Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Salah Prasangka


__ADS_3

"Halo?" Suara dari seberang.


"Ryuuto, kau di mana?" Hana melihat Ryuuto berjalan menuju mobilnya di parkiran rumah sakit.


"Aku ... aku lagi di parkiran," jawab Ryuuto sambil melihat ke sekeliling arah.


Ryuuto, tolong jangan berbohong padaku. Hana menelan ludahnya.


"Kau di mana, Hana?" tanya Ryuuto kemudian.


"Aku ... aku ingin bertemu, Ryuuto. Bisakah?" Hana terbata.


"Aku banyak pekerjaan hari ini. Akhir pekan saja, ya." Ryuuto lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Aku ingin sekali bertemu. Aku sudah di dekatmu." Hana segera keluar dari rumah sakit lalu berlari menuju mobil Ryuuto.


"Di dekatku?" Ryuuto pun bingung.


"Ya, aku sudah di dekatmu. Di depan mobilmu." Hana kemudian keluar dari sela-sela mobil lainnya.

__ADS_1


"Hana?!!"


Sontak Ryuuto terkejut saat melihat Hana sudah ada di depannya. Wajah sang gadis terlihat sendu melihat ke arah Ryuuto. Ryuuto pun tidak enak hati sendiri saat Hana memergokinya di parkiran rumah sakit. Ia segera keluar untuk menemui Hana.


"Hana." Ryuuto mendekat ke Hana.


"Ryuuto, kenapa kau berbohong padaku?" Hana merasa sedih.


"Hana, aku tidak bermaksud berbohong padamu. Aku memang benar-benar sibuk sehingga tidak bisa mengangkat telepon darimu." Ryuuto menjelaskan.


"Ya, kau sibuk. Amat sibuk mengurus Shena, bukan?" tanya Hana yang cemburu.


"Jadi kau tidak menganggap aku? Aku ini sepupunya, kenapa tidak memberi tahuku?" Hana mulai marah.


"Hana, Shena tidak ingin merepotkanmu. Lagipula kau disibukkan mengurus kedai Shena, bukan?" Ryuuto mencoba menjelaskan dengan lembut.


"Ryuuto, aku tahu jika kau mencintai Shena. Dan sampai saat ini kau masih mencintainya. Aku sakit, Ryuuto. Sakit karena kau tidak jujur padaku. Andai saja kau bilang Shena dirawat, maka aku akan datang ke sini lebih awal." Hana mengungkapkan perasaannya.


"Hana, maafkan aku. Aku tidak ingin kabar ini membuat semua orang terdekat Shena panik," kata Ryuuto lagi.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Shena sudah berada di stadium akhir. Menurut medis usianya tidak lama lagi. Aku khawatir jika bercerita padamu, kau akan menceritakan hal ini kepada Nara. Kau tahu sendiri jika Nara sedang masa kontrak, bukan?" Ryuuto menatap Hana di depannya.


"Ya, aku tahu." Hana pun mengangguk sedih.


"Aku khawatir Nara membatalkan kontrak dan terkena pinalti yang tidak sedikit. Aku khawatir Nara meluapkan kekesalannya dan hal itu akan semakin memperburuk kondisi Shena. Aku mencoba mengambil jalan tengahnya. Tolong mengerti." Ryuuto menjelaskan maksudnya.


Sejenak Hana tertegun. Ia menyadari jika apa yang dikatakan oleh Ryuuto ada benarnya.


"Aku akan ke kantor sekarang. Pekerjaan sudah menunggu. Jika kau ingin menjenguk Shena, maka jenguklah. Hima sedang menunggunya." Ryuuto berpamitan.


Hana pun hanya bisa mengangguk. Ia merasa bersalah karena telah salah berprasangka. Ia akhirnya melepas keberangkatan Ryuuto dari hadapannya. Mobil hitam milik Ryuuto itu pun segera melaju meninggalkan rumah sakit.


Aku ... tidak seharusnya aku begini. Kenapa aku jadi egois sekarang? Hana menyesali tindakannya.


Hana kembali masuk ke rumah sakit untuk melihat Shena yang sedang dirawat. Langkah kakinya terlihat pelan karena malu telah berprasangka yang bukan-bukan terhadap Ryuuto. Sedang Ryuuto terus melajukan mobilnya. Kini ia menyadari sepintar apapun menyembunyikan sesuatu, akhirnya akan ketahuan juga.


Aku harap keadaan Shena tidak diketahui oleh Nara sekarang. Aku tidak ingin semuanya bertambah buruk. Ryuuto berkata dalam hati.

__ADS_1


Pemuda berambut pendek itupun terus melajukan mobilnya. Ia akan kembali beraktivitas hari ini.


__ADS_2