
Beberapa jam kemudian...
Shena kembali ke kantor redaksi untuk melaporkan hasil liputannya bersama band yang sedang naik daun ini. Sehingga ia tidak datang dan ikut serta menemani ke mana D'Justice pergi. Kebetulan para personil diliburkan karena sedang mempersiapkan diri untuk tur esok hari. Tentunya setelah mengisi acara musik di pagi hari, di salah satu stasiun televisi swasta Jepang.
Malam harinya, butiran salju mulai turun, cuaca pun terasa sangat dingin. Nara yang sedang bermain ponsel sambil merebahkan diri di atas kasur, tiba-tiba ditelepon dan diminta untuk segera menemui manajernya. Mau tak mau, Nara pun memenuhinya.
Tepat pukul sembilan malam, ia sudah tiba di parkiran apartemen Lusy. Terbalut sweter berbahan wol tebal, pemuda itu melangkahkan kakinya, menyusuri koridor apartemen, menuju apartemen Lusy. Beberapa saat kemudian, ia tiba di depan pintu apartemen.
Bel apartemen pun berbunyi. Tak lama kemudian, sang manajer membukakan pintu untuknya.
"Nara?" sapa Lusy saat melihat Nara datang.
"Nona Lusy. Aku datang memenuhi panggilan Anda," sahut Nara seraya tersenyum.
Lusy membalas senyuman itu. "Masuklah, pekerjaan kita masih banyak." Lusy meminta Nara agar segera masuk ke dalam apartemennya.
Apartemen Lusy memiliki warna yang dominan ungu. Mulai dari tirai, cat tembok, sofa, bahkan kitchen set juga di-setting berwarna ungu.
__ADS_1
"Nona Lusy, warna ini sungguh elegan sekali." Nara berucap takjub.
"Duduklah, Nara. Aku ambilkan berkas-berkasnya terlebih dahulu," sahut Lusy seraya mempersilakan Nara duduk.
Nara pun duduk di sofa yang berwarna ungu muda tersebut. Dan tanpa sengaja ia melihat sebingkai foto di atas meja. Ia pun seperti tahu siapa gerangan yang ada di dalam foto tersebut.
"Nona Lusy, apakah ini nona Rose?" tanya Nara sambil memegang bingkai fotonya.
Lusy pun datang membawakan beberapa berkas keperluan konser nanti. "Ya, Rose adalah adikku. Tepatnya dia adalah adik tiriku. Apa kau menyukainya?" tanya Lusy kepada Nara sambil menyerahkan berkasnya.
Nara bingung sendiri, ia mengalihkan pandangannya dari Lusy.
"Baiklah, kau baca terlebih dahulu. Besok pagi pihak Sony Music akan mempersiapkannya. Aku ingin mandi, melepas lelah setelah beradu argumen seharian."
Lusy lekas-lekas meninggalkan Nara. Nara pun segera membaca jadwal tur band mereka dan apa saja yang harus dipersiapkan untuk keperluan konser nanti. Tapi tiba-tiba...
"Aaaa!!"
__ADS_1
Terdengar suara jeritan dari dalam kamar mandi, sesaat setelah Lusy masuk ke dalamnya. Segera saja Nara berlari ke arah pintu kamar mandi.
"Nona Lusy, apa Anda baik-baik saja?" tanya Nara sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dari luar.
"Nara! Tolong aku!"
Lusy berteriak histeris. Dengan segera Nara mendobrak pintu kamar mandinya. Dan kemudian terlihatlah pemandangan yang luar biasa di hadapan kedua matanya. Lusy hanya terbalut bikini berwarna ungu. Ia tersudut di kamar mandi saat berusaha menghindari kecoa yang mendekatinya.
"Nara, tolong ...."
Seketika Lusy lemas dan terkulai lemah. Ia seperti akan jatuh. Nara pun dengan sigap berlari ke arah sudut kamar mandi lalu menangkap tubuh Lusy.
"Nona Lusy, aku akan membawa Anda keluar dari sini." Nara memapah Lusy.
"Nara, usir saja kecoa itu!" pinta Lusy yang terlihat lemas.
Nara segera menuruti permintaan Lusy, mengusir kecoa tersebut. Ia lalu melepaskan pegangannya. Namun ternyata, Lusy sedang berakting. Ia malah mendorong tubuh Nara ke dalam bathtub yang telah berisikan air hangat. Nara pun terjatuh, masuk ke dalam bathtub dan tertimpa tubuhnya.
__ADS_1