.
__ADS_1
“Oh, angkat saja, siapa tahu ada hal penting.” Shina menyarankan.
Nara mengangguk. Ia kemudian mengangkat telepon dari Gabril. “Halo?” jawabnya sambil mengunyah makanan.
“Nara, apa kau masih di rumah?” tanya suara dari seberang.
“Aku masih di rumah sekarang, tapi akan berangkat ke Sony Music. Kau sendiri di mana, Gabril?” tanya Nara kepada seseorang yang memang benar adalah Gabril.
“Aku di dekat rumahmu, tepatnya di rumah salah satu pembantu ayahku dulu. Aku sedang menginap di sini.” Gabril menjelaskan.
“Ha?!” Nara pun tersentak kaget.
Nara berpikir sejenak. “Em, baiklah. Aku akan ke sana,” jawab Nara segera.
Tak lama telepon keduanya pun terputus.
“Kenapa, Nara?” Sang ibu tampak khawatir.
“Gabril minta jemput, Bu. Katanya dia di rumah pembantu ayahnya dulu, di blok C nomor 28.” Nara lekas-lekas menghabiskan sarapan paginya.
__ADS_1
“Oh, rumah bibi Tosaka.” Sang ibu pun menyadari.
“Ibu kenal?” tanya Nara kepada ibunya.
“Cuma sebatas tahu saja. Dia seusia nenekmu juga dan rumahnya memang di sana,” kata sang ibu lagi.
Nara pun terdiam.
Pantas saja waktu itu aku bertemu dengannya di depan gang. Berarti sebelumnya dia sering berkunjung ke komplek ini, ke tempat pembantu ayahnya dulu? Astaga, kenapa aku merasa dunia ini begitu sempit sekali?
Kini Nara mengetahui alasan mengapa ia bisa bertemu dengan Gabril malam itu. Ternyata pembantu ayah Gabril tinggal di sekitar kawasan perumahan Nara. Namun, berbeda blok saja.
“Aku berangkat, Bu.” Nara pun segera berpamitan seusai menghabiskan sarapan paginya.
“Hati-hati, Nak.” Shina mengiyakan, melepas keberangkatan putranya.
Nara tersenyum, ia melangkahkan kaki keluar rumah, menuju mobilnya. Ia pun melambaikan tangan kepada sang ibu sebelum masuk ke dalam mobil. Tampak Shina yang tersenyum kepada putra semata wayangnya itu. Ia amat berharap Nara bisa mendapatkan kebahagiaannya.
Mungkin ada baiknya jika aku tidak memaksanya untuk ikut ke Hokkaido. Dia mempunyai kehidupan sendiri di sini. Semoga saja dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Doa ibu selalu menyertaimu, Nak.
__ADS_1
Setelah mengantarkan keberangkatan Nara, Shina pun lekas-lekas menutup pintu rumahnya. Sebuah rumah yang menjadi saksi cintanya dengan Shimura. Namun, sayangnya cinta itu telah pergi terbawa masa. Dan kini Shina hanya dapat merelakan semuanya. Ia mengikhlaskan apa yang telah terjadi, namun akan berpikir ulang untuk kembali.