
Di kantor Sony Music Entertainment Jepang...
Menjelang siang Gabril sudah tiba di ruangan kakaknya, Michael. Ia pun menunggu kakaknya menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Tampak hari ini Gabril yang sabar menunggu. Hingga akhirnya Michael duduk dan mendekati sang adik yang sedang membaca surat kabar di sofa ruang tamunya.
“Kau tidak mendaftar perguruan tinggi? Bukannya sudah dibuka pendaftaran, ya?” Michael duduk di samping sang adik.
“Nanti saja, aku masih ingin bersantai dulu,” jawab Gabril lalu meletakkan surat kabar yang dibacanya.
“Hm, baiklah.” Michael lalu meneguk secangkir kopi yang sudah ada di atas meja.
“Kakak, aku tidak mengerti mengapa kau mengambil kesimpulan untuk mengeluarkan Nara dari D’Justice.” Gabril terus terang kepada kakaknya.
__ADS_1
Sontak Michael hampir tersedak kopinya. “Kau tahu dari mana?” tanya Michael kepada sang adik.
“Kakak, tidak sulit bagiku untuk mengetahui hal ini. Aku minta tolong batalkan keputusanmu itu. Nara amat dirugikan. Dia itu korban, Kak. Harusnya Kakak membela Nara, bukannya malah memutuskan kontrak sepihak terhadapnya.”
Sang adik hari ini tampak lebih bijaksana di mata kakaknya. Michael pun tersadar jika adiknya mampu berpikir lebih dewasa.
“Kita tidak mungkin mengambil risiko besar demi gitaris itu, Gabril. Ayah dari korban menuntut pihak manajemen untuk segera mengeluarkan Nara dari label rekaman. Andai saja dia orang biasa, pastinya kakak akan mempertahankan. Tapi, tuan Hisei bukanlah orang sembarangan. Dia pemilik majalah dewasa terbesar di kota ini.” Michael menjelaskan kepada adiknya.
"Mungkin jalan lain masih ada, tapi alangkah baiknya tidak berhubungan dengan pihak Sony Music. Aku tidak ingin ayah dan ibu sampai mendengar hal ini. Pastinya mereka akan mencemaskan keadaan perusahaan yang telah dibangun susah payah,” lanjut Michael.
“Astaga ....” Gabril pun merasa pusing.
__ADS_1
“Jika kau ingin Nara tetap di sini, itu adalah hal yang tidak mungkin, Adikku. Tapi jika dia di label lain, mungkin bisa saja terjadi. Saat ini kita tidak memungkinkan untuk membelanya. Lagipula pembatalan kontrak ini tidak terlalu merugikannya. Dia mendapat ganti rugi lima kali lipat dari pendapatan. Dan hal itu cukup untuk menunjang kehidupan Nara ke depannya.”
“Tapi, Kak. Tetap saja Nara kasihan. Dia ditimpa masalah bertubi-tubi di saat karirnya sedang menanjak seperti ini. Aku sebagai teman tidak rela membiarkannya jatuh. Apalagi jika masih bisa menolongnya.” Gabril merasa kesal.
“Begini, Adikku. Dalam dunia pekerjaan tidak ada rasa kasihan. Sekalipun pekerja itu mati, perusahaan akan tetap mencari gantinya. Tidak peduli dengan kinerja pekerja tersebut. Yang sudah ya sudah. Perusahaan akan tetap meraup keuntungan. Jadi, berpikirlah lebih matang. Jangan terlalu menggunakan perasaan dalam setiap kondisi. Karena hal itu hanya akan menyulitkan dirimu sendiri.” Michael menasehati adiknya.
Mendengar penjelasan sang kakak, tentu saja membuat Gabril kesal dan berputus asa. Ternyata ia pun tidak dapat menolong Nara dari pemutusan kontrak sepihak ini. Ia merasa kasihan terhadap seorang pemuda yang pernah berlaku baik padanya.
Nara, maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu lebih jauh. Karena hal ini pasti akan merambat ke masalah yang lain. Teruslah berjuang di sana.
Tidak ada yang bisa Gabril lakukan selain mendoakan Nara. Ia menyadari jika hanya doalah yang mampu menguatkan Nara. Dan ia berharap doanya bisa sampai kepada pemuda yang pernah memberinya tempat inap semalam, Nara Shimura.
__ADS_1