
Sore harinya, di kantor majalah remaja Tokyo…
Sebelum pulang ke rumah, Hima menyempatkan diri berbincang bersama Ryuuto di dalam ruang kerjanya. Ryuuto pun tampak antusias menanggapi perbincangan kali ini. Ia sampai tidak menghiraukan dering telepon ponselnya.
“Jadi kau mencurigai Hana?” Ryuuto langsung ke inti pembicaraannya bersama Hima.
Gadis yang hari ini membiarkan rambutnya tergerai itu pun menjawab, “Aku tidak mencurigainya. Hanya saja hal ini sedikit janggal bagiku, Ryuuto. Malam sebelum kembali ke rumah Nara, kondisi Shena mulai membaik. Tapi keesokan harinya dia sudah meninggal. Aku khawatir jika Hana tidak benar-benar menjaganya.” Hima menyesalkan.
“Malam itu juga aku tidak menjawab panggilan telepon darinya. Dia berkirim pesan jika sedang menjaga Shena dan memintaku untuk datang. Tapi, pekerjaanku malam itu tidak lagi dapat ditunda. Sedang jika ke sana lewat dini hari, pastinya tidak akan diperbolehkan masuk.” Ryuuto menceritakan.
“Apa kau melihat statusnya kemarin?” tanya Hima lagi.
__ADS_1
“Tidak.” Ryuuto menggelengkan kepala.
“Ryuuto, kau ini bagaimana, sih?! Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Hana? Kenapa aku merasa kau ini acuh tak acuh padanya, ya?” Hima bingung sendiri.
Sejenak Ryuuto terdiam.
“Pikiranku benar-benar kalut saat mendengar Shena meninggal dunia. Terlebih aku telah berusaha keras untuk menjaganya di ruang perawatan. Tapi saat aku tidak ada, dia pergi begitu saja. Apakah salah jika aku merasa janggal terhadap Hana?” Hima lelah sendiri.
“Iya, sih. Tapi tetap saja hal ini aneh.” Hima menopang kepala dengan satu tangannya, di atas meja kerja.
“Sudahlah. Untuk saat ini biarkan hati kita tenang terlebih dahulu. Shena juga pasti sedih jika kita saling mencurigai satu sama lain. Aku yakin semua ini sudah kehendak Tuhan. Jadi, jangan berpikiran yang aneh-aneh.” Ryuuto mendinginkan pikiran Hima.
__ADS_1
“Hm, ya." Akhirnya Hima menurut.
Ryuuto tidak ingin mencurigai Hana atas kematian Shena. Terlebih Shena sudah banyak membantu Hana dalam kehidupannya. Tapi, terkadang rasa curiga itu memang terlintas di benaknya. Namun, untuk saat ini Ryuuto berusaha menenangkan pikirannya. Ia masih merasa kehilangan akan cinta pertamanya itu.
Aku berharap hal ini hanya sebatas ketidakterimaan Hima saja. Aku tidak sampai berpikir jika apa yang dikatakan oleh Hima memang benar adanya. Dan semoga saja hal ini tidak pernah terjadi.
Ryuuto dan Hima akhirnya bergegas meninggalkan ruangan. Keduanya berniat pulang ke rumah masing-masing. Meninggalkan kantor yang penuh kenangan bersama mendiang Shena. Dan kini kantor itu bagai kenangan indah yang tak akan pernah bisa terlupakan oleh mereka. Shena akan selalu ada di hati walaupun raganya telah mati.
Shena, andai aku ada di sana malam itu. Pasti aku tahu penyebab pasti akan kematianmu. Aku menyesal sekali. Kenapa di detik-detik terakhir aku malah tidak ada.
Hima pulang ke rumahnya dengan menaiki bus. Sedang Ryuuto terpisah jalan sehingga tidak mengantarkan Hima. Di dalam benak Ryuuto, sebisa mungkin ia menetralkan pikirannya dari misteri kematian Shena. Ia masih tidak menyangka jika Shena akan pergi secepat ini.
__ADS_1