Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Berharap Kau Terbangun


__ADS_3

Hari kedua...


Nara terlihat lebih baik dari hari sebelumnya. Ia datang memasuki ruangan tempat Shena dirawat sambil membawa sesuatu.


Nara masih harus menjalani rawat jalan di rumah sakit, sehingga selama tiga hari ke depan ia diharuskan datang setiap hari untuk mengecek kondisi tubuhnya. Tapi hari itu ia datang sangat pagi, pukul enam pagi ia telah tiba di ruangan tempat Shena dirawat.


"Nara?"Cherry terbangun saat melihat Nara datang.


"Cher, pulanglah. Biar aku yang menjaga Shena," ucapnya saat melihat Cherry terbangun.


Cherry tidur di sofa sudut berwarna putih yang ada di dalam ruangan. Shena sendiri masih terbaring di atas kasur rumah sakit yang tidak jauh dari sofa tersebut.


Pembaringan Shena dekat dengan jendela ruangan yang menghadap ke arah timur. Sehingga saat matahari terbit, ruangan tempat Shena dirawat terlihat terang benderang. Di dalam ruangan itupun terdapat kamar mandi yang cukup luas, dapur kecil serta lemari pakaian setinggi satu meter.


Shena dijaga bergantian oleh Hima dan Cherry. Rencananya Hana juga akan datang pagi ini untuk menemani Shena.

__ADS_1


"Kau sudah lebih baik, Nara?" tanya Cherry sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.


"Kau tidak perlu mencemaskan keadaanku, Cher. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Terima kasih." Nara menepuk bahu Cherry.


Cherry tersenyum mendengarnya. Baru kali ini ia merasakan sisi hangat dari Nara selama menjalin persahabatan dengannya.


"Em, baiklah. Aku titip Shena, Nara." Cherry bergegas meninggalkan ruangan.


Nara kemudian mengantar Cherry sampai di depan pintu ruangan. Setelahnya ia kembali masuk lalu menjumpai Shena.


Nara menyadari betapa pentingnya peran sahabat dalam kehidupannya. Ia juga menyadari jika semua ini karena dukungan dari Ken yang membantunya tanpa lelah.


"Shena ...." Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dibawa.


"Lihatlah, aku bawakan ini untukmu." Nara menunjukkan seikat bunga kepada Shena.

__ADS_1


"Bagaimana Shena? Cantik, bukan? Bunga matahari ini baru saja dipetik beberapa menit yang lalu. Dan aku adalah orang pertama yang membelinya."


Nara berkata sendiri sambil tersenyum kepada Shena yang terbaring. Ia sadar jika Shena belum sadar dari komanya, tapi ia berusaha untuk menghibur hatinya sendiri. Ia terus saja bicara walau Shena tidak dapat menjawabnya.


"Shena, tujuh tangkai bunga matahari ini akan kuletakkan di pot, ya?"


Nara kemudian memasukkan tujuh tangkai bunga matahari ke dalam pot bunga yang ia bawa. Lalu meletakkannya di atas meja kecil yang berada di dekat jendela.


"Nah, Shena. Aku buka tirainya agar bunga ini dapat merasakan hangatnya mentari pagi."


Nara kemudian membuka tirai jendela ruangan. Dan terlihatlah pemandangan indah berupa butiran salju di sela-sela dedaunan hijau taman. Begitu indah saat terkena cahaya mentari pagi.


Nara berusaha bahagia walaupun ia sudah seperti orang gila saat ini. Ia terus saja mengajak Shena berbicara dalam heningnya nuansa alam pagi hari. Ia duduk di sisi kanan Shena lalu mengeluarkan gitar dari dalam sarungnya. Ia sengaja membawa gitar akustik untuk menghibur Shena yang belum juga tersadarkan dari komanya.


Aku harap lagu ini dapat membangunkanmu, Shena. Aku merindukanmu ....

__ADS_1


Nara berucap dalam hati lalu mulai memetik gitarnya dengan pelan. Sebuah lagu pun ia senandungkan untuk Shena.


__ADS_2