
Beberapa jam kemudian...
Shena masih tampak asik membukukan pengeluaran dan pemasukan kedainya selama satu bulan kebelakang. Ia sengaja duduk di teras, menghadap ke arah pantai sambil menikmati segelas kopi yang ia racik sendiri. Ia terlihat sangat fokus sampai persentase keuntungan kedainya ditemukan.
"Akhirnya ...." Tak lama ia mendapatkan hasil keuntungan bersih tokonya.
"Lumayan, keuntungan kali ini naik lima persen dari bulan lalu. Semoga bulan depan bisa lebih naik lagi. Saatnya beristirahat,” ucapnya senang sambil membereskan peralatan kerjanya.
"Kau terlihat lelah, Shena," sapa seseorang dari belakang.
Sontak jantung Shena terhenti kala mendengar suara itu. Ia pun segera berbalik ke asal suara untuk memastikan. Dan kemudian terlihatlah sesosok pria yang dulu pernah singgah di hatinya, lebih dari dua tahun lamanya. Pria berkemeja biru itu tampak memperhatikan Shena dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Kau?!" Shena tidak percaya jika pria itu akan mendatanginya di hari ini.
"Kau terkejut melihat kedatanganku atau tidak ingin aku datang kemari, Shena?" tanyanya lagi.
Shena terdiam, ia segera membereskan semua peralatan kerjanya lalu memasukkan ke dalam tas. Ia seperti terburu-buru saat menyadari siapa yang datang dan menyapanya.
__ADS_1
"Shena." Pria itu kemudian berjalan mendekatinya. "Aku ... merindukanmu," ucapnya sambil memeluk Shena dari belakang.
Shena terdiam dan membisu. Hatinya mulai mengingat kenangan pahit akan sosok pria yang memeluk tubuhnya saat ini. Semilir angin pantai pun menjadi saksi akan dirinya yang terluka. Ia lantas melepaskan pelukan itu.
"Tolong lepaskan aku!" Shena menghempaskan kedua tangan pria itu dari tubuhnya.
Sementara itu...
Rie berjalan menuju sebuah apartemen yang biasa ia kunjungi. Ia kemudian masuk ke dalamnya. Dan terlihatlah seorang pria yang sudah menunggu kedatangannya. Mungkin usianya ada sekitar empat puluh tahun.
"Kau sudah datang, Rie?" tanya pria yang telah menunggu kedatangannya.
"Kau sudah lama menungguku?" tanya Rie kepada pria yang sedang duduk membaca koran di atas sofa putihnya.
"Ya, aku telah lama menunggu kedatanganmu, Rie."
Pria itu adalah Shimura, ayah dari Nara. Ia beranjak dari duduknya lalu mendekati Rie yang sedang melepas sepatu.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" Shimura memeluk Rie dari belakang.
"Tak baik tapi juga tak buruk," sahut Rie singkat.
Shimura segera membalikkan tubuh Rie agar menghadap ke arahnya. Ia tampak gemas dengan dara bertubuh sintal yang satu ini.
"Bagaimana kalau kita berendam bersama? Aku membawa sebotol parfum romantis dari Paris. Kau pasti ingin mencobanya," ajak Shimura sambil berusaha mencium Rie.
"Kau ini, aku baru saja datang," tolak Rie secara halus.
"Jangan khawatir, Sayang. Aku akan merelaksasikan tubuhmu," goda Shimura.
“Tap-tapi, aku—“
Rie menolak. Tapi sekeras apapun ia menolaknya, Rie tidak akan bisa melawan kehendak ayah dari Nara ini. Karena Shimura adalah seorang pria yang sangat berambisi.
"Sayang ...."
__ADS_1
Shimura segera melepas satu per satu pakaian yang Rie kenakan. Lalu menggendong tubuh dara cantik ini sambil terus mencumbuinya. Tubuh kekar Shimura pun terbukti sanggup bermain lama dengan Rie. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bercinta dengan DJ seksi itu.
"Aku akan memulainya, Rie. Bersiaplah," bisik Shimura di telinga kanan Rie.