Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Video Asusila


__ADS_3

Tokyo, 01.00 am...


Nara baru saja mempersiapkan perlengkapan untuk syuting video klipnya. Ken bersama Sai pun sengaja menginap di rumahnya malam ini.


Hari yang lelah telah dilewati. Tapi saat pergantian hari, sebuah dering telepon mengusik tidurnya. Dan karena tidak ingin mengganggu kedua temannya yang sedang tertidur, Nara kemudian mengangkat telepon itu di luar kamar. Namun, saat ingin mengangkat telepon tersebut, telepon itu malah terputus. Dan tak lama kemudian, sebuah video berdurasi lima menit diterima olehnya.


Di dalam video tersebut, terlihat Shena yang sedang duduk terikat di kursi, sedang Yudo mencoba merayunya. Yudo dengan berani merekam apa yang ia lakukan kepada Shena.


"Tolong, aku tidak dapat menahannya lagi." Yudo terus-menerus memohon kepada Shena sambil berlutut di hadapan sang gadis.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan sakiti aku!" jawab Shena, ia tidak bisa melakukan perlawanan karena kedua tangannya terikat ke belakang.


Yudo tampak tak bernurani berada di dalam ruangan yang seperti kamar itu. Ia kemudian melakukan sesuatu kepada Shena.


"Baiklah, aku akan memakai cara kasar untuk mendapatkanmu!" Yudo mulai melepas satu per satu pakaian yang Shena kenakan.


"Yudo, jangan!" Shena berteriak, berontak.


Yudo tidak menggubrisnya. Ia malah merobek paksa kemeja putih yang Shena kenakan. Ia melucuti pakaian Shena dengan kasar sehingga kancing kemejanya terlepas.

__ADS_1


"Kumohon hentikan, Yudo. Kumohon," rintih Shena yang mulai berderaian air mata.


Terlihatlah kemeja putih Shena yang telah terlepas dari tubuhnya. Kedua buah ranum yang terbalut bra hitam itu pun terlihat sangat jelas. Nara yang melihat video itu naik pitam seketika. Serasa seluruh darah yang ada di dalam tubuhnya mendidih, dan wajahnya pun memerah karena amarah yang memuncak.


"Bangsat!"


Nara tidak sanggup untuk melihat adegan selanjutnya. Ia terlihat mengepalkan kedua tangannya, pertanda kesal. Emosi pun merasuki seluruh relung jiwanya.


Ia kemudian mengaktifkan chip yang diberikan oleh Nidji dan Taka, untuk mengetahui di mana keberadaan lokasi nomor tersebut. Tak lama kemudian, muncul denah lokasi yang memerlukan waktu sekitar empat puluh lima menit perjalanan untuk sampai ke sana. Dan tanpa menunggu, Nara segera bergegas mempersiapkan diri menuju lokasi.


"Keparat kau, Yudo! Malam ini juga, kalau tidak kau maka aku yang akan mati!"


Sementara itu...


"Apa yang kau lakukan dengan video itu, Yudo?!" Shena bertanya dalam linangan air mata, sementara Yudo masih melihat layar ponselnya.


"Kau tidak berniat untuk menjebak Nara, kan?" tanya Shena dengan suara terisak.


Yudo pun menoleh ke arah Shena yang duduk terikat dengan pakaian sobeknya.

__ADS_1


"Shena, kenapa kau masih juga memikirkan Nara? Apa kau tidak ingat dia hilang begitu saja saat kau sedang mengandung anaknya? Kau tidak ingat akan hal itu?" Yudo menekankan intonasi perkataannya.


"Kau tidak berhak menghakimi Nara, Yudo!"


Shena masih saja terus membela Nara di hadapan Yudo setelah Yudo mencumbui seluruh tubuh atasnya. Yudo pun geram melihat sikap Shena yang masih menomorsatukan Nara. Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut sang gadis. Tapi, sebuah dering ponsel membuatnya harus segera mengangkat telepon.


"Kau tunggu sebentar." Yudo meminta Shena diam.


"Halo?" Yudo kemudian mengangkat telepon tersebut.


"Bos, target sedang bersama seorang pria di dalam apartemen. Apa yang harus kami lakukan?" tanya seseorang dari seberang.


"Hah! Kalian ini! Membawa satu orang saja sulit sekali! Cepat cari cara agar kedua orang itu keluar dari apartemen! Habisi saja pria yang kau maksud! Dan bawa Rie hidup-hidup menghadapku! Kalian mengerti?!" bentak Yudo kepada orang suruhannya.


"Baik, Bos. Kami akan segera memberikan kabar," sahut orang suruhan Yudo itu.


"Bagus. Jangan mengecewakanku!" Yudo lalu menutup teleponnya.


Rupanya Yudo menyuruh beberapa orang untuk membawa Rie kepadanya. Gangguan kejiwaan benar-benar telah membuatnya melampaui batas.

__ADS_1


__ADS_2