
Jam makan siang...
Seperti biasa, Gabril mengajak makan siang di restoran favoritnya. Mereka makan siang bersama di atap restoran. Saat hidangan itu datang, Gabril ingin menyuapi Nara.
"Gabril, tidak usah. Aku bisa makan sendiri."
Nara menolak suapan dari Gabril yang duduk di sisi kanannya. Shena yang melihat hal itu pun tampak menelan ludahnya sendiri.
Di hadapan yang lain, Gabril bersikap seperti tidak peduli. Ia hanya fokus dengan Nara seorang. Padahal ada seorang jurnalis yang sedang meliput aktivitas D'Justice. Melihat hal itu, Rose kemudian meminta maaf kepada Shena.
"Nona Shena, maaf. Tolong yang ini jangan ditulis, ya," pinta Rose kepada Shena. Ia tampak tidak enak hati sendiri.
Shena hanya membalas dengan senyuman. Walau sebenarnya, ia pun merasakan sakit di dalam hatinya.
Aku mohon, sudahi ini semua. Aku mohon.
Nara sudah tidak sanggup lagi berada dalam lingkaran para gadis. Bagaimanapun ia tetap merasa tidak enak hati kepada Shena. Nara ingin diakui sebagai pria yang setia dan memegang ucapannya sendiri. Tapi, ia pun sadar jika telah merenggut sesuatu yang sangat berharga dari Rose, promotornya.
Ingin rasanya Nara berteriak, tapi profesionalitas kerja tetap menjadi nomor satu di atas segala-galanya. Karena jika tidak, D'Justice akan terkena pinalti dari kontrak kerja sama yang telah mereka tanda tangani.
__ADS_1
Malam harinya...
Rose mengantarkan Nara pulang setelah mengantarkan yang lainnya. Malam itu malam terakhir bagi Rose memback-up band asuhan Lusy, karena Lusy telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Nara ...."
Rose mematikan mesin mobilnya, Nara tampak bergegas ingin turun dari dalam mobil. Iapun berhenti saat Rose memegang tangannya.
"Nona Rose?" Nara tertahan.
"Nara ...," Rose menoleh dan menatap ke arah sang pemuda bermata biru. "Esok hari terakhirku. Bolehkah aku mengajukan satu permintaan?" tanya Rose dengan tatapan penuh harap.
"Nona Rose, hari sudah malam. Aku khawatir jika kau pulang terlalu larut."
"Nara ...." Rose kemudian memeluk Nara. "Aku menginginkannya. Bisakah kita melakukannya lagi untuk yang terakhir kali?" tanya Rose yang mengiba.
"Nona Rose ...."
Entah mengapa, Nara menjadi iba kepada Rose. Jujur saja ia sulit menolak ajakan Rose, tapi ia juga tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Bagaimanapun hubungannya ini tanpa rasa cinta dan hanya sebagai pelampias nafsu belaka.
__ADS_1
Nara berpikir, ia mencoba bijak kali ini. Walaupun seorang wanita cantik bertubuh sintal nan menggoda sedang menawarkan diri kepadanya.
"Nona Rose ...," Nara melepas tangan Rose yang melingkar di lehernya. "Maafkan aku, aku tidak dapat melakukan hal itu lagi. Maaf." Ia kemudian bergegas ke luar dari dalam mobil.
"Nara!"
Terdengar teriakkan Rose memanggilnya. Nara kemudian berbalik menghadap Rose seraya membungkukkan badan. "Terima kasih atas bantuanmu selama ini," ucapnya lalu segera pergi dari hadapan Rose.
"Nara ...."
Rose merasa teriris, hatinya begitu sakit mendapat penolakan dari Nara. Entah mengapa, harapannya hancur seketika dan tak bersisa. Ia berharap Nara akan menjadikannya seorang kekasih. Tapi nyatanya, itu hanya angan-angan kosong yang tak akan terpenuhi. Ia tidak dapat melakukan apapun selain membiarkan Nara masuk ke dalam rumahnya.
Nara pun dengan cepat masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan segera berlari ke kamarnya. Ia tahu jika hal seperti ini akan terjadi. Tapi, ia tidak dapat membohongi diri sendiri jika hanya Shena lah yang bertahta di hatinya.
"Arrgh!"
Rose memukul-mukul stir mobilnya, tampak genangan air mata yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Ia menangis, menangisi hatinya yang terluka.
"Nara ...."
__ADS_1
Ia menundukkan kepala, menyandarkannya pada stir mobil. Sementara sang pemuda bermata biru terlihat mengintip dari balik tirai jendela kamarnya yang gelap.
"Maafkan aku, Nona," ucap Nara, lalu tak lama ia melihat mobil yang dikendarai Rose melaju dari jalan depan rumahnya.