Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Telepon Rindu


__ADS_3

Satu minggu kemudian…


Hari ini adalah hari sabtu. Hari di mana para pekerja seharusnya berakhir pekan. Tapi, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi para pekerja di kantor redaksi majalah remaja Tokyo. Mereka harus tetap bekerja dan baru bisa pulang pada pukul dua siangnya.


Pagi ini Shena sedang menunggu kedatangan Ryuuto. Rencananya Ryuuto akan mengajak Shena berjalan-jalan. Sesuai dengan saran dari dokter, Shena harus merasa bahagia jika ingin penyakitnya cepat sembuh. Karena dengan bahagia imunitas tubuh meningkat dan lebih kebal dari berbagai macam penyakit.


Dua hari Shena harus dirawat di rumah sakit dan ia tidak bisa lepas dari obat. Hal itu tentu menjadi duka baginya. Untung saja ia masih mempunyai Hima yang selalu menguatkan. Kalau tidak, mungkin Shena akan depresi dan nekat bunuh diri.


Di Jepang, rata-rata penduduknya seorang pekerja keras. Waktu mereka juga dihabiskan untuk bekerja dan tidak sempat untuk bercengkrama apalagi bersantai ria. Sejak kecil mereka sudah dididik disiplin waktu dan budaya malu datang terlambat. Maka wajar saja jika negara itu bisa maju karena semua penduduknya amat disiplin dan malu melanggar aturan.


“Apakah gaun ini cocok untukku?”


Shena bercermin saat mengenakan gaun biru polos berdasar jatuh. Gaun itu dibelikan Ryuuto dan dititipkan kepada Hima. Ryuuto ingin Shena sekali-kali memakai pemberian darinya. Tak ayal, Shena pun menerima pemberian dari Ryuuto. Ia tidak sampai hati jika menolaknya.


“Cantik sekali, Shena. Gaunnya juga tidak terlalu pendek.”


Gaun sebatas lutut itu membuat penampilan Shena semakin anggun dan bersahaja. Hima pun membantu merias rambut Shena agar tampil beda dari biasanya.


“Aku buatkan simpul di tengah ya, agar terlihat seperti Cinderella,” kata Hima yang mulai merias rambut Shena.


“Kau bisa saja.” Shena tertawa kecil.

__ADS_1


Saat Hima mulai sibuk merias rambut Shena, tiba-tiba ponselnya berdering. Hima pun segera mengangkat telepon itu.


“Halo?” jawab Hima yang berhenti sejenak.


“Hima, ponsel Shena tidak aktif?” Ternyata yang menelpon adalah Nara.


Seketika Hima merasa cemas saat yang menelepon adalah Nara. Ia takut jika Ryuuto tiba-tiba datang dan Nara mengetahuinya.


“Oh, ponsel Shena sedang di charge. Ini Shena masih bersamaku. Kau mau bicara padanya?” tanya Hima menutupi kegugupannya.


Hima pun segera menyerahkan ponselnya kepada Shena sambil berbisik jika itu adalah telepon dari Nara. Ia memberi kode agar Shena tidak mengatakan jika akan pergi berjalan-jalan. Tentunya hal itu akan membuat Nara banyak bertanya dan membuat Hima pusing sendiri. Shena pun mengiyakannya.


“Sayang, ponselmu tidak aktif. Aku cemas sekali.” Nara yang sedang menunggu sarapan pagi menyempatkan diri menelepon Shena.


“Maaf, ponselku habis baterai. Nanti akan kunyalakan. Kau sedang di mana sekarang?” tanya Shena kepada Nara, sedang Hima melanjutkan merias rambut Shena.


“Aku sedang menunggu bus menuju kota selanjutnya. Kemungkinan lima hari lagi baru tiba di Tokyo. Kau ingin apa, Sayang?” Nara bertanya penuh kemesraan.


“Em …,” Sejenak Shena terdiam.


“Shena?” Nara pun menegurnya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin kau pulang, Nara. Aku tidak ingin apa-apa,” kata Shena lagi.


Hima memperhatikan Shena dari pantulan bayangan di cermin.


“Bersabarlah. Sebentar lagi aku akan kembali. Dan setelah kepulanganku, aku akan mengajakmu berjalan-jalan.” Nara begitu riangnya.


“He-em. Baiklah. Aku akan menunggumu,” kata Shena seraya tersenyum.


Ponsel pun diambil alih oleh Hima karena ia mendengar suara mobil datang. Ia takut jika itu adalah mobil Ryuuto. Ia lekas-lekas beralasan untuk mematikan telepon.


“Nara, aku akan pergi bekerja. Nanti lagi saja, ya. Aku terburu-buru.” Hima bicara cepat kepada Nara.


“Em, baiklah. Terima kasih, Hima. Aku titip Shena padamu.”


“Baik.”


Hima pun segera mematikan teleponnya. Dan ternyata benar saja jika Ryuuto lah yang datang. Pemuda itu mengetuk pintu dari luar.


Hah, untung saja. Jika Nara tahu akan banyak pertanyaan untukku.


Hima segera keluar dari kamar untuk membukakan pintu rumah. Ia terpaksa menyembunyikan kedatangan Ryuuto karena tidak ingin memunculkan masalah baru bagi Shena. Hima khawatir jika Nara salah paham dan membuat Shena bersedih. Sehingga mau tak mau ia menyembunyikan hal ini.

__ADS_1


__ADS_2