
Menjelang petang...
Nara dan Shena baru saja tiba di basecamp D'Justice. Mobil Nara pun diparkiran di halaman samping rumahnya. Keduanya lalu memasuki rumah setelah menemani sang ibu di rumah sakit.
"Shena, aku akan mandi sebentar, ya. Tunggu aku." Nara berpamitan.
"He-em." Shena pun menunggu di ruang tamu.
Kedekatan yang baru terjadi tidak serta-merta membuat Shena cepat mendekatkan diri kepada Nara, seperti yang dulu. Ia masih menjaga jarak dan membiarkan waktu menuntunnya. Shena pun mengecek ponselnya sambil menunggu Nara selesai mandi. Tapi, ia terkejut saat membaca pesan yang diterima.
"Astaga!" Ia pun lekas-lekas menelepon Hana.
"Halo?" sahut suara dari seberang.
"Hana, bibi Ri mengabarkan jika Rie meninggal dunia." Shena gemetar karena rasa cemas berlebihan.
"Benar, Shena. Aku juga diberi kabar olehnya. Tadinya aku ingin memberi tahumu, tapi kuputuskan menundanya sampai malam. Aku tidak ingin menganggu kalian," kata Hana dari seberang.
"Astaga, aku tidak percaya jika kabar ini akan kudengar." Shena amat menyesali.
"Kau akan berkunjung ke rumah duka?" tanya Hana lagi.
"Sepertinya tidak, tempatnya jauh sekali. Aku juga belum bisa berpergian terlalu jauh. Mungkin aku akan meminta paman Bee untuk mewakilkannya." Shena menuturkan.
"Baiklah, nanti aku juga akan menghubungi paman Bee." Hana menimpali.
"Ya, Hana. Terima kasih." Shena kemudian menutup teleponnya.
Terlihat raut duka dari wajah Shena. Ia tidak percaya dengan kabar yang diterimanya. Tak lama Nara pun datang sambil menghanduki rambutnya. Sedang tubuhnya sudah terbalut kaus oblong dan celana pendek selutut.
"Shena, ada apa?" tanya Nara yang melihat roman Shena berubah.
__ADS_1
"Nara, Rie."
"Rie?"
"Rie meninggal dunia," kata Shena lagi.
"Apa?!" Nara pun terkejut.
"Bibi Ri mengabarkan kepadaku jika pembakaran abunya sudah dilakukan tadi pagi." Shena berlinang air mata.
"Astaga." Nara duduk, ia memijat dahinya sendiri.
"Nara, tidak ada yang mengabarkan padaku bagaimana nasib Rie setelah malam itu." Shena menyesali.
"Aku juga tidak tahu, Shena. Ken hanya mengabarkan tentang ayahku saja. Mungkin aku harus meminta Ken untuk menjelaskannya." Nara berniat menghubungi Ken.
"Nara, sudah. Tak apa. Hari ini kalian masih libur. Besok saja. Ken juga mau beristirahat." Shena menahan Nara menghubungi Ken.
"He-em." Shena pun mengangguk.
"Ya, sudah. Biar aku yang memasak, ya." Nara beranjak ke dapur.
Shena tersenyum setelah hampir menangis karena kabar duka yang diterimanya. Ia kemudian membiarkan Nara masak di dapur. Sedang dirinya diam-diam memperhatikan Nara dari belakang. Ingin melihat apakah Nara masih takut terkena percikan minyak goreng atau tidak.
Nara, terima kasih. Aku merasa bahagia walaupun kabar duka harus kuterima malam ini. Tapi aku yakin jika ini yang terbaik.
Shena tersenyum melihat Nara yang mulai memasak makan malam untuknya. Shena pun membantu Nara mengiris bahan-bahan masakan. Keduanya memasak bersama di dapur kediaman Nara ini.
Dua jam kemudian...
Selepas makan malam, keduanya duduk di teras depan rumah sambil bermain gitar. Nara sengaja tidak mengantarkan Shena kembali ke kedai karena ia ingin Shena menemaninya tinggal. Shena pun tidak keberatan dengan permintaan Nara. Ia bisa tidur di kamar yang ada di lantai satu.
__ADS_1
"Kau masih ingat saat senar gitar copot waktu itu, Shena?" tanya Nara di sela-sela petikan gitarnya.
"Ya, aku masih ingat. Dan di saat itu wajahmu terkena senar yang terlepas." Shena menoleh ke arah Nara yang duduk di sisi kirnya.
Keduanya tengah menyandarkan diri di dinding teras depan. Kebersamaan mereka begitu syahdu malam ini.
"Dan kau dengan cepat mengobati pipiku yang terkena senar itu." Nara tersenyum sendiri.
Shena tidak menjawabnya, ia hanya ikut tersenyum.
"Shena."
"Hm?"
"Kau tidak keberatan bukan jika aku menjadi seorang musisi?" tanya Nara lagi.
"Keberatan?"
"He-em. Kau tahu sendiri jika kami sekarang banyak penggemarnya." Nara kemudian tertawa.
"Dasar! Aku kira apa." Shena juga ikut tertawa.
"Tapi kau harus percaya jika hatiku hanya untukmu, Shena." Nara menggenggam tangan Shena lalu meletakkan di dadanya.
"Nara ...." Shena pun melihat Nara lebih dalam.
"Aku mencintaimu," kata Nara lagi yang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Shena.
Nara ....
Shena seakan mengerti, ia kemudian memejamkan kedua matanya.
__ADS_1