Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kesepian


__ADS_3

Menjelang tidur...


Nara, Ken dan Sai tidur di kamar yang ada di lantai dua. Sedang Shena, Cherry dan Hima tidur di kamar yang ada di lantai satu. Dan kini Nara sedang curhat kepada Ken mengenai Shena.


"Jadi dia lebih perasa sekarang?" Ken menoleh ke arah Nara yang tidur di samping kirinya.


"Ya, dia lebih perasa. Apa mungkin karena komanya kemarin, ya?" Nara bertanya sendiri.


Ken meletakkan kedua tangan ke belakang kepala. "Entahlah. Aku kadang mengalah saja jika Cherry sedang ngambek kepadaku. Perempuan itu jika diladeni akan semakin menjadi-jadi. Jadi ya aku mengalah saja," ungkap Ken kepada Nara.


"Jadi Cherry juga pernah ngambek kepadamu, Ken?" tanya Nara tak percaya.


"Ya, begitulah. Dia kalau sudah ngambek, amarahnya meluap. Jadi aku tinggal duduk, diam dan mendengarkan. Nanti juga dia diam sendiri kalau sudah lelah." Ken menuturkan.


"Hahahaha." Seketika Nara tersadar.

__ADS_1


"Hei, kau menertawakanku?" Ken cemberut melihat Nara yang tertawa setelah mendengar ceritanya.


"Tidak-tidak. Apa yang kau katakan memang ada benarnya, Ken. Ibuku juga begitu. Dia memang tidak pernah marah, tapi sekali marah ... habis sudah. Hahahaha." Nara teringat akan ibunya.


"Lain kali jelaskan statusmu jika ada gadis yang mendekat. Janagn ditunda lagi." Ken menyarankan.


"Aku bukannya menunda. Memang belum sempat saja karena baru sekarang bisa bertemu dengan Gabril. Aku juga tidak menyangka jika akan begini," sahut Nara lagi.


"Ya, sudah. Lebih baik kita tidur sekarang. Besok kita akan berangkat pagi-pagi." Ken mulai merelaksasikan tubuhnya.


Keduanya mulai mengetuk alam mimpi untuk segera berdestinasi. Sedang Sai sudah tidur terlebih dahulu. Kaca matanya pun terlihat diletakkan di sampingnya, ia tidak bisa jauh dari kaca matanya sendiri.


Sementara itu di kawasan perumahan eksklusif Jepang...


Seorang gadis tampak memandangi halaman depan rumahnya yang luas. Ia juga melihat para penjaga yang berjaga di titik jaganya masing-masing. Rumahnya bak istana kerajaan masa kini, namun sayang hati pemiliknya kosong.

__ADS_1


"Ayah dan ibu belum pulang juga?"


Sesekali ia melihat ke arah gerbang depan rumahnya yang terbuat dari ukiran besi mewah berwarna kuning emas. Tapi lagi-lagi yang ditunggunya tak lagi datang. Dialah Gabril, anak bungsu dari pemilik Sony Music Entertainment Jepang yang merasa kesepian kala ini.


Gaun tidur panjangnya seakan membuat dirinya bak Cinderella yang terbuang.


Ia mengambil ponsel lalu membuka galeri fotonya. Ia temukan banyak foto Nara di dalamnya. Sambil duduk di tepi kasur mewahnya, ia pandangi foto sang pemuda bermata biru yang menarik perhatiannya.


"Nara ... kau tahu bagaimana perasaanku saat mengetahui jika kau sudah mempunyai tunangan?" Ia bertanya sendiri.


"Rasanya aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ayah dan ibuku selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan kini kakakku juga seperti tidak peduli padaku semenjak duduk di kursi owner itu. Nara ... aku rindu masa-masa kita bercanda." Gabril tanpa sadar meneteskan air matanya.


Teringat kenangan akan masa kecilnya dulu. Di mana ia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia hanya bermain dengan para pelayan di kediamannya. Hingga saat remaja pun ia hampir tidak mengenali orang tuanya karena amat jarang bertemu.


"Apakah aku harus mengakhiri hidup karena rasa kesepian ini?" Ia putus asa.

__ADS_1


Gabril baru saja lulus dari salah satu SMA di Inggris. Ia sengaja bersekolah di Eropa karena ibunya banyak menjalin kerja sama di sana. Tapi nyatanya, walau ikut sang ibu ia juga jarang sekali bisa bertatap muka dengan ibunya. Jiwanya kosong, hatinya pun dilanda kesepian. Gabril merasa tidak ada satu orang pun yang peduli padanya.


__ADS_2