
"Iya, tidak apa." Cherry pun mengangguk, menerima.
"Saat ini aku masih memikirkan bagaimana cara untuk mengatakannya kepada Nara. Aku tidak tega menyampaikan hal ini kepadanya." Ken tampak lesu.
"Aku apalagi, Ken. Pastinya Nara akan amat sedih." Sai juga merasa bingung.
"Sudah, begini saja. Besok Nara kan ada di rumah, ibunya juga sedang berada di sana. Kita sampaikan saja hal ini baik-baik kepadanya. Semoga nanti dia bisa menerima hal ini. Pastinya bibi juga akan ikut menenangkan Nara." Cherry mengambil jalan keluar.
"Baiklah. Kalau begitu besok kita akan ke rumahnya." Ken akhirnya menyetujui.
"Kau ingin ikut, Gabril?" tanya Cherry kepada Gabril yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"He-em." Gabril pun mengangguk.
"Baik, sudah diputuskan. Besok kita akan menemui Nara. Tapi untuk malam ini mari kita bersantai sejenak, sebelum menghadapi hari esok yang pelik. Bersulang!" Sai mengajak ketiga temannya bersulang.
Sontak Cherry memasang wajah juteknya. "Hei, kau ini ada-ada saja, Sai." Cherry lagi-lagi menggerutu melihat tingkah Sai, namun ia tetap ikut bersulang.
"Hahaha, kalian ini." Gabril tertawa melihatnya.
Momen ini membuat Gabril ingin lebih dekat lagi dengan semua personil D'Justice. Cherry juga terasa membuka diri sehingga Gabril tidak merasa sungkan jika ingin mengajaknya bicara. Begitu juga dengan Ken dan Sai yang seolah-olah menempatkan diri jika Gabril adalah Shena. Keduanya berharap kehadiran Gabril bisa membuat Nara melupakan kesedihannya karena ditinggalkan Shena. Mereka menginginkan yang terbaik untuk temannya, Nara Shimura.
Di sebuah rumah mewah kawasan Tokyo, seorang pria paruh baya tengah menghisap cerutunya di dekat perapian. Ia duduk di sofa sambil mendengarkan laporan dari salah satu pengawalnya. Pria paruh baya itupun tampak kesal dengan berita yang didengarnya. Ia tidak menyangka jika proses mediasi dimenangkan oleh Nara.
__ADS_1
"Jadi gugatan kita gagal?" tanya pria paruh baya itu kepada pengawalnya.
"Benar, Tuan. Sepertinya kita harus mencari cara lain agar pemuda itu melakukan apa yang kita inginkan."
"Hm, begitu. Tapi aku rasa untuk sementara ini biarkan dia bernapas. Toh, pihak label rekaman akan membatalkan kontraknya. Bukankah hal itu amat menyakitkan baginya? Biarkan dia menikmati hal ini terlebih dahulu." Pria paruh baya itu menuturkan.
"Baik, Tuan." Sang pengawal pun menuruti perkataan tuannya.
Pria paruh baya itu adalah Hisei, ayah dari Yudo. Ia sengaja membiarkan Nara lepas dari gugatan yang diajukan olehnya. Ia ingin Nara merasakan penderitaan perlahan, tidak ingin terburu-buru mengajukan banding atas kematian puteranya.
Nara, bersyukurlah karena saat ini kubebaskan. Tapi tidak untuk selanjutnya. Aku akan membuatmu mengalami hal yang sama seperti putraku. Untuk sekarang nikmatilah penderitaanmu karena dikeluarkan dari pihak manajemen. Suatu hari nanti aku akan menagih pembayaran atas kematian putraku.
__ADS_1
Hisei mengembuskan asap cerutunya ke atas. Ia duduk santai sambil menyilangkan kedua kaki di atas meja. Ia biarkan malam ini tenang tanpa permasalahan dan dendam. Ia ingin beristirahat sejenak dari rasa dukanya karena kehilangan sang putra.
Hisei masih akan terus meminta pertanggungjawaban Nara atas kematian putranya. Ia tidak terima putra semata wayangnya harus mati di tangan pemuda tersebut. Ia ingin Nara merasakan apa yang mendiang putranya rasakan. Baginya, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Dan Hisei menginginkan kematian Nara. Namun, tidak ingin secara langsung, melainkan perlahan. Ia tidak jauh dari seorang psikopat di balik jas mewahnya.