Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Terkejut


__ADS_3

Sebuah dering telepon tiba-tiba terdengar di tengah rasa kalutnya. Nara kemudian melihat siapa gerangan yang meneleponnya malam-malam.


"Ibu?" Nara melihat jika ibunya lah yang menelepon. "Halo?" Nara segera mengangkatnya.


"Nara, bagaimana kabarmu? Belum lama ini ibu berada di Hokkaido. Ibu dengar ayahmu sudah siuman. Kau tidak berniat menjenguknya, Nak?" tanya sang ibu dari seberang telepon.


Nara terdiam sejenak mendengar kabar dari ibunya. "Aku masih sibuk, Bu. Lain kali saja. Aku masih repot dengan urusanku," kata Nara lagi.


"Nara, kau baik-baik saja? Kenapa suaramu terdengar parau, Nak? Apakah kau habis menangis?" tanya ibunya yang cemas.


Sontak Nara tidak dapat menutupi kesedihan yang melanda hati dan pikirannya. Ia pun akhirnya menangis.


"Nara?"


"Ibu ... Shena ...." Ia terbata.


"Shena? Shena kenapa Nara?" tanya ibunya khawatir.


"Shena, Bu. Shena ... meninggal dunia," kata Nara yang sontak membuat ibunya terdiam.

__ADS_1


Astaga ....


Sang ibu yang sedang duduk di depan meja kerjanya pun terkejut mendengar kabar jika calon mantunya telah meninggal. Ia tidak percaya dengan kabar ini. Hatinya pun turut merasakan kesedihan yang dialami putra semata wayangnya.


"Nara, bersabarlah. Ibu akan berangkat ke sana besok. Tunggu ibu." Shina mencoba menenangkan.


Nara pun hanya mengangguk dalam tangisnya. Ia kemudian membiarkan telepon dari ibunya terus tersambung. Sementara ia tidak kuasa untuk meneruskan perkataannya. Shina pun bisa mendengar isak tangis putranya dari seberang telepon. Ia ikut bersedih atas musibah ini.


Pantas saja firasatku tak enak. Ternyata Nara sedang berduka.


Shina prihatin dengan keadaan putranya. Ia masih tak percaya dengan kabar yang didengarnya malam ini. Ia pun segera memesan tiket penerbangan untuk esok hari. Shina ingin bertemu putranya.


Keesokan harinya...


Nara bergegas mengenakan kardigan panjang dan celana dasar hitamnya. Ia menuruni anak tangga untuk membukakan pintu. Sesampainya di ruang tamu, ia mendapati seseorang berseragam polisi tengah berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi, dengan Tuan Nara Shimura?" tanya polisi itu.


"Ya, saya sendiri. Ada keperluan apa dengan saya?" tanya Nara penuh heran.

__ADS_1


"Saya dari Kepolisian Tokyo, saya diminta untuk membawa Anda ke kantor," kata seseorang yang ternyata polisi.


"Memangnya ada urusan apa, ya?" Nara semakin bingung.


"Baiknya Anda ikut saya sekarang. Kita bicarakan di kantor." Polisi itu meminta baik-baik.


"Baik, tunggu sebentar." Mau tak mau Nara pun memenuhi panggilan polisi itu.


Nara segera mengambil ponsel, dompet dan juga menutup pintu rumahnya. Ia akhirnya pergi menuju kantor Kepolisian Tokyo bersama polisi tersebut. Mobil polisi itupun keluar dari jalan gang rumah Nara. Saat mobil polisi keluar, Ken melihatnya dari jauh. Ken pun segera mengikuti mobil polisi itu.


"Ken?" Kenapa kita tidak ke rumah Nara?" Cherry kebingungan saat Ken melewati gang rumah Nara.


"Nara sedang tidak berada di rumah." Ken amat yakin.


"Hah?" Cherry pun bingung. Tak lama sebuah pesan diterima olehnya. "Astaga?!" Cherry tak percaya.


"Tolong hubungi yang lain dan juga manajer Hata. Kita harus mendampingi Nara dalam masalah ini," tutur Ken sambil terus melajukan mobilnya, mengikuti mobil polisi tersebut.


Ken ...?

__ADS_1


Cherry tak percaya jika Ken bisa mengetahui hal ini. Ia akhirnya menurut kepada Ken, lalu mengirim pesan kepada Sai dan juga Hata. Cherry mengabarkan tentang Nara yang dibawa ke kantor polisi.


Ken ternyata sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Sayangnya ia terlambat datang ke rumah Nara sehingga tidak bisa bertemu dengan polisi tersebut. Dan pagi ini ia akan menemani Nara menghadapi sebuah persoalan pelik. Ia kembali hadir sebagai seorang sahabat sejati untuk temannya, Nara Shimura.


__ADS_2