Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Maaf


__ADS_3

Kejadian itu sudah berlangsung sangat lama, tapi Rie masih mengingatnya dengan jelas. Ia kemudian mengambil ponsel lalu membuka sebuah foto kenangan lama bersama ibunya.


"Ibu, ternyata benar hukum karma itu berlaku. Sekarang aku merasakan apa yang Shena rasakan. Begitu pedih, di saat melihat kekasih sendiri tidur bersama gadis lain."


Ibu ….


Rie memeluk ponselnya, mendekapnya sambil berurai air mata. Ia tidak menyangka jika semua ini akan ia rasakan.


Apa yang ditanam itulah yang akan dituai, Rie menanam kepiluan untuk Shena dan akhirnya ia sendiri mengalami kepiluan yang sama. Bahkan melebihi dari apa yang Shena rasakan.


Ya, Rie telah merebut Nara dari Shena. Merebut paksa dengan akal liciknya tanpa diketahui oleh Nara ataupun Shena sendiri. Rie berniat untuk membuat Shena terluka dan merasakan penderitaan, sama seperti yang telah ia rasakan dahulu. Ia sama sekali tidak percaya jika keburukan itu akan menimpa kembali kepadanya. Ia terus saja merebut apa yang Shena punya, termasuk cintanya.


"Nara, kau begitu tega melakukan hal ini padaku."


Kristal bening itu terus saja berjatuhan tanpa henti. Luka yang kini Rie rasakan, benar-benar mencabik-cabik hatinya.


08.00 am…


"Nara, aku minta maaf. Aku tahu aku salah."

__ADS_1


Gabril tertunduk di hadapan Nara. Ia merasa bersalah karena peristiwa yang terjadi di kamar pemuda bermata biru ini.


"Sudahlah, semua sudah terjadi."


Nara menenangkan Gabril sambil menutup pintu rumahnya. Ia tengah bersiap menuju kampus dengan memakai kaus kuning berlapis jaket hitam, jeans dan sepatu sport birunya. Terlihat dirinya membawa tas punggung hitam yang disampirkan di pundak kanan.


"Nara, aku ...." Gabril merasa sangat tidak enak hati dengan kejadian yang baru saja mereka alami.


"Sudah, tak apa." Nara mengusap-ngusap kepala Gabril, ia berusaha bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi.


"Hem." Gabril kemudian tersenyum senang karena Nara berbaik hati kepadanya.


"Nara, aku berterima kasih karena sudah memberiku tempat inap. Sebagai balasannya, aku tinggalkan semua barang belanjaanku untukmu," ucapnya sambil berjalan keluar halaman rumah.


"Tak apa," balas Gabril yang tampak malu-malu.


Keduanya terlihat sangat serasi. Tinggi tubuh Gabril yang hanya seketiak Nara, membuat sang gadis merasa terlindungi. Terlebih postur tubuh Nara yang atletis, sangat menjadi idamannya.


Tak lama kemudian, mereka tiba di halte bus. Selang beberapa menit, sebuah mobil Lexus hitam berhenti tepat di depan keduanya.

__ADS_1


"Nara, aku duluan, ya. Sekali lagi terima kasih."


Gabril membungkukkan badannya ke Nara, sangat sopan sekali. Membuat Nara merasa bingung akan sosok gadis yang telah ia beri tempat inap semalam. Gabril seperti mempunyai dua sisi yang berbeda, dan hal itu amat mengejutkan Nara.


Siapa sebenarnya gadis ini? Nara penasaran.


"Nara." Gabril menyapa lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nara.


"Mmh?!" Sebuah kecupan mesra ia berikan untuk Nara tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Gabril?!" Nara pun terkejut dengan sikap Gabril yang sangat berani.


"Sampai jumpa, Nara. Daaah!"


Gabril lalu meninggalkan Nara setelah melepas ciumannya. Ia segera masuk ke dalam mobil Lexus berwarna hitam.


"Gabril ...."


Nara terkesima atas hal yang baru saja terjadi. Ia masih memandangi kepergian Gabril dari hadapannya. Gabril sendiri terlihat melambaikan tangannya ke arah Nara sambil tersenyum. Dan tak lama kemudian, ia pun menutup kaca mobilnya.

__ADS_1


"Gabril, aku akan mengingatmu." Nara tersenyum kecil.


Beberapa menit kemudian, sebuah bus menghampirinya. Nara pun segera menaiki bus yang menuju ke arah kampusnya itu. Kebetulan ia mendapat jam kuliah pagi di hari ini.


__ADS_2