Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Harapan Seorang Teman


__ADS_3

"Nara?"


"Iya, benar. Kemarin aku sempat berbincang bersama Hima."


"Lalu?"


"Ken, kau tahu? Shena meninggal dalam keadaan mengandung." Sai terus terang.


"Apa?!!" Seketika Ken pun terkejut.


"Pihak rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan lanjutan karena kondisi Shena waktu itu amat lemah. Dan ternyata setelah dicari tahu, Shena sedang mengandung," kata Sai lagi.


"Ini berarti ...?"


"Ya, anaknya siapa lagi kalau bukan anak Nara. Shena cuma dekat dengan Nara," lanjut Sai.


"Astaga." Ken pun tak habis pikir.


"Ken, aku pikir semua masalah yang menimpanya karena Tuhan kasihan padanya." Sai mengungkapkan pemikirannya.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Ken yang bingung.


"Ya, menurutku Tuhan tidak ingin Nara memikul banyak dosa, sehingga dosa-dosa itu harus dia tebus dengan musibah ini." Sai menekuk kedua kakinya.


Ken menghela napas panjang. "Entahlah, Sai. Aku juga tidak habis pikir kenapa semuanya beruntun seperti ini." Ken tertunduk lemas.


"Coba kau bayangkan, dia harus berhadapan dengan Yudo karena Yudo menculik Shena. Dia juga hampir mati jika Shena tidak melindunginya. Belum lagi dia harus ditahan oleh pihak kepolisian. Dia pun ditinggal Shena dan kini kehilangan mimpinya untuk terus melangkah di label rekaman. Dan mungkin akan masih banyak lagi." Sai mengungkapkan.


"Hah ... entahlah. Tapi mungkin ada benarnya apa yang kau katakan. Dia mendapat karma dari perbuatannya sendiri."


"Ken, yang aku khawatirkan bukan karena dia membunuh Yudo," lanjut Sai lagi.


"Maksudmu?"


Sai, kau benar. Aku juga merasa demikian.


Ken tidak sanggup mengiyakan perkataan Sai tentang Nara. Walaupun ia merasakan perkataan Sai itu memang ada benarnya. Terlebih ia mengetahui jika Rose bunuh diri saat tengah mengandung anak Nara. Praduga Sai masuk ke dalam logikanya.


"Ken, kau baik-baik saja?" tanya Sai yang melihat Ken diam saja.

__ADS_1


"Em, ya. Mungkin lebih baik kita doakan yang terbaik untuknya. Semoga setelah ini Nara bisa menemukan jati dirinya. Dan semoga saja ada jalan untuk kita bersama kembali." Ken berharap.


"Kau sudah mencari pengganti Nara?" tanya Sai lagi.


"Belum. Tapi aku sudah mempunyai ancang-ancang jika kita diminta manggung," jawab Ken.


"Kau akan mengambil gitaris dari band lain?" tanya Sai antusias.


"Sepertinya tidak. Mungkin aku akan meminta tolong gitaris Black Pepper untuk mengisi kekosongan sementara D'Justice," kata Ken lagi.


"Eh, kau serius?!" Sai tidak percaya.


"He-em. Kita masih satu label, sepertinya tidak akan sulit." Ken mengungkapkan.


"Hm, baiklah. Aku ikut saja." Sai akhirnya mengiyakan.


Mau tak mau Ken mencari pengganti Nara untuk sementara waktu. Ia juga sudah mempunyai rencana jika akan meminjam gitaris band juara pertama musim ke dua festival. Ken tidak ingin jauh-jauh mencari karena ia masih berharap Nara bisa kembali ke D'Justice.


Menjelang petang ini Ken berusaha mengabaikan kabar yang ia dengar dari Sai. Ia tidak menyangka jika Nara belum juga bisa belajar dari kesalahannya. Kabar dari Sai tentu saja menambah daftar hitam perbuatan temannya. Namun, Ken tetap berpikiran positif. Semoga setelah ini Nara bisa tersadar dan tidak mengulangi kesalahannya. Ken berharap Nara bisa berubah total dari perbuatan buruknya.

__ADS_1


__ADS_2