Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Rindu Ibu


__ADS_3

"Hn, sudahlah. Jangan berdiam seperti itu. Aku juga punya satu kabar baik untukmu." Ken berusaha menghibur sang teman.


"Kabar baik?" tanya Nara menanggapi.


"Iya, kabar baik. Kau mau tahu tidak?" canda Ken, menghibur kawannya.


"Jangan terlalu banyak basa-basi kepadaku, Ken. Kau tahu sendiri jika aku sulit mengerti ucapan klisemu!" sahut Nara dengan sewotnya.


"Hahaha. Kau memang terlalu lama berpikir, Nara. Tapi jika masalah berkelahi, kau nomor satunya." Ken mencandai temannya.


"Tidak perlu terlalu memujiku. Kau juga hebat dalam pertarungan. Hanya saja waktu itu keberuntungan berpihak padaku." Nara mengingat pertandingannya melawan Ken di final kejuaraan bela diri tingkat kota waktu lalu.


"Hah, ya. Kadang keberuntungan bisa mengalahkan segalanya. Dan semoga ini juga bagian dari keberuntunganmu." Ken memberikan secarik kertas kepada Nara.


"Ini?" Nara pun menerimanya dan seketika ia terkejut.


"Pergilah ke rumah sakit ini dan cari ruangan ini." Ken menunjukkan sebuah alamat dan ruangan rumah sakit.


"Ken, ini adalah ...?"

__ADS_1


Nara bingung, hatinya pun menduga-duga. Ia melihat dengan saksama secarik kertas berisi tulisan yang Ken berikan padanya.


"Di ruangan ini ayahmu dirawat dan di ruangan ini juga ibumu sedang menunggu ayahmu tersadarkan," lanjut Ken.


"Ibuku?!" Nara terkejut.


"Ya, ibumu. Daripada aku yang menceritakannya, lebih baik kau sendiri saja yang mengetahui langsung akan kebenarannya. Semoga beruntung, Nara." Ken menepuk bahu Nara.


"Ken ...."


Nara begitu tersentuh dengan sikap Ken yang begitu peduli padanya. Tampak kedua matanya berkaca-kaca menahan haru atas kebaikan Ken.


"He-em." Nara mengangguk.


Tersirat senyum lebar dari wajah Nara akan kabar yang diterimanya. Ia bahagia karena akan bertemu dengan sang ibu. Setelah satu tahun tidak berjumpa, akhirnya takdir memberi jalan kepadanya untuk bertemu sang ibu.


"Terima kasih, Ken. Aku titip Shena sebentar." Nara bergegas pergi menuju alamat rumah sakit yang Ken berikan.


Ken tersenyum senang melihat sang teman dapat kembali ceria. Ia pandangi kepergian Nara dari hadapannya. Tampak Nara yang bersemangat melewati koridor rumah sakit.

__ADS_1


Syukurlah. Aku harap kau dapat menjadi dirimu yang dulu.


Ken berharap temannya dapat kembali seperti dulu. Yang ceria, bersemangat dan tidak pernah mengenal kata menyerah.


Satu jam kemudian...


Nara tiba di rumah sakit yang ditujukan oleh Ken. Ia lalu menanyakan ruangan yang tertulis kepada resepsionis rumah sakit. Tak lama, ia pun mendapatkan jawabannya. Dengan segera ia melangkahkan kaki menuju ruangan yang dituju.


"Ibu!"


Tak lama Nara tiba di depan ruangan. Ia pun melihat ibunya di dalam. Betapa senang hatinya saat melihat sang ibu tengah duduk memakai gaun pink di atas kursi, dekat dengan pembaringan ayahnya.


"Nara?!"


Sang ibu tampak terkejut melihat kedatangan putranya. Nara pun segera berlari menuju ibunya. Ia lalu memeluknya dengan hangat.


"Ibu."


"Nara ...." Tampak Shina yang mengusap-ngusap pundak Nara, anak kesayangannya.

__ADS_1


Mereka lalu melepas rindu setelah satu tahun lamanya tidak bertemu. Namun, ada hal aneh terlihat di kedua bola mata biru Nara. Ia melihat ibunya tampak sehat tidak seperti yang diceritakan oleh Ken. High heels berwarna perak pun membalut kedua kaki ibunya. Seketika itu Nara menyadari jika ibunya begitu cantik. Tapi, ia juga menyesali kenapa sang ayah sampai tega menceraikan ibunya.


__ADS_2