
"Aaaaaa!!!" Ia terkejut melihat penampakan pria sedang menggenggam sebatang cokelat di tangannya.
"Ssstt." Pemuda itu segera menutup mulutnya agar tidak berteriak.
"Mmm...mmmm..."
Ia menunjuk-nunjuk tangan si pemuda agar melepaskan tangan dari mulutnya. Pemuda itupun tersadarkan lalu segera melepaskan tangannya.
"Hah...hah..."
Gadis itu sempat kesulitan bernapas. Napasnya terengah-engah karena kekurangan pasokan oksigen.
"Kau sudah gila ya, Ryuuto. Kau—"
"Sssttt. Pelankan suaramu, Hima. Nanti Shena mendengarnya." Ryuuto memberikan kode agar gadis itu mengecilkan volume suaranya.
Gadis itu adalah Hima. Teman kerja Shena di kantor redaksi milik ayah Ryuuto. Namun, Hima setahun lebih dulu bekerja dibanding Shena sehingga ia lebih kenal dekat dengan anak sang pemilik kantor redaksi ini.
"Ada apa sih kau ini?!" Hima kesal kepada Ryuuto.
__ADS_1
"Aku ... ingin meminta tolong padamu," tukas Ryuuto ragu.
"Hah, ada-ada saja." Hima tak habis pikir dengan ulah Ryuuto yang hampir membahayakan jiwanya.
Hima adalah seorang gadis bermata cokelat dengan rambut yang selalu terkenang dua. Tubuhnya sangat proporsional, hampir sama dengan Shena. Namun, perawakan Hima lebih berani jika dibandingkan dengan Shena. Ia selalu saja ceplas-ceplos dan tidak menyukai basa-basi. Walaupun terkadang, dirinya itu sangat baperan.
Setiap bekerja, ia selalu dipasangkan dengan Shena, karena Shena mampu mengisi kekurangan Hima yang gupek dan kadang sibuk sendiri. Sedang Shena berperawakan sangat tenang dan keibuan.
"Maaf, Hima." Ryuuto menyesal.
"Ya, ya, baiklah." Hima akhirnya memaafkan walau masih kesal. "Hei, aku heran. Mengapa setiap Shena masuk malam kau masih ada di sini. Jam kerjamu kan sudah habis. Sana pulang dan beristirahat!"
"Hima, aku sedang memperhatikan Shena. Kau diamlah, kau pasti ingin buang air kecil, kan? Sudah sana pergi!" Ryuuto bergantian menyuruh Hima pergi.
"Kau ini, aarghh!"
Gadis itu merasa kesal mendengar ucapan Ryuuto. Bagai habis manis sepah dibuang, itulah yang Hima rasakan saat ini. Walaupun nyatanya, ia hanya berteman saja dengan Ryuuto dan tidak memiliki perasaan apapun.
"Hei, Pecundang! Jangan pikir karena dirimu adalah anak dari pemilik rumah penerbit ini, kau bisa jadi seenaknya terhadapku!" ancam Hima kepada Ryuuto.
__ADS_1
"Ehh, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya—“ Ryuuto memberikan sebatang cokelat kepada Hima.
"Apa ini?" Hima terdiam saat melihat sebatang cokelat yang diberikan Ryuuto kepadanya.
"Kau jangan GR dulu, Hima. Cokelat ini kutitipkan padamu untuk Shena. Tolong, ya?" pinta Ryuuto lalu kemudian berlalu pergi.
"Hei, kau!"
Hima tampak kesal karena ditinggal begitu saja oleh Ryuuto. Namun, Ryuuto terus berlalu meninggalkan Hima sambil mengangkat tangan kanannya, pertanda sampai jumpa.
"Dasar pecundang!" gerutu Hima seraya memegang sebatang cokelat yang dititipkan kepadanya.
"Aku selalu saja menjadi jembatan penyeberangan untuk mereka."
Ia menggerutu sendiri sambil terus berjalan menuju kamar mandi kantor. Sedang Ryuuto sendiri kembali menguntit Shena. Ia bergegas menuju ruangan yang ada di balik ruang kerja Shena.
Shena ... aku harap kau segera menyadari perasaanku ini.
Entah mengapa Ryuuto tertawa-tawa sendiri sembari duduk di depan meja kerja orang lain. Ia diam-diam memperhatikan Shena tanpa Shena ketahui. Baginya Shena adalah seorang gadis yang patut untuk diperjuangkan. Pagi hingga sorenya mengais ilmu, malamnya bekerja paruh waktu. Dan Ryuuto amat mengagumi semangat juang yang Shena miliki.
__ADS_1