Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kalut


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, di rumah sakit...


"Sial! Aku kembali saja ke ruangan."


Rupanya Nara tidak menemukan dokter yang berjaga saat itu. Entah mengapa pikirannya menjadi semakin kalut. Ia kemudian kembali bergegas menemui Shena di ruangan, berusaha memeriksa keadaan Shena sendiri. Tetapi sesampainya di sana...


"Shena?!!" Ia terkejut saat mendapati Shena sudah tidak berada lagi di tempatnya.


"Ke mana dia?!" Nara bertambah panik. "Mungkinkah ... mungkinkah ...?"


Jantungnya berdegup kencang, hatinya gusar, pikirannya kalut bukan main. Di benaknya sudah terlintas hal-hal yang tidak mampu ia pikirkan.


"Ke mana yang lain, ada apa ini? Aargghh!"


Nara kesal sendiri. Ia kemudian ke luar ruangan lalu menuju UGD. Ia terpaksa mondar-mandir malam ini untuk mencari keberadaan Shena dan teman-temannya. Cukup lama ia mengelilingi rumah sakit. Sampai akhirnya ia melihat Hima yang sedang berjalan sendiri, tidak jauh dari tempatnya berada.


"Hima!"


Nara memanggil Hima dari kejauhan. Sontak Hima pun menoleh ke arah asal suara. Nara segera berlari cepat mendekati Hima.


"Hima, di mana Shena dan yang lain?" tanya Nara sambil mengguncang tubuh Hima.

__ADS_1


"Em, Nara." Hima terlihat panik.


"Hima, cepat katakan! Jangan membuatku khawatir!" ucap Nara lagi.


Hima terlihat takut melihat Nara yang di ambang amarahnya. Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada Nara.


"Sial! Mengapa bisa seperti itu? Dilarikan ke rumah sakit lain, tapi kenapa tidak memberi kabar kepadaku? Awas saja!"


Nara mengepalkan kedua tangannya karena kesal. Ia kemudian meminta Hima untuk mengantarkannya menuju rumah sakit, tempat di mana Shena sekarang berada.


Satu jam kemudian...


"Hima, apa-apaan ini? Ini tidak lucu, Hima!" Nara kebingungan bercampur kesal karena Hima membawanya pulang bukan ke rumah sakit.


Hima diam saja dan terus menarik Nara sampai tiba di depan kamar yang berada di lantai satu. Nara pun menduga-duga atas apa yang terjadi.


Mungkinkah Shena ...? Nara bertanya-tanya sendiri.


Sesampainya di depan pintu, Hima mengetuk tiga kali. Nara pun dipersilakan masuk terlebih dahulu. Karena penasaran dan berharap Shena ada di sana, Nara mengikuti permintaan Hima, ia masuk ke dalam kamar. Tapi, kamar itu begitu gelap. Dan yang membuat Nara kesal, Hima segera menguncinya dari luar.


"Hima, buka pintunya!"

__ADS_1


Nara mengetuk-ngetuk, meminta dibukakan pintu. Ia juga menggerak-gerakkan gagang pintu agar dapat terbuka. Entah mengapa malam ini terasa mencekam baginya. Kamar begitu gelap, lampu pun mati dan keadaan sekitar juga amat hening. Membuatnya berpikiran aneh-aneh. Namun, tiba-tiba terdengar suara lembut menyapanya.


"Nara ...."


Suara itu seperti suara yang ia kenal. Dalam pekatnya kamar, ia melihat seberkas bayangan di pojokan. Tubuhnya pun gemetar karena rasa takut yang menghantui. Tiba-tiba sesuatu pun mengagetkan dirinya.


"Kau mencariku?!" Sesosok jubah putih menampakkan diri tepat di depannya.


"Aaaaa!!!!" Nara pun berteriak. Ia terkejut dan juga takut.


"Ahahahaha..."


Tak lama terdengar gelak tawa di dalam kamar. Sebatang lilin pun dihidupkan. Dan kemudian...


"Selamat ulang tahun, Nara!" teriak Cherry, Ken, dan Sai bersamaan sambil memakai atribut ulang tahun.


"Ap-apa?!"


Nara yang baru saja terkejut, tiba-tiba merasa dikerjai oleh teman-temannya. Saat ia melihat lilin-lilin dihidupkan, barulah menyadari apa yang sebenarnya terjadi malam ini.


"Kalian!!!" Nara pun kesal sejadinya.

__ADS_1


__ADS_2