
Malam harinya...
Langit sudah tampak gelap. Jalanan di kota Tokyo pun mulai ramai, dipenuhi para penggunanya. Mereka terlihat lalu-lalang di sekitaran trotoar dengan berjalan kaki. Namun, juga ada yang mengendarai mobil atau motornya.
Malam ini Nara mengantarkan ibunya menuju bandara internasional Tokyo. Dan kini keduanya tengah berbincang mengenai ajakan Shina yang ingin Nara ikut bersamanya ke Hokkaido.
"Aku pikirkan dulu, Bu. Aku masih ingin di Tokyo." Nara menolak ajakan ibunya.
"Baiklah. Ibu sudah berikan alamat lengkapnya. Jika nanti ingin ke sana, kabari ibu dari jauh hari." Sang ibu berpesan.
"He-em, baiklah." Nara mengangguk.
Nara bukannya tidak ingin ikut ibunya ke Hokkaido, melainkan ia masih ingin mencoba meraih mimpinya. Impian yang ia idam-idamkan sejak dulu, menjadi seorang musisi ternama di negerinya.
Nara pun terus melajukan mobilnya menuju bandara Tokyo. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di halaman parkir bandara. Nara pun segera membantu ibunya membawa koper.
"Ibu, jangan lupa kabari aku jika sudah sampai di sana." Nara meminta.
"Iya, tenang saja." Sang ibu mengusap pipi anaknya.
__ADS_1
Shina pun memeluk putra semata wayangnya. Ibu muda bermantel biru itu tampak berjalan meninggalkan Nara dengan membawa koper dorongnya. Nara pun melepas kepergian ibunya dengan melambaikan tangan. Lalu akhirnya, sang ibu masuk ke dalam area pengecekan yang mana Nara tidak lagi bisa melihatnya.
Semoga perjalanan ibu lancar malam ini.
Pemuda bersweter krim itu membalikkan badan lalu menuju halaman parkir bandara. Ia berniat segera kembali ke rumahnya. Tanpa terasa jam di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Nara pun segera masuk ke dalam mobilnya.
Sebelum melajukan mobilnya, Nara mencoba untuk mengecek ponselnya. Tanpa sengaja ia melihat status Gabril yang sedang dalam perjalanan menuju bandara.
"Statusnya tiga puluh menit yang lalu. Apakah dia sudah di dalam pesawat sekarang?" tanya Nara sendiri.
Ia kemudian mencoba mengirim pesan ke Gabril. Dan ternyata, pesannya ceklist satu.
Nara kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia juga menghidupkan mesin mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya keluar dari bandara.
Beberapa saat kemudian...
Nara mengendarai mobil melewati terowongan bawah tanah. Namun, saat melihat kaca spion mobilnya, ia mendapati sebuah mobil yang seperti membuntutinya. Mobil hitam itu memberi lampu jarak jauh dengan cepat agar Nara memberikan jalan.
"Siapa pengendara mobil itu?"
__ADS_1
Nara pun berjalan di jalur lambat agar mobil hitam itu bisa melaju lebih dulu. Tapi anehnya, mobil itu masih memberi lampu jarak jauh padanya. Tak ayal Nara pun kesal.
Siapa sih?!
Nara pun mulai mempercepat laju mobilnya. Tapi semakin cepat laju mobilnya, semakin cepat pula mobil di belakang mengikutinya. Tiba-tiba saja pikiran buruk menyelimutinya.
Dia ingin adu balap denganku di rute sepi seperti ini?
Karena tidak ingin mencari masalah, Nara segera keluar dari terowongan bawah tanah lalu mengambil jalur jembatan layang. Tapi, lagi-lagi mobil itu masih mengikutinya.
Astaga, benar-benar mengajakku berkelahi.
Akhirnya pikiran Nara mulai tidak fokus saat mobil itu terus membuntutinya. Tanpa sadar jika dari lawan arah ada sebuah truk besar yang berbelok ke arahnya. Nara pun kaget melihat truk itu. Ia segera membanting setir mobil untuk menghindari truk. Namun...
"AAAAAAAA!!!"
Mobil yang dikendarai Nara terpental ke depan. Berguling-guling bersama Nara di dalamnya.
.........
__ADS_1
...TAMAT...