
TIINNN!!!
Belum sempat Nara meraih bibir Shena, keduanya dikejutkan oleh suara klakson mobil. Sontak Shena maupun Nara tersentak mendengar bunyi klakson mobil tersebut. Mereka pun melihat siapa gerangan yang datang. Dan ternyata...
"Hei! Apa yang kalian lakukan, hah?!"
Gadis berbando merah, berkaus putih dan bercelana pendek hitam keluar dari mobil.
"Baru juga bertunangan, sudah mau cium-ciuman," celetuk pemuda bersweter hitam sambil membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.
"Kaliaaan!!!" Sontak Nara kesal setelah menyadari siapa yang datang. Ia berdiri lalu menyemprot teman-temannya. "Mau apa kalian kemari, hah?! Mengganggu saja!" Nara kesal sendiri.
"Hei, Kawan. Bukankah rumah ini sudah resmi menjadi basecamp D'Justice, ya? Kenapa kami dilarang datang kemari?" Pemuda berambut emo berbicara dari depan pintu mobil.
"Tahu, nih. Biarkan saja dia, nanti juga diam sendiri." Si gadis berbando merah masuk begitu saja ke dalam rumahnya.
"Arrrghh..." Nara pun kesal jadinya.
"Sudah, Nara. Jangan marah." Shena ikut berdiri lalu menenangkan Nara.
Nara pun menoleh ke arah gadisnya. Ia melihat wajah manis Shena sehingga amarahnya bisa teredam seketika.
__ADS_1
"Shena, mereka itu selalu saja mengganggu. Haruskah kita pindah rumah agar tidak diganggu?" tanya Nara kepada Shena.
Sontak Shena terkekeh sendiri mendengarnya.
"Shena, aku datang ingin memberikan kabar baik untukmu." Hima berjalan mendekati Shena, berpisah dengan Sai yang masuk ke dalam rumah bersama Cherry dan Ken.
"Kabar baik?" Shena tampak bingung.
"He-em. Nanti aku akan menceritakannya," kata Hima lagi.
"Em, baiklah. Kau sudah makan? Tadi aku dan Nara sudah memasak." Shena menawarkan.
"Dia memang seperti itu. Selalu saja murah tangan." Tanpa sadar Nara memuji Cherry.
"Ya, sudah kita masuk saja, ya."
Shena menarik tangan Nara agar ikut masuk ke dalam rumah. Hima pun mengikuti dari belakang. Kedua pasang kekasih itu datang ke rumah Nara saat malam sudah larut. Jam di dinding pun menunjukkan pukul sembilan malam, namun mereka baru saja sampai di kediaman Nara.
"Apakah ada sesuatu hal yang penting?" tanya Nara kepada kapten band-nya.
"Ya. Aku diminta oleh manajer Hata untuk membicarakan jadwal D'Justice ke depannya." Ken duduk di sofa tamu.
__ADS_1
"Hah, baru juga libur sehari." Nara ikut duduk.
"Sudah jangan mengeluh. Mengeluh itu tidak baik, malah akan semakin memperberat. Baiknya kita minum dulu ini." Cherry menyediakan banyak botol minuman berkarbonasi ke atas meja.
"Cher, kau ingin mabuk?" tanya Nara yang tak percaya dengan banyaknya botol berkarbonasi di atas meja.
"Kita kan banyak, jadi aku beli satu untuk satu orang. Hahaha." Dengan pedenya Cherry menjawab.
"Astaga." Nara menepuk dahinya sendiri.
D'Justice akan membicarakan jadwal kegiatannya untuk satu minggu ke depan. Sedang Hima dan Shena hanya menemani pembicaraan saja. Dan ternyata kepadatan jadwal membuat keempat mahasiswa Universitas Tokyo ini harus mengambil cuti, karena mereka akan melakukan tur ke luar kota dalam waktu yang tidak sebentar.
"Kita akan berkolaborasi?" Nara melihat jadwal konser D'Justice bersama band lain.
"Ya, Black Pepper juga hadir di konser kolaborasi ini. Kita akan konser bersama band papan atas, naungan Sony Music sendiri." Ken menuturkan.
"Besok kita akan ke kampus untuk meminta izin, Nara." Sai ikut bicara.
"Hah, baiklah. Apa boleh buat. Pihak manajemen sudah menandatangani kontrak dengan sponsor acara. Mau tidak mau kita harus memenuhinya." Nara pun menerima.
Nara menyadari jika kontrak dengan pihak label rekaman akan menggangu aktivitas kuliahnya. Tapi, ia mau tak mau harus melakukannya karena sudah menjalin ikatan kontrak. Dan akhirnya, keempat personil D'Justice akan mendatangi kampus mereka untuk mengajukan cuti sementara. Demi karir yang sudah dibangun susah payah.
__ADS_1