
"Nara, lepaskan aku!" Shena berontak.
"Tidak, Shena. Sebelum kau menarik semua ucapanmu. Katakan jika Ryuuto hanya pelarianmu saja. Kau tidak benar-benar mencintainya, bukan?" tanya Nara yang mulai memaksa.
Shena tidak berdaya mendapat hujaman pertanyaan dari Nara, ditambah tubuhnya yang tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa pasrah dan berharap kejadian itu akan segera berakhir.
"Shena, aku ingin kita kembali seperti dulu. Hanya dirimu yang mampu memenuhi seluruh ruang di hatiku. Kumohon, Shena." Nara kembali meminta Shena untuk menjadi kekasihnya.
"Aku tidak bisa. Lepaskan, Nara!" Shena mencoba berteriak.
"Ummm..."
Sebelum teriakan Shena terdengar oleh yang lain, Nara segera menghujami bibir Shena dengan ciumannya. Nara mencium bibir Shena yang terus saja mengucapkan penolakan atas dirinya.
"Nara ... mmmmhhh..."
Shena berusaha menghindar, membuang pandangannya. Tapi Nara masih terus meraih bibirnya lalu menciumnya berulang.
"Aaaaaaa!!!" Tiba-tiba terdengar teriakan yang menghentikan Nara.
__ADS_1
"Che-cherry?!"
Nara terkejut saat melihat Cherry sudah berada di dekat mereka. Shena pun segera melepaskan diri dari Nara. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di samping dapur. Sedang Nara, berlari mendekati Cherry lalu membungkam mulutnya.
"Cherry, diam!" Nara panik setelah mendengar jeritan Cherry.
Cherry mulai kesulitan bernapas karena bungkaman tangan Nara yang kuat pada mulut dan hidungnya. Ia menunjuk-nunjuk tangan Nara agar segera dilepas. Menyadari hal itu, Nara pun segera melepas tangannya.
"Hah, hah, hah."
Cherry hampir saja pingsan karena kekurangan oksigen. Dadanya terasa sempit sekali.
"Dasar bodoh, kau ya! Dasar bodoh!" Cherry kemudian meninju perut Nara.
"Kau sudah gila, ya?! Melakukan hal itu di depanku. Apa tidak ada tempat lain untuk melakukannya, hah?!" tanya Cherry yang kesal bukan main dengan ulah temannya.
"Eh, kau sendiri mengapa terbangun di jam segini. Kau menggangguku saja!" Nara menggerutu sambil memegangi perutnya.
Tak lama, Ken pun turun dari lantai dua dan melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Cherry, Nara, apa yang terjadi? Tadi aku mendengar Cherry berteriak." Ken yang ikut bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer merah itu mendekati keduanya yang tidak berada jauh dari anak tangga.
"Ken, temanmu ini sungguh bodoh sekali. Aku melihatnya sedang ber—"
Belum sempat Cherry melanjutkan, Nara segera membungkam kembali mulut sang basist ini.
"Sudah-sudah." Ken segera menarik tangan Nara dari mulut kekasihnya. "Tiga jam lagi kita akan berangkat, sebaiknya segera beristirahatlah. Ayo, Nara!" Ken kembali mengajak Nara agar tidur. Ia enggan banyak bicara di waktu fajar.
"Eh, tapi aku—" Nara berusaha menolak karena ia masih menunggu Shena keluar dari kamar mandi.
"Sudah pergi sana! Dasar bodoh!"
Cherry menendang Nara agar segera menjauh darinya. Tapi untung saja Nara dapat segera menghindari tendangan Cherry.
"Ken, tapi aku sedang—"
Nara berusaha menolak ajakan temannya untuk kembali tidur. Ken sendiri diam saja sambil terus menarik tangan Nara, berjalan menaiki anak tangga menuju kamar yang ada di lantai dua.
Nara ....
__ADS_1
Shena mengintip kejadian itu dari balik pintu kamar mandi. Ia benar-benar tidak menyangka jika Nara akan senekat ini padanya. Ia memegangi dadanya yang naik-turun tidak beraturan. Hatinya pun gelisah setelah mengalami kejadian tadi.
Apa yang harus aku lakukan? Ia bertanya-tanya sendiri dalam kegundahan hatinya.