
Esok harinya...
Cuaca pagi ini tampak cerah dan terasa hangat. Butiran salju pun mencair terkena sinar sang mentari. Angin pagi mulai memenuhi sebuah gedung penting yang ada di kota Tokyo. Sebuah gedung tempat di mana masalah diberaikan.
Saat ini seorang pemuda tengah memasuki ruang persidangan. Ia akan melakukan mediasi dengan pihak keluarga penggugatnya. Dialah Nara yang mengenakan kemeja putih dan celana dasar hitamnya, ia bak ingin melamar kerja.
Hari ini Nara harus menghadapi persoalan yang diajukan oleh si penggugat di ruang mediasi. Siapa lagi kalau bukan ayah dari Yudo, Hisei. Pria paruh baya hampir berusia lima puluh tahun itu tampak menunggu di luar ruang persidangan. Ia meminta kepada pengacaranya agar menuntut Nara seberat-beratnya.
"Aku sudah membayar mahal kalian. Aku ingin pemuda itu tidak lagi merasakan keindahan dunia. Buat dia merasa terpuruk sehingga kabar kematiannya segera kudengar." Hisei berpesan kepada dua pengacaranya.
"Anda tenang saja, Tuan Hisei. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan gugatan ini." Salah satu pengacaranya meyakinkan.
"Baik, aku tunggu kabarnya." Hisei pun beranjak pergi bersama seorang pengawal pribadinya.
__ADS_1
Hisei mengajukan gugatan ke pengadilan untuk menuntut pertanggungjawaban Nara atas terbunuhnya sang putra, Yudo. Ia tidak ingin Nara berkeliaran bebas sedang putranya telah masuk ke peti mati.
Hisei menginginkan Nara merasakan apa yang putranya rasakan. Ia ingin Nara mati perlahan-lahan sebagai harga tebusan karena telah membunuh putranya. Ia juga telah membayar mahal kedua pengacara kondang untuk menjatuhkan mental Nara di persidangan. Tak ayal hari ini menjadi hari yang berat untuk dilaluinya.
Shina, ibu kandung dari Nara pun tidak tinggal diam. Ia meminta bantuan seorang pengacara untuk proses mediasi anaknya. Dan kini ia duduk di kursi hadirin untuk melihat proses mediasi sang putra. Nara pun didudukkan di tengah-tengah sebagai terdakwa, sedang pengacaranya di sebelah kanan. Dan pihak penuntutnya berada di sebelah kiri. Ia bak seorang kriminal yang sedang diadili.
Tak lama, para hakim mulai memasuki ruang mediasi persidangan. Begitu juga dengan Ken yang segera menemui Shina, ibu dari Nara. Ia menyapa ibu temannya sebelum duduk di kursi.
"Bibi." Ken menegur Shina.
"Apakah aku terlambat?" tanya Ken lalu duduk di sebelah Shina.
"Tidak, Ken. Mediasi baru saja akan dimulai. Kau datang sendiri?" tanya Shina yang melihat Ken seorang diri.
__ADS_1
"Benar, Bibi. Aku hanya datang sendiri. Ayah memberi tahu jika hari ini Nara sudah memulai persidangannya. Aku harap proses mediasi ini berjalan dengan lancar sehingga Nara tidak perlu menjadi tahanan tetap pihak kepolisian." Ken berharap.
"Ya, bibi juga berharap begitu. Ayahmu banyak menceritakan apa yang terjadi pada Nara. Bibi sangat terkejut, benar-benar tidak menyangka jika Nara akan mengalami hal seperti ini." Shina mengungkapkan perasaannya.
Seketika Ken terdiam. Ia juga ikut merasakan apa yang Shina rasakan. Terlebih Ken mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Haruskah aku memberi tahu Nara atas apa yang terjadi di kantor Sony Music? Jika dia tahu, pastinya akan lebih frustrasi. Musibah datang beruntun tanpa mengenal rasa kasihan padanya. Aku harap Nara kuat menghadapi semua ini.
Ken masih menyimpan perihal Sony Music yang ingin mengeluarkan Nara dari pihak label rekaman. Ia tidak tega mengatakan hal ini kepada Nara langsung. Ken masih berharap Cherry dan Sai berhasil meminta bantuan Gabril agar pihak label tidak jadi mengeluarkannya.
Selang beberapa menit kemudian, mediasi persidangan pun dimulai. Pihak penggugat mulai membacakan gugatannya di hadapan hakim, sedang pengacara Nara menunggu gilirannya tiba untuk bicara. Dan pagi ini menjadi saksi kepasrahan Nara terhadap takdirnya.
...
__ADS_1
Bagian Ke-dua Tamat